Kamis, 15 Mei 2008

BAB I

Wayang: Kesenian Adiluhung[1]

A. Wayang: Simbol Kehidupan Manusia

Tidak ada salahnya bila kita mengadakan investigasi terhadap masa lalu dengan memfokuskan pada proses penyebaran pemikiran khas jawa melalui media seni wayang, dan terjadinya akulturasi serta asimilasi ketika tersusupi oleh budaya asing yang lebih besar semisal budaya yang dibawa islam. Dan dari sini setidaknya, kita sedikit banyak akan mengetahui seberapa besar islam mendominasi pola berfikir masyarakat jawa yang sesungguhnya merupakan masyarakat berkepercayaan animisme dan dinamisme.

Untuk mengenal secara mendalam tentang masyarakat jawa, kita bisa melakukannya lewat kesenian wayang. Sebab diakui atau tidak, wayang merupakan unsur penting yang tidak boleh hilang dari masyarakat jawa. Ia simbol perilaku kehidupan manusia jawa, ia merupakan miniatur dari dunia jawa dan dunia kejawen yang seringkali dalam mengkaji suatu kebenaran dilakukan melalui rasio dan indra batin.[2] Di dalam wayang terdapat penjelasan seputar tingkatan kehidupan manusia yaitu nista, madya, dan utama, agar bisa menjadi contoh yang baik.[3]

Selain pengakuan dari masyarakat sekitar jawa, masyarakat asingpun mengakui akan keberadaan kesenian wayang sebagai unsur penting dalam masyarakat jawa. Anderson seorang sarjana Barat misalnya, mengakui bahwa wayang merupakan ‘compelling religius mythology’, yang menyatukan masyarakat jawa secara menyeluruh, baik secara horizontal maupun vertikal.[4] Claire Holt yang juga merupakan seorang sarjana barat, mengatakan bahwa wayang melambangkan masyarakat jawa yang merupakan ‘suatu dunia stabil berdasarkan konflik (a stable world based on conflict).[5]

Menurut Bambang Murtiyoso seorang pengamat wayang dari STSI Solo, bahwa Seorang pakar sinematografi pernah berkata,”Karya animasi pertama di dunia sebenarnya diadopsi dari bentuk Wayang Kulit Purwa.”Ia merupakan simbol klasik kehidupan masyarakat jawa yang kurang begitu dapat ditangkap oleh generasi bangsa.

Ward Keeler mengaitkan aspek-aspek pentas wayang purwa dengan konsepsi jati diri orang jawa, sebagai direfleksikan dalam kehidupan sosial dan dalam kedudukan relatif sosial. Pentas wayang adalah refleksi simbolis hubungan-hubungan sosial horisontal dan vertikal. Dalam konteks hubungan horisontal, pentas wayang ini menyiratkan tata nilai yang menunjukkan upaya-upaya untuk mencapai keserasian hidup. Keadaan ideal yang wajib dipertahankan itu berupa keseimbangan tata tertib sosial yang digambarkan sebagai suatu masyarakat yang tentram, makmur, aman, dan adil. Meski demikian, dalam pentas pewayangan yang menghadirkan epos Bharatayuda Jayabinangun terdapat karakterisasi dan simbolisasi yang saling berlawanan yaitu Pandawa (Sebagai simbol protagonis, al-Haq atau kebaikan), dan Kurawa (sebagai simbol antagonis, al-Bhatil atau kejahatan). Adanya epos utama ini menunjukkan keadaan hidup manusia sebenarnya yang selalu diwarnai oleh kebaikan dan kejahatan.[6]

Kesenian wayang bukan lagi merupakan kesenian yang asing di kalangan kita khususnya masyarakat jawa dan umumnya masyarakat Indoensia. Ketika membicarakan wayang, berarti kita membicarakan aspek-aspek terdalam darinya yang meliputi aspek seni bahasa, seni rupa, seni drama, seni musik, seni tari, sampai dengan aspek filosofinya. Karena itu mengapa orang mengatakan bahwa wayang merupakan kesenian adiluhung.[7]

Menurut Dr. Abdullah, di tilik dari sudut pandang kesenian, terdapat lima cabang seni yang terkait dengan wayang; seni widya (filsafat dan pendidikan), seni drama (pentas dan karawitan), seni gatra (pahat dan lukisan), seni ripta (sanggit an kesusastraan), dan seni cipta ( konsepsi dan ciptaan baru).

Dilihat dari aspek seni bahasa misalnya, dalam memainkan wayang perlu menguasai bermacam-macam tingkat tutur yang cocok bagi status setiap tokoh. Sebab bila tidak menguasai aspek ini, sudah dipastikan permainan wayang akan terlihat jelek dan tidak mampu memikat penonton. Karena itu dhalang adalah seorang yang mampu menggambarkan semua keindahan yang tercipta dengan kata-kata yang penuh perasaan, yang mampu memikat penonton, dan sarat dengan pesan moral.[8]

Dilihat dari apek seni rupa, membuat wayang bukanlah perkara mudah. Ia merupakan produk kecermatan tak terhingga serta mampu memancarkan tingkat kecermatan dan ketelitian sang pembuat. Karena itu seorang pengrajin wayang harus mampu menghadirkan perasaan terdalamnya. Selain itu juga diperlukan ketelitian, kehati-hatian, dan memakan waktu cukup lama.

Dilihat dari seni drama, seorang dhalang harus mampu membawakan suatu lakon dengan baik dan menarik. Pada adegan-adegan peperangan misalnya, ia harus memiliki kemampuan sabetan.[9] Ia harus mampu memegang wayang pada setiap tangannya dan membuatnya mengancam untuk berkelahi, menusuk keris, atau melepaskan anak panah. Ia juga harus mampu memainkan adegan-adegan sesuai dengan aslinya. Misalnya adegan wayang yang tengah gembira, maka sang dhalang juga harus mampu menghadirkan perasaan gembira. Begitu pula ketika dituntut untuk menghadirkan adegan-adegan sedih-sedih, seorang dhalang juga harus mampu untuk menghadirkan suasana yang sedih-sedih. Sehingga penonton mampu terbawa dan menghayati setiap lakon yang dimainkan.[10]

Menurut Dr. Seno Sastroamidjojo dalam bukunya Renungan Tentang Pertunjukan Wayang Kulit (1964), seorang dhalang dikatakan mahir dan cakap dalam mendhalang apabila ia menguasai beberapa hal:

  1. Menguasai antawacana, maksudnya dhalang harus mampu menyuarakan masing-masing tokoh dalam pewayangan secara khas dan khusus, kemudian mendialogkan dalam setiap adegannya dengan baik agar pagelarannya menjadi hidup. Idealnya dalam setiap pentas pewayangan, seorang dhalang harus bisa menirukan sekitar dua ratus karakter tokoh-tokoh pewayangan. Dari dua ratus karakter tersebut seorang dhalang juga harus pandai membedakan mana suara wayang yang sedang susah, gembira, ataupun marah.
  2. Mampu renggep, maksudnya dhalang dituntut untuk membuat penonton gembiradan tidak bosan. Karena itu dalam setiap pementasan wayang, dhalang dan panitia penyelenggaraan dituntut untuk menghiasi dan melengkapi panggung pertunjukan dengan pernak-pernik dan penataan panggung yang menarik. Selain itu seorang dhalang dituntut pula untuk membawakan cerita dengan baik, selaras, harmonis, dan kompak sehingga pementasan wayang menjadi hidup dan bergairah.
  3. Memiliki enges, maksudnya dhalang harus mampu “menyihir” penonton sehingga mereka terbawa sampai kepada perasaannya. Misalnya perasaan sakit, sedih, gembira, dan sebagainya.
  4. Mampu tutug, maksudnya dhalang harus mampu menutugkan atau menuntaskan dialog yang terjadi antar wayang.
  5. Memiliki kemampuan sabet, maksudnya dhalang dituntut untuk mampu menggerakkan wayang. Tentunya maksud menggerakkan di sini tidak dengan asal menggerakkan, melainkan dengan teknik-teknik tertentu sehingga membuat gerak wayang seperti gerak manusia yang hidup.
  6. Paham kawi-radya, maksudnya dhalang harus pandai menceritakan jalannya suatu lakon. Dhalang tidak boleh menghilangkan maksud ataupun pesan yang hendak disampaikan dalam pementasan.
  7. Paham parama-kawi, maksudnya dhalang dituntut untuk mahir dalam menggunakan bahasa kawi (jawa kuno).
  8. Menguasai amardi basa, maksudnya seorang dhalang harus menguasai penggunaan bahasa yang lazim dipakai oleh setiap tokoh wayang. Misalnya tata cara berbahasa di dalam kraton, tata cara berbahasa Panakawan dengan bendaranya, dan sebagainya.
  9. Paham parama sastra, maksudnya dhalang harus benar-benar menguasai sastra jawa kuno dan modern.
  10. Mampu awicarita, maksudnya dhalang harus menguasai cerita yang akan dipentaskannya dengan gamblang.
  11. Bisa amardawa lagu, maksudnya dhalang harus menguasai irama dalam suluk (lagu) dan syairnya.[11]

Dilihat dari seni widya, jelas bahwa wayang memiliki nilai-nilai moral pedagogis yang sangat penting bagi pembinaan moral spiritual manusia. Seni pewayangan sebagai sebuah pertunjukan merupakan ungkapan dan peragaan pengalaman religius yang merangkum bahwa wayang dan pewayangan mengandung filsafat yang dalam dan dapat memberi peluang untuk melakukan filsafati dan mistis sekaligus. Dalam pementasannya, penonton seringkali memahami bahwa nilai kebenaran dan kesalahan tidak ada yang mutlak. Karena itu masyarakat yang seringkali disuguhi pentas pewayangan cenderung menjadi satu bentuk masyarakat yang toleran dan pandai menghayati suatu hal.[12]

Wayang[13]selain dikenal sebagai sebuah boneka yang terbuat dari kulit dan memiliki tangkai, serta dipahat pipih dan diberi warna khas, juga dikenal sebagai salah satu bentuk seni budaya klasik tradisional masyarakat jawa yang mampu menyajikan tontonan menarik sekaligus tuntunan berharga. Wayang merupakan kesenian adiluhung yang di dalamnya banyak dijumpai adanya pesan-pesan moral luhur yang disampaikan oleh dalang (sebagai orang yang memainkan wayang) kepada masyarakat umum. Dan hal ini memang dapat dimaklumi, sebab pada awal kemunculannya, wayang memang digunakan sebagai media pembawa pesan, pemberi pesan, dan penyebar ajaran-ajaran agama melalui hiburan.

Sebetulnya terdapat banyak jenis wayang di dunia ini. Bahkan ia selalu tumbuh berkembang seiring dengan perkembangan pemikiran masyarakat dan dimanfaatkan oleh masyarakat itu sebagai renungan, pedoman, dan bahkan ideologi hidup mereka sampai kepada media pengajaran ideologi mereka kepada masyarakat luas.

Menurut para ahli, wayang yang tumbuh dan berkembang di Indonesia banyak jenisnya.[14] Penamaan dan penyebutan wayang sesuai dengan latar belakang keberadaan serta referensi wayang tersebut, seperti penamaan wayang berdasar pada sumber cerita, bahan boneka, daerah asal dan penyebaran, fungsinya, dan unsur yang dominan dalam pertunjukan wayang. Kadangkala penamaan dan penyebutan tersebut menggunakan dua kriteria atau lebih. Misalnya wayang kulit purwa (bahan boneka terbuat dari kulit dan mengambil kisah dari zaman purwa), wayang golek Sunda (bahan boneka terbuat dari kayu dan berasal dari daerah berkebudayaan Sunda), dan sebagainya. Jenis wayang lainnya, seperti: wayang kancil[15], wayang suluh[16], wayang krucil atau wayang klithik[17], wayang madya[18], wayang golek menak[19], wayang sadat[20], wayang wahyu[21], wayang parwa[22], wayang Banjar[23], dan wayang Sasak[24].

Wayang merupakan salah satu kesenian yang menyatu dalam kehidupan masyarakat jawa. Sehingga wajar bila sebagian orang menganggap bahwa wayang merupakan ensiklopedi kehidupan. Dan dalam penyampaiannya, kesenian wayang mempunyai karakteristik tersendiri yang berbeda dengan kesenian-kesenian lainnya.[25]

Seringkali, ajaran-ajaran yang hendak disampaikan dalam kesenian wayang kulit dikemas dalam bentuk pasemon, simbol atau perlambang, sehingga tentunya untuk mendapatkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya diperlukan penghayatan secara mendalam.[26] Nilai-nilai ataupun ajaran-ajaran yang disampaikannya itu sesuai dengan sosiokultural, kepribadian, dan pemikiran khas masyarakat jawa sebagai sebuah masyarakat yang pertama kali menciptakan kesenian wayang tersebut. Hal ini sudah menjadi kewajaran dalam masyarakat jawa, sebab dalam setiap kali memahami filsafat, mereka memberikan suatu pengertian bahwa berfilsafat adalah berarti cinta kesempurnaan (ngudi kasampurnaan) bukan semata-mata cinta kearifan, love of wisdom, sehingga untuk menyampaikan suatu makna atau ajaran, seringkali cara penyampaiannya dengan menggunakan suatu simbol tertentu yang penuh penjiwaan, cipta, dan rasa yang tinggi .[27]

Menurut M. Mukti S. Kar dalam artikelnya berjudul Dewi Kunthi, Konteks Simbol Filosofis Budaya Jawa, bahwa setiap cerita dalam pewayangan pada umumnya memakai pendekatan yang tidak hanya parsial tetapi holistik dengan selalu mengingat bahwa budaya jawa itu penuh dengan simbol-simbol filosofis. Dan simbol-simbol yang ada mencerminkan perseteruan antara tokoh Protagonis dengan Antagonis. Di bawah ini adalah merupakan beberapa tokoh pewayangan yang merupakan simbol kebenaran dan kejahatan:

1. Yudhistira

Merupakan kakak tertua dari pandawa. Ia merupakan anak tertua dari Prabu Pandhu Dewanata dengan Dewi Kunthi. Dalam silsilahnya, ia satu ibu dengan Bratasena dan Arjuna. Sedangkan Nakula dan Sadewa merupakan saudara satu bapak tetapi lain ibu. Dan lima bersaudara ini dinamakan pandawa.

Nama lain dari Yudhistira adalah Puntadewa, Darmakusuma, Darmaputra, Dwijakangka. Sebenarnya ia merupakan putra dari Dewa Darma, sehingga dia juga dinamakan Darmaputra. Mengenai hal ini, diceritakan bahwa suatu hari, dengan kesaktiannya berupa Aji Adhityaherdaya, Pandhu meminta seorang anak kepada Dewa. Yaitu seorang anak yang jujur, sabar, bijaksana, dan adil. Sang Dewapun memperkenankan permintaan Pandhu. Kemudian turunlah Bhatara Darma dan ia menganugerahi seorang bayi kepada Dewi Kunthi yang kemudian diberi nama Yudhistira.

Yudhistira mempunyai pusaka jamus kalimasada (yang merupakan pemberian bathara Darma), Tumbak Tunggulnaga, dan Tumbak Kyai Karawelang.

Diceritakan, suatu hari Yudhistira dan saudara-saudaranya Pandawa, ditantang bermain dadu oleh Sengkuni. Karena kelicikan dari Sengkuni, Yudhistira kalah. Sehingga Pandawa harus dihukum dengan hukuman dibuang ke hutan selama tiga belas tahun. Dalam masa hukumannya itu, mereka tidak boleh berjumpa apalagi terlihat oleh Kurawa. Sebab bila hal itu terjadi, maka hukuman mereka akan ditambah selama tiga belas tahun lagi. Sehingga dalam masa hukuman, Pandawa selalu menyamar dan berganti nama. Yudhistira sendiripun berganti menjadi Dwijakangka.

Dalam lakon wayang Babad Wanamarta diceritakan, bahwa dalam masa hukumannya itu, pandawa mampu mendirikan sebuah kerajaan kecil bernama Indraprastha. Indraprastha kemudian juga hendak diambil alih secara paksa oleh para Kurawa. Dalam pewayangan diceritakan bahwa kejadian ini merupakan awal dari terjadinya perang Bharatayuda.

Selama hidupnya, Yudhistira hanya berperang sebanyak satu kali yaitu ketika berperang melawan Prabu Salya. Diceritakan dalam pewayangan bahwa menurut Kresna (pengayom Pandawa) tidak ada yang mampu untuk mengalahkan Salya kecuali Yudhistira. Sebab menurut hematnya, Salya hanya bisa dibunuh oleh ksatria yang berdarah putih. Kemudian setelah didesak, akhirnya Yudhistira bersedia untuk maju melawan Salya, dan Salyapun dapat dikalahkan.

Diceritakan pula, bahwa selama hidupnya Yudhistira tidak pernah berbohong. Ketika Durna menjadi Senopati Ngastina, tidak ada yang mampu mengalahkannya. Sebab selain karena Durna merupakan pendita yang sakti mandraguna, ia juga merupakan guru spiritualnya keluarga Pandawa. Sehingga Pandawa segan untuk berperang melawannya. Karena itu Kresna mencari akal. Menurut hematnya, Durna akan hilang kekuatannya bila mendengar anaknya (Aswatama) mati. Karena itu Werkudara disuruh untuk membunuh gajah Hestitama milik Bogodhenta. Kemudian disebarkanlah isu bahwa Aswatama mati. Mendengar isu tersebut Durna tidak percaya. Kemudian ia pergi menemui Yudhistira untuk menanyakan perihal kebenaran isu tersebut. Sebab Durna tahu bahwa selamanya Yudhistira tidak pernah berbohong.

Ketika ditanya seperti itu Yudhistira bingung, ditanya selalu diam saja, sebab takut untuk berbohong. Kemudian Kresnapun mencari cara. Yudhsitira disuruh menjawab pertanyaan Durna dengan pelan-pelan. Ketika sampai pada nama Aswatama, Yudhistira disuruh menggantinya dengan mengucap Hestitama secara pelan agar tidak terdengar jelas oleh Durna. “Inggih Bapa, Hestitama pejah ing paperangan.” Durna yang sudah tua dan pendengarannya sudah berkurang, mengira yang dikatakan Yudhistira itu Aswatama bukan Hestitama.

Spontan badan Durna berkeringat, badan menjadi lemas, meratapi anak satu-satunya yang disayanginya. Melihat keadaan Durna yang seperti itu, dengan sigap Werkudara memukul kepala Durna dengan Gada Rujakpala. Durnapun mati seketika.

Dalam pewayangan, Yudhistira digambarkan sebagai orang yang kalem. Di kepalanya ada sepotong kertas putih yang namanya jimat kalimasada. Jika dibuka konon ada tulisan syahadatnya. Ia merupakan lambang dari manusia yang berhati mulia. Berwatak samudera menguasai segala nafsu. Penyabar, tidak pernah marah, tidak pernah berbohong, serta bijaksana. Mengajarkan kepada manusia untuk selalu membiasakan berdzikir dengan dua kalimah tayyibah. Sebagai seorang ratu di negara Ngamarta, ia selalu bisa menjadi contoh bagi rakyat jelata. Sehingga rakyat merasa aman, makmur, tata titi tentrem kerta raharja, gemah ripah loh jinawi.

2. Werkudara

Werkudara itu merupakan putra dari Prabu Pandhu Dewanata dan Dewi Kunthi yang nomor dua. Werkudara merupakan jelmaan Bathara Bayu. Nama lainnya Bratasena, Bimasena, Haryasena, bayusiwi, Kusumadilaga, Jayalaga. Ia merupakan ksatria dari Jodhipati atau Tunggul Pamenang.

Nama-namanya yang banyak itu sebenarnya memiliki arti-arti tersendiri:

  1. Bima: maknanya sangat setia pada budi satu yang luhur. Kalau sudah menajdi tekadnya, siapa saja akan sulit mempengaruhi, bahkan untuk mencapai cita-citanya itu, meskipun sampai mati akan ditempuh juga.
  2. Bratasena: Maknanya pamungkas laku. Dia sering membersekan masalah.
  3. Haryasena: Maknanya ketika lahir, masih berupa bungkus, dan dipecahkan oleh Gajah Sena.
  4. Bayusiwi/Bayuputra: Karena Bima juga menjadi salah satu murid dan putra Bathara Bayu.
  5. Kusumadilaga: Maknanya dia selalu menjadi bintang dan bunga dalam gelanggang apa saja, termasuk dalam pertempuran dan persidangan.
  6. Jayalaga: maknanya unggul dalam setiap peperangan, kalau sudah berperang, dia malu dikalahkan[28].

Istri Werkudara berjumlah tiga. Dewi Nagagini, Dewi Arimbi, dan Dewi Urangayu. Dengan Dewi Nagagini, berputra Raden Antareja. Dengan Dewi Arimbi, berutra Raden Gatutkaca. Dengan Dewi Urangayu, berputra Raden Antasena.

Raden Werkudara mempunyai pusaka bernama Kuku Pancanaka, Gada Rujakpala, dan Gada Lambitamuka. Aji-ajiannya berupa Bandung Bandawasa, Ungkal bener, Blabag Pengantol-antol, dan Bayu Bajra.

Busana yang dipakai Bima masing-masing memberi makna sebagai berikut:

  1. Gelung Minangkara Cinandhi Rengga Endhek Ngarep Dhuwur Buri.

Maknanya Bima senantiasa waspada terhadap dirinya sebagai hamba yang harus pasrah dan berbakti kepada Tuhan yang Maha Esa.

  1. Pupuk Mas Rineka Jarot Asem.

Maknanya Bima mempunyai watak dan budi pekerti luhur dengan selalu berlandaskan kebenaran dan pengetahuannya, karena sudah diambil putra oleh Sang Hyang bayu.

  1. Sumping Pundhak Sinumpet.

Maknanya Bima selalu menguraikan ilmu ksempurnaan hidup (syariat, tarekat, hakikat, dan makrifat), tetapi tidak pernah menyombongkan diri. Dia sering berpura-pura bodoh.

  1. Anting-anting Panunggal Sotya Manik Banyu.

Maknanya Bima sudah waskitha ngerti sadurunge winarah ‘bijaksana tahu sebelum diajari’ serta tidak pernah khawatir terhadap segala apa yang akan terjadi.

  1. Kalung Nagabanda.

Maknanya Bima adalah satria gagah perkasa dan prajurit sejati, lebih baik mati daripada berkhianat.

  1. Kelat Bahu Blebar Manggis kang Binelah Sakendhagane.

Maknanya Bima berhati emas dan suci lahir batinnya. Dia tidak mau berjanji kalau tidak ada buktinya.

  1. Gelang Candra Kirana.

Maknanya Bima senantiaa mengarahkan agar ilmu pengetahuannya terang benderang seperti bulan purnama bercahaya (purnama sumorot).

  1. Kampuh Pancawarna Poleng Bang Bintulu Abang Ireng Kuning Putih miwah Wilis.

Maknanya Bima dalam hidupnya mampu mengendalikan panca inderanya terhadap godaan nafsu, sehingga dia bisa ikut serta dalam memayu hayuning bawana (menjaga keharmonisan alam).

  1. Sabuk Cindhe Wilis Kembar Beranipun kang Binelah Numpang Wentis Kanan Kering.

Maknanya Bima bisa konsentrasi dalam bermeditasi (khusyu) sehingga hati dan pikirannya menyatu.

  1. Porong Nagaraja Mungwing Dhengkul.

Maknanya Bima memegang kebenaran dan memantapkan ilmu diri terhadap kritik dan pendapat orang lain.[29]

Diceritakan, bahwa ketika Werkudara lahir, masih dalam keadaan terbungkus seperti telur. Semua senjata tidak ada yang sanggup untuk memecahkan telur tersebut. Yang bisa memecahkan hanya gajah Sena. Ketika telah pecah, bayi Werkudara diinjak-injak oleh Gajah Sena. Tetapi ajaibnya bayi Werkudara tidak mati bahkan bertambah besar gagah. Kemudian oleh Werkudara, Gajah Sena diserang dengan Kuku Pancanaka, mati seketika, dan jiwanyapun bersatu dengan Werkudara.

Werkudara tidak bisa basa (jawa: krama alus) kepada siapa saja, kecuali kepada Dewa Ruci. Walau tidak bisa basa, Werkudara mempunyai watak setia, hormat kepada guru, selalu membasmi setiap kejahatan, senang menolong, cinta kepada sanak saudara, dan adil. Ia tidak mau menyembah kepada siapa saja kecuali kepada Tuhan.

Sosoknya tinggi dan besar. Memakai gelang bernama supit urang. Mukanya selalu menunduk seperti orang sedang shalat. Dia tidak melayani orang lain jika pekerjaannya sendiri belum selesai. Ini mengisyaratkan bahwa shalat haruslah tenang, tidak boleh tengak tengok, sebab akan membatalkannya [30]. Wayang Bima merupakan gambaran dari orang yang berwatak ksatria, berbudi luhur, suka menolong, adil, berani karena benar, membasmi kejahatan, berbakti kepada orang tua, dan berbakti kepada guru. Mengajarkan kepada manusia akan pentingnya mendirikan shalat lima waktu.

Dalam serat Cebolek Werkudara atau Bima digambarkan sebagai manusia ideal yang telah mencapai pamoring kawula gusti atau manunggalnya hamba dan tuan. Kalangan kraton memahaminya sebagai manusia ideal yang dapat mengintegrasikan paham tasawuf dan paham syariat.[31]

3. Arjuna

Arjuna merupakan putra nomor tiga dari prabu Pandhudewanata dengan Dewi Kunthi Talibrata. Sebenarnya ia merupakan titisan (putra) Bathara Indra.

Arjuna mempunyai beberapa nama yaitu Permadi/Pamadi, Indratanaya, Jahnawi, Kumbang Ali-ali, Dananjaya, dan Palguna.

Arjuna merupakan kstaria dari kerajaan Madukara. Ia mempunyai pusaka keris Pulanggeni, panah Pasopati, panah Sarotama, dan keris Kalanadhah. Ia juga mempunyai aji-aji Panglimunan atau Malayabumi dan Seipi Angin.

Arjuna mempunyai istri Wara Sembadra, Srikandhi, Larasati, Dewi Dersanala, dan lain-lainnya.

Sosoknya ideal (tidak tinggi tidak pendek). Merupakan lelananging jagad (tampan sekali), sehingga membuat para wanita terpikat oleh ketampanannya. Suka berpuasa, prihatin. Ini mengajarkan kepada manusia untuk selalu berpuasa, sebab dengan berpuasa maka jiwa akan bersih, muka berseri-seri, dan kuat menghadapi cobaan [32]. Selain itu ia juga pandai dalam memusatkan konsentrasi (manekung); neng, ning, nung, nang. Dalam khazanah tasawuf ini merupakan cara untuk mendektkan diri kepada Allah.

4. Nakula

Nakula merupakan putra dari Prabu Pandhu Dewanata dan Dewi Madrim. Sedangkan Dewi Madrim. Nama lain dari Nakula adalah Pinten dan Tripala. Nakula merupakan ksatria dari Sawojajar. Istrinya bernama Dewi Soka.

Dalam wayang digambarkan sebagai sosok yang suka bersedekah, infak, membantu fakir miskin. Mengajarkan kepada manusia untuk senang mengeluarkan zakat. Tidak serakah dan tamak.

5. Sadewa

Nama lain dari Sadewa adalah Tangsen atau Darmagranti. Ia merupakan anak dari Prabu Pandhu Dewanata dan Dewi Madrim.

Dalam lakon wayang Sudamala, raden Sadewa bisa mengubah wujud Bathari Durga ke wujud asalnya yaitu dari raksasa menjadi bidadari yang sangat cantik.

Ia digambarkan sebagai sosok yang kaya raya. Akan tetapi tidak lupa diri. Ibadahnya tekun. Mengajarkan kepada manusia untuk melakukan ibadah haji ke baitullah ketika mampu (baik secara materi, kesehatan, dan keselamatan).

Selain menghadirkan tokoh-tokoh berkepribadian baik dan sesuai dengan kepribadian mayarakat jawa (protagonis), dalam kesenian pewayangan juga menyuguhkan tokoh-tokoh yang tidak sesuai dengan kepribadian masyarakat jawa (antagonis). Misalnya:

  1. Cakil

Disebut juga dengan Gendir Penjalin, Gendring Caluring, Eneng-eneng Kodheng, Kathang Mimis, Lentring Maya[33]. Dari nama-namanya tersebut jelas terlihat bahwa Cakil merupakan sosok yang jahat. Menghalangi setiap manusia yang hendak mencari jalan kebenaran. Dalam pedhalangan selalu muncul dalam perang kembang. Disebut dengan perang kembang, karena hendak melambangan dan mengajarkan kepada setiap manusia bahwa sudah menjadi hal yang wajar bila dalam hidup selalu saja diwarnai dengan ujian, cobaan, dan godaan. Menyadarkan kepada kita agar selalu dekat dengan Allah. MenjadikanNya sebagai tempat untuk bersandar dan meminta pertolongan.

  1. Duryudana

Disebut juga dengan Kurupati, Jakapitana, Gendarisuta, suyudana, Tripamangsah, Jayapitana[34]. Merupakan anak tertua dari para kurawa. Dalam pewayangan dijadikan sebagai sosok yang suka mengingkari janji, merampas barang milik orang lain, lalim, haus darah.

  1. Sengkuni

Disebut juga dengan Sakuni, Trigantalpati, Harya Suman, Suwalaputra[35]. Dalam pewayangan merupakan sosok yang licik. Merupakan jelmaan dari Bathara Dwapara atau Dewa Perusak, merupakan musuh kebenaran.

  1. Dursasana

Dikatakan berasal dari kata Dur yang mempunyai arti ala (jelek), dan Sasana yang berarti papan[36]. Jadi Dursasana itu lambang dari sumber kejelekan. Wataknya seperti watak setan. Angkuh, pamer, sewenang-wenang, selalu mengumbar nafsu.

  1. Begawan Durna

Ketika masih muda bernama Bambang Kumbayana. Ia merupakan anak dari Prabu Baratmadya atau Baratwaja dari Hargajembangan negara Ngatasangin. Dalam pewayangan ia merupakan guru dari Pandhawa dan Kurawa dan berjuluk Begawan Durna (Dorna). Ia bertempat tinggal di Sokalima. Walau seorang guru, tetapi ia tidak berbudi bawaleksana. Ia adalah sosok orang yang angkuh, sombong, suka iri hati, dan membela kejahatan. Ia selalu berusaha mencelakakan Pandawa. Dalam perang Bharatayuda ia mati di tangan Werkudara.

Dari penjelasan mengenai beberapa watak tokoh wayang di atas, tentunya sarat dengan muatan filosofis, khususnya moral pedagogis. Selain itu dapat dipahami bersama bahwa kesenian wayang merupakan simbol kehidupan sehari-hari masyarakat jawa. Bagaimana mereka berinteraksi, bagaimana pola berpikir mereka, bagaimana menyikapi adanya pluralitas, kesadaran adanya realitas tentang warna warni kehidupan dan bagaimana menyikapinya, semua jelas tercermin dan termainkan dalam setiap pakeliran wayang. Ia merupakan sebuah kesenian yang berakar dari realitas nilai-nilai masyarakat jawa. Bahkan oleh sebagian masyarakat jawa, ia merupakan ‘wewayangane ngaurip’(bayangan hidup manusia dari lahir hingga mati) seluruh manusia di dunia.

Menurut filsafat Cina, di dalam pewayangan terdapat dua sisi kehidupan yang saling bertolak belakang yaitu yin dan yang. Ada hitam ada putih. Ada kebaikan ada kejahatan. Ada si kaya ada si miskin. Akan tetapi dua sisi kehidupan itu tidak bisa berdiri sendiri, tidak ada yang mutlak sepenuhnya. Hitam selalu bercampur dengan putih begitu pula sebaliknya. Dalam diri orang baik terdapat pula sisi negatif yang membuatnya tidak sempurna. Dengan kata lain, seni pewayangan menurut filsafat Cina merupakan gambaran kehidupan manusia yang hendak menegaskan bahwa tidak ada yang sempurna dalam kehidupan ini. Akan tetapi selalu mengisi mendukung satu sama lain.

Menurut Redi Panuju Wayang adalah refleksi dari kebudayaan jawa, dalam arti pencerminan dari kenyataan kehidupan, nilai dan tujuan kehidupan, moralitas, harapan, dan cita-cita kehidupan orang jawa. Melalui cerita wayang masyarakat jawa memberi gambaran kehidupan mengenai bagaimana hidup sesungguhnya (das sein) dan bagaimana hidup itu seharusnya (das sollen)[37].

Wayang sesuai dengan asal katanya yaitu wayang, ayang-ayang, wewayang, atau bayang-bayang. Dalam bahasa jawa dikatakan rerupan sing kedadeyan saka barang sing ketaman ing sorot (pepadhang) (rupa yang tercipta dari sesuatu yang terkena sorot sinar)[38]. Dari nama wayang itu sendiri sudah terdeteksi makna filosofis yang cukup mendalam, tentang kesenian wayang yang menjadi cermin dan penegas dari adanya sebuah kehidupan masyarakat jawa yang unik dan penuh dengan nilai-nilai filosofis. Ia merupakan sebuah dimensi kecil yang tercipta untuk menggambarkan dan menegaskan eksistensi dari satu dimensi besar yang di dalamnya penuh dengan kemajemukan dan perbedaan cara pandang dalam menyikapi lika-liku kehidupan. Selain itu juga merupakan sebuah upaya untuk melestarikan ajaran-ajaran yang tercipta dari sebuah masyarakat yang sangat menjunjung tinggi kebersamaan dan kemuliaan. Menurut penelitian DR. Hazim Amir, di dalam wayang ada dua puluh nilai dasar yang kesemuanya itu merupakan atribut untuk mencapai kesempurnaan hidup, mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa dan beramal saleh kepada sesamanya. Aksiologi wayang dikembangkan dalam dua unsur pokoknya yaitu etika dan estetika.

Sejarah mengenai asal mula munculnya wayang itu sendiri belum ada kejelasan. Hanya saja ada sebuah prasasti peninggalan raja Balitung pada tahun 907 M yang di dalamnya disebutkan tentang seorang dalang yang menerima upah dari hasil kerja mendalangnya[39]. Ini menunjukkan, wayang merupakan hasil kebudayaan masyarakat jawa kuno, yang telah ada jauh sebelum islam masuk ke tanah jawa. Sebab selama ini, wayang di jawa selalu identik dengan dakwah islam, padahal sesungguhnya ia merupakan hasil kebudayaan masarakat Hindu Budha yang di dalamnya secara jelas bermuatan nilai-nilai ajaran-ajaran kedua agama tersebut.

Penelitian mengenai sejarah asal mula wayang itu sendiri memang telah banyak dilakukan oleh para ahli. Akan tetapi nampaknya belum memberikan kontribusi yang menggembirakan dan memuaskan. Kesimpulan sementara mereka mengenai masalah ini adalah bahwa kesenian wayang pada dasarnya merupakan sisa-sisa upacara keagamaan orang Jawa yaitu sisa-sisa dari kepercayaan animisme dan dinamisme. Diketahui bersama bahwa masyarakat jawa zaman dahulu merupakan masyarakat yang sangat mengagungkan nenek moyang. Nenek moyang mereka disucikan dan dikeramatkan layaknya tuhan. Sehingga dalam masyarakat jawa kuno kita mengenal term ‘hyang’ atau ‘dahyang’.

Untuk menjaga hubungan vertikal (hubungan antara masyarakat dengan hyang) maka masyarakat jawa menggunakan medium yang disebut ‘syaman’. Dan diduga, kesenian wayang inilah yang menjadi media untuk mengenal hyang. Wayang diposisikan sebagai hyang sedangkan dhalang diposisikan sebagai syaman. Sehingga baik wayang maupun dhalang merupakan sosok yang sangat dihormati, dianggap mempunyai kekuatan mistik, dan sebagainya. Bahkan sebelum memainkan wayang, seorang dhalang seringkali melakukan ritual khusus terlebih dahulu, sebab dipercaya bisa mengusir roh-roh jahat (dalam masyarakat jawa dikenal dengan bathara kala). Sehingga ada pula yang mengatakan bahwa wayang berasal dari kata ‘wad an hyang’ yang artinya leluhur.

Saat ini peran dhalang dalam kehidupan masyarkat Jawa masih sangat penting dan termasuk dalam bagian status sosial yang tinggi dan dimuliakan. Begitu juga dengan anak keturunan dhalang, juga menempati posisi yang dimuliakan. Bahkan pada kasus-kasus tertentu, sebagian masyarakat jawa masih mempercayai bahwa dhalang itu diberkahi, sehingga tidak sedikit dari mereka yang meminta berkah, misalnya minta air yang telah disuwuknya (didoakannya).

Dalam seni pedhalangan, dhalang dianggap sukses memainkan wayang apabila ia mampu membius penonton dan membuat mereka menangis. Serat Harjuna Wiwaha menggambarkan keadaan penonton wayang kulit pada zaman dahulu sebagai berikut:

“Tiyang aningali ringgit punika lajeng wonten ingkang nagis, sumlengeren sarta prihatos ing manahipun, sanajan sampun sumerep yen ingkang tinonton wau wantahipun namung wacucal ingukir tinatah kadapur tiyang saged solah bawa serta wicanten…”

Terjemahannya:”Orang yang sedang menonton pertunjukan wayang kulit sampai ada yang menangis, takjub dan prihatin hatinya, walaupun ia sendiri tahu bahwa yang sedang ia lihat itu hanyalah kulit yang diukir dan ditatah, dibentuk seperti orang yang bisa digerakkan dan seolah-olah berbicara.”

Menarik juga pembahasan mengenai asal usul wayang ketika dikaitkan dengan masalah spiritual ataupun kepercayaan. Sebab bila kita menengok sejarah, sebenarnya tidak hanya masyarakat jawa saja yang menggunakan media tertentu untuk mengenal tuhannya. Di kalangan bangsa arab jahiliyahpun media semacam itu juga berlaku dan diagung-agungkan oleh mereka. Hanya saja dalam masyarakat arab kita tidak dikenalkan dengan nama-nama seperti Sang Hyang Wenang, Sang Hyang Tunggal, Dewa, atau Dewi, tetapi kita akan mengenal berhala (Latta, Uzza, dsb) sebagai perwujudan akan adanya keberagamaan dan media untuk mengenal tuhan. Tetapi setidaknya antara masyarakat jawa dengan masyarakat arab mempunyai satu persamaan yaitu sama-sama berambisi untuk mengenal tuhan dengan sekenal-kenalnya. Tetapi tentu saja ketika dikembalikan ke dalam syariat islam, ambisi-ambisi dan tindakan-tindakan semacam itu merupakan sesuatu yang dilarang dan merupakan dosa besar (syirik).

Dalam Kitab Centini disebutkan mengenai asal-usul dari kesenian wayang. Dikatakan bahwa kesenian wayang mula-mula sekali diciptakan oleh Raja Jayabaya dari Kerajaan Mamenang (Kediri) sektar abad ke 10. Raja Jayabaya berusaha menciptakan gambaran dari roh leluhurnya yang sengaja digambar di atas daun lontar. Bentuk gambaran wayang tersebut ditiru dari gambaran relief cerita Ramayana pada Candi Penataran di Blitar. Figur tokoh yang digambarkan untuk pertama kali adalah Batara Guru atau Sang Hyang Jagadnata yaitu perwujudan dari Dewa Wisnu.

Pada masa pemerintahan Sri Suryawisesa[40], kesenian wayang mengalami perubahan yang cukup menggembirakan. Sebab selain menyempurnakan bentuk wayang yang sudah ada, Sri Suryawisesa juga membuatkan peti penyimpan wayang yang sangat indah sebagai bentuk pemuliaan dan pengeramatan terhadap kesenian wayang. Bahkan ketika ada upacara-upacara keagamaan, Ia bertindak sebagai pemimpin sekaligus sebagai dhalangnya. [41]

Ketika islam datang, islam mengadopsi kesenian kuno ini. Dan di sinilah sesungguhnya letak kehebatan dari islam. Masuknya agama islam pada sekitar abad 15 telah membawa perubahan yang cukup besar dalam dunia pewayangan di mana bentuk wayang yang semula berwujud realistik proporsional (visioplastik)–yang masih sempat diabadikan oleh nenek moyang dengan pahatannya di candi-candi–menjadi suatu karya seni figuratif (ideoplastik) seperti yang masih sering dimainkan para dalang sampai sekarang.

Diceritakan bahwa Sultan Demak yang bernama Syah Alam Akbar I, sangat menggemari seni karawitan dan wayang. Bahkan dalam kerajaannya ia memiliki segala peralatan yang berkaitan dengan dua kesenian tersebut. Akan tetapi di sisi lain, terdapat umat islam fanatik yang menentang dan mengharamkan kesenian wayang ini. Sebab wayang dinilai merupakan peninggalan-peninggalan agama Hindu yang sarat dengan kemusyrikan. Timbulnya tantangan yang demikian besar ini, menuntut Walisongo untuk bekerja ekstra keras menghilangkan kesan kontroversial tersebut. Dan pada akhirnya mereka berhasil memodifikasi wayang dengan yang semula berasal dari kertas menjadi dari bahan kulit kerbau yang agak ditipiskan dengan wajah digambarkan miring, ukuran tangan dibuat lebih panjang dari ukuran tangan manusia, sehingga sampai dikaki. Kemudian wayang kulit yang telah dimodifikasi ini diberi warna dasar putih yang dibuat dari campuran bahan perekat dan tepung tulang, sedangkan pakaiannya di cat dengan tinta.

Menurut R.M. Sajid (1962), pada zaman kerajaan Majapahit lebih dikenal dengan pementasan wayang beber, yaitu wayang yang bentuknya dibentangkan (dibeber). Sejak zaman kerajaan islam Demak (zaman para wali), wayang beber mengalami banyak perubahan besar-besaran,seolah-olah telah berganti wujud baru. Perubahan ini bukan saja dalam bentuk pelaku-pelaku seadegan dilukis bersama-sama dalam satu lembaran, maka sejak zaman para wali dilukis terperinci, dengan masing-masing tokohnya terpisah dari yang lainnya. Bentuk lukisannya juga tidak menghadap teteapi berbentuk miring dan dilukis dari samping. Bentuk badan serta perimbangan anggota-anggota badannya maka tidak lagi menyerupai bentuk manusia normal, tetapi justru lebih jauh dari bentuk asli manusia.[42]

Salah satu penyebab masih eksisnya kesenian wayang hingga saat ini, adalah karena kesenian wayang sangat membuka diri dalam menerima kebudayaan asing. Dan itu memang dibenarkan oleh para ahli. Bahwa kesenian wayang sangat mampu untuk menerima dan menyerap kebudayaan asing, sehingga eksistensi dan budaya wayang menjadi semakin kuat. Ini dikarenakan dalam dirinya ada kekuatan "hamot, hamong, hamemangkat". Hamot adalah adanya keterbukaan dan toleransi untuk menerima pengaruh dan masukan dari kebudayaan asing yang mempunyai pengaruh lebih besar atau lebih kecil darinya. Hamong adalah kemampuan untuk menyaring nilai ataupun unsur-unsur baru tersebut sesuai dengan karakteristik wayang itu sendiri. Hamemangkat adalah menjadikan suatu nilai menjadi nilai baru yang menarik.

Selain itu, kesenian wayang juga didukung oleh ajaran toleransi yang dibawa agama islam. Sejarah telah membuktikan bahwa islam mampu mengajarkan toleransi secara baik. Islam sangat peduli terhadap hal-hal yang melibatkan hubungan-hubungan horisontal (manusia dengan manusia atau hablumminannas) khususnya yang berkaitan dengan kebersamaan dan keselarasan hidup. Dalam menyikapi adanya kebudayaan yang telah menjamur dalam masyarakat jawapun islam sangat lihai dalam mengambil sikap. Hal ini sangat jelas terlihat pada kasus pelestarian seni wayang kulit itu sendiri, di mana Walisongo yang nota bene merupakan ulama-ulama yang bertugas untuk menyebarkan islam ke seluruh pelosok tanah jawa, mampu mengadakan akulturasi dengan sangat baik. Mereka merupakan ulama-ulama islam yang sukses berdakwah dengan pendekatan kebudayaan.

Kita dapat mengetahui, perbedaan kesenian wayang sebelum diberi jiwa islam dan sesudah diberi jiwa islam. Sebelum diberi jiwa islam, kesenian wayang adalah merupakan kesenian yang:

  1. Kesenian yang kental dengan nilai-nilai ajaran hindu dan budha.
  2. Bentuk wayang itu sendiri yang pada mulanya berbentuk menyerupai manusia. (arca-arca kecil). Sedangkan dalam islam, hal itu diharamkan.
  3. Cerita-cerita wayang yang mengandung kemusyrikan.
  4. Wayang sebagai media untuk mengenal tuhan (Hyang) dalam masyarakat jawa kuno.

Setelah diberi dengan jiwa islam, wayang berganti menjadi kesenian yang:

  1. Kesenian wayang yang sesuai dengan syariat islam.
  2. Bentuk wayang yang semula realistik proporsional distilir menjadi bentuk imajinatif seperti yang terlihat sekarang ini.
  3. Merupakan media dakwah islam yang sangat baik.
  4. Merupakan kesenian yang mengandung ajaran-ajaran, nasehat, petuah, yang sangat penting bagi pendidikan generasi muda khususnya pada masyarakat jawa.
  5. Kekuatan utama budaya wayang yang semula berasal dari kandungan mistisnya dirubah sehingga berasal dari kandungan nilai falsafahnya.

Dengan kata lain, seni wayang ketika telah diberi nafas islam menjadi berubah secara isi dan fungsinya. Ia menjadi produk akulturasi yang didalamnya dipenuhi nilai-nilai falsafah dan pandangan hidup yang sesuai dengan islam.[43] Bahkan lebih lanjut lagi, kesenian wayang telah mampu memberikan nilai lebih yang sangat berharga bagi kemajuan peradaban khususnya bagi pembinaan akhlak spiritual. Sebab di dalamnya terdapat berbagai cerita-cerita yang menceritakan perjalanan hidup seorang hamba mencari “kesempurnaan hidup” yang sarat dengan petuah dan nasehat-nasehat penting.

B. Filsafat Wayang: Mencari Perfection (Kesempurnaan) Hidup

Metafisika wayang adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. Sebab wayang itu religius. Bahkan kesenian ini merupakan sebuah penggambaran akan kekuasaan Tuhan yang telah menciptakan jagad gumelar ini (makrokosmos). Kelir misalnya, ia melambangkan langit yang putih dan luas. Gedebok (pohon pisang) dilambangan sebagai bumi atau tanah yang dijadikan sebagai tempat berpijak manusia ataupun ruang yang ditakdirkan penuh dengan aktivitas bersifat fana. Blencong yang bercahaya kekuningan melambangkan matahari yang menyinari bumi. Gunungan atau kayon yang menancap merupakan lambang adanya kehidupan. Dan secara otomatis juga melambangkan adanya Sang Pencipta alam semesta. Wayang melambangkan manusia yang tengah memainkan drama kehidupan nyata. Gamelan dan karawitan menggambarkan semaraknya kehidupan. Kotak penyimpanan wayang melambangkan akhir hidup manusia di bumi, makam, atau kuburan. Dhalang menggambarkan adanya Dzat Yang Maha Kuasa yang menguasai mengkontrol seluruh alam. Penonton adalah laksana makhluk yang memandangi kegiatan dan tingkah laku manusia sehari-hari. Mereka berteriak mencoba memperingatkan manusia, akan tetapi manusia tidak mendengarnya. Sebab mereka berada di alam lain yang tidak bisa diraba dan dilihat manusia (wayang). Tanceb kayon melambangkan matinya seluruh manusia. Gunungan ditancapkan kembali ditengah kelir yang menandakan manusia mati tetapi kehidupan tetap ada (maksudnya kehidupan selanjutnya yang bernama kehidupan akherat). .Karena itu untuk mendapatkan kesejahteraan pada kehidupan ke dua ini (kehidupan akherat) manusia dituntut untuk mengerti dan mendalami serta mengamalkan ilmu sangkan paraning dumadi sebagai ilmu pokok dalam kehidupan.

Dalam mengkaji kesenian wayang secara sederhana, terkandung satu tujuan yang sederhana pula namun mempunyai nilai penting bagi kehidupan dan pola pikir masyarakat. Di mana masyarakat diharapkan bisa melihat cakrawala baru, cara pandang dan bersikap, dan menentukan kebijaksanaan untuk mengatasi tantangan dan kesulitan hidup melalui pertunjukan wayang kulit yang sering dimainkan semalam suntuk[44]. Tujuan ataupun harapan ini muncul karena dalam setiap lakon wayang, terdapat serangkaian kisah-kisah simbolis yang menarik akan tetapi juga sarat dengan nilai-nilai berharga. “Satu paket harta terpendam” itulah yang seharusnya menjadi sorotan dan kajian bersama, yang harus digali dan dipikirkan secara tenanan (sungguh-sungguh).

Misalnya dalam lakon Bima Suci. Dalam cerita itu diceritakan bagaimana sosok Arjuna (Janaka) (salah seorang dari Pandawa) dengan niat dan tekad bulat, pergi menempuh perjalanan jauh untuk menuntut ilmu kepada kakaknya Bima (Werkudara). Mudah ditebak dalam cerita tersebut, di mana Arjuna dihadapkan dengan berbagai rintangan dan marabahaya yang sangat hebat dan berkelanjutan. Diantaranya Arjuna dihadang oleh segerombolan buto (raksasa) yang dipimpin oleh Dityakala Caranggupita, yang merupakan anak buah Raja Karungkala dari kerajaan Kenceng Barong[45]. Akan tetapi dengan kesabaran dan ketabahannya, semua rintangan dan marabahaya dapat dilaluinya dengan baik.

Singkat cerita, setelah berhasil melalui rintangan-rintangan tersebut, akhirnya Arjuna dengan didampingi Panakawan berhasil bertemu dengan Bima dan belajar “ngilmu gaib” (ilmu kebatinan) kepadanya.

Dalam “ngangsu ngelmu” (menimba ilmu) tersebut, Bima terlebih dahulu menyampaikan beberapa persyaratan yang harus selalu diingat dan ditunaikan oleh Arjuna:

  1. Seorang murid harus percaya[46]. Maksudnya, bahwa semua yang disampaikan sang guru harus diterima dengan tulus ikhlas dan dengan lapang dada. Selain itu juga harus didasari atas kepercayaan yang kuat bahwa ilmu yang diajarkan itu merupakan ilmu yang bermanfaat.
  2. Seorang murid harus bersedia dan berani melaksanakan ilmu yang diterima[47]. Maksudnya, bahwa semua ilmu yang didapat harus diamalkan dengan baik walaupun itu sangat berat dan sukar. Sebab mempunyai ilmu tetapi tidak diamalkan itu sama saja dengan orang bodoh yang tidak berilmu.
  3. Seorang murid harus berani menghindari setiap larangan[48]. Maksudnya, bahwa ketika telah mengetahui suatu ilmu, jangan menyalahgunakan ilmu itu. Sebab Tuhan akan menghukum orang-orang yang menyalahgunakan ilmu dengan hukuman yang berat. Begitu pula, tanggungan bagi orang yang berilmu sangatlah berat dibandingkan tanggungan bagi orang-orang yang belum berilmu.

Setelah menyanggupi peryaratan-persyaratan yang diajukan oleh Bima, Arjuna segera diwejang dengan berbagai ilmu kebatinan. Diantaranya tentang hakekat kejadian manusia, hakekat Tuhan sebagai penguasa alam, hakekat kehidupan sebagai sesuatu yang fana, tentang budi pekerti (akhlakul karimah), dan sebagainya. Semua itu tertumpu pada satu tujuan, yaitu untuk mendapatkan kebenaran sejati yang merupakan anugerah terbesar dari Sang Hyang Tunggal.

Bima suci dalam posisinya sebagai seorang guru, hendak menyampaikan pelajaran kepada Arjuna bahwa untuk mendapatkan kesempurnaan hidup, seseorang harus senantiasa suci lahir batin. Selain itu harus senantiasa memohon kepada Sang Hyang Tunggal (Allah) sebagai Tuhan Yang Maha Kuasa agar dirinya selalu tinarbuko (terbuka diri) sehingga dapat dengan mudah menerima ilmu-ilmu yang diajarkan.

Dari sekelumit cerita di atas, kita dapat mengambil sebuah kesimpulan bahwa dalam filsafat jawa khususnya filsafat pewayangan, selalu saja menghadirkan ajaran-ajaran yang mendorong manusia untuk selalu berusaha mendapatkan kesempurnaan hidup. Ajaran tentang sangkan paraning dumadi menjadi salah satu ajaran pokok yang selalu mewarnai setiap lakon pewayangan. Ini mengindikasikan bahwa dalam posisinya sebagai pandangan hidup, filsafat pewayangan mempunyai tujuan untuk mendapatkan kesempurnaan,‘nggayuh kasampurnan’, mengajarkan manusia agar menjadi insan kamil yang benar-benar kamil. Dan dipungkiri atau tidak, filsafat wayang juga sangat berkaitan erat dengan kehidupan kaum sufi (tasawuf). Khususnya dalam mendapatkan kesempurnaan hidup ini.

Dalam tasawuf, istilah insan kamil mempunyai definisi yang beragam. Ibnu Arabi misalnya, mendefinisikan insan kamil sebagai manusia yang sempurna karena adanya realisasi wahdah asasi dengan Tuhan yang mengakibatkan adanya sifat-sifat dan keutamaan Tuhan padannya. Sedangkan Jalaluddin Rumi mendefinisikan Insan kamil sebagai seseorang yang sadar tentang kekuatannya yang transendent dan abadi yang tak diciptakan dan bersifat ilahi.[49]

Dengan demikian, insan kamil adalah sosok insan yang sempurna dari segi potensi intelektual, intuisi, akal sehat, fitrah, dan hal-hal lainnya yang bersifat batin. Ia bertindak berdasarkan ketentuan Tuhan dan berfikir berlandaskan kaidah-kaidah syariat islam. Memahami insan kamil berarti juga memahami kembali adanya naluri Ketuhanan. Manusia (insan) cenderung bertindak sesuai dengan fitrah yang berlaku. Selanjutnya kecenderungan ini dilengkapi dengan adanya daya bertindak dan berkehendak yang bebas. Karena itu manusia merupakan khalifah fil ardhi yang sangat ideal dibandingkan dengan makhluk Tuhan lainnya.

Mewujudkan insan kamil merupakan tujuan utama para sufi. Untuk memperolehnya, seseorang harus menjalani empat perjalanan spiritual yaitu syariat, tarikat, hakekat, dan makrifat. Begitu pula, dalam dunia tasawuf terdapat tahapan-tahapan dalam mencari kesempurnaan hidup. Yaitu dengan bertobat, zuhud, sabar, tawakal, cinta, ma`rifah, dan terakhir ittihad (bersatu dengan tuhan)[50]. Sedangkan menurut Dr. Muhammad Iqbal, untuk menjadi insan kamil maka seseorang harus selalu berusaha untuk memperkuat kepribadian. Adapun hal-hal yang dapat memperkuat kepribadian menurut beliau ada enam, yaitu:

  1. Cinta kasih.
  2. Faqr yaitu tidak cinta kehidupan dunia dan apa-apa yang menjadi hiasannya.
  3. Keberanian.
  4. Sikap tenggangrasa.
  5. mengkonsumsi makanan yang halal.
  6. Mengerjakan kerja kreatif dan asli.

Jika dihubungkan dengan dunia pewayangan, Pandawa sebagai lima tokoh wayang pembela kebenaran, melambangkan perjalanan hidup manusia mencari kesempurnaan hidup. Misalnya saja kehidupan Arjuna sebagai seorang ksatria pinandhita, mencerminkan betapa sulitnya melakukan lampahing raga (laku badan) berupa prihatin, mengekang hawa nafsu, dan semangat untuk membela kebenaran. Ataupun lampahing budi dan lampahing manah yang tercermin dalam sikap Yudhistira sebagai seorang ksatria yang menjunjung tinggi moralitas. Semua lampah atau laku ini selaras pula dengan tujuan manusia dalam menuju insan kamil sesuai dalam kerohanian islam.

Dalam lakon wayang misalnya Bima suci di atas, juga terdapat perjalanan spiritual seperti ini. Yang akhirnya sampai kepada penyatuan dengan tuhan. Dalam ajaran jawa dikenal dengan manunggaling kawulo-Gusti (bersatunya hamba dengan tuhan), dalam ajaran Hindu dikenal dengan bersatunya antara Atman dan Brahman (bersatunya jagad kecil dengan jagad besar), atau dalam tasawuf islam dikenal dengan konsep wahdatul wujud[51]. Konsep kontroversial ini pertama kali diperkenalkan oleh seorang sufi besar bernama Muhyiddin Ibn Arabi yang lahir di Murcia, Spanyol di tahun 1165.[52]

Filsafat wayang juga mengutamakan kebijaksanaan. Hal ini sesuai dengan arti dari filsafat itu sendiri yang berarti cinta kebijaksanaan. Dalam setiap lakon wayang, orang yang wicaksana (bijaksana) disebut juga sebagai jalma sulaksana, waskhita ngerti sadurunge winarah, atau jalma limpat seprapat tamat[53]. Lakon Bima Suci mengajarkan beberapa hal penting kepada manusia khususnya yang berkaitan dengan ajaran ketuhanan. Bahwa pada dasarnya eksistentsi yang paling dalam adalah kodrat Ilahi.[54]Sehingga manusia diajarkan untuk selalu pasrah dan memohon hanya kepada Tuhan.

Islam mengajarkan pula perihal tawakal atau berserah diri kepada Dzat Yang Maha Kuasa. Menurut Dr. Abdullah bin Umar Ad-Dumaiji, islam menjelaskan term tawakal sebagai salah satu sarana terkuat di antara sarana-sarana yang bisa mendatangkan kebaikan serta menghindari kerusakan. Tetapi bukan berarti tawakal meniadakan prinsip sebab musabab dalam penciptaan serta urusan, sebagaimana pendapat yang dilontarkan oleh golongan ‘Mutakallimin’ seperti Al Asyari dan lainnya, dan juga seperti pendapat yang dilontarkan oleh para ahli Fiqh dan golongan shufi.[55]Tetapi tawakal merupakan sebuah bukti pengakuan atas dua kalimah syahadah bahwa tiadalah yang Maha Kuasa kecuali Allah semata. Ia yang menciptakan seluruh alam dan Ia juga yang akan menjaganya.

Dalam lakon lain, misalnya Bimapaksa, juga menceritakan tentang perjalanan spiritual mencari kesempurnaan hidup. Dikisahkan, Bima telah mampu mencapai drajat artha winadhara-moksa, sehingga eksistensinya dapat melebihi kekuasaan para dewata yang mengandalkan gemerlapnya dunia jasmani-material lahiriah. Dalam hal ini Bima sudah sederajat dengan Sanyasin, Siddaresi-Maharesi-Brahmaresi. Dalam padepokan argakelasa Bima membeberkan ngelmu sangkan paraning dumadi, ilmu kasampurnan, dan kawruh kabegjan[56]

Inilah sekelumit tentang cerita wayang yang di dalamnya menyuguhkan berbagai tontonan sekaligus tuntunan yang sangat berharga. Walau tidak dipungkiri, bahwa nuansa Hindu-Budha dan animisme-dinamisme masih sangat terasa dan mendominasi, tetapi di dalamnya juga sarat dengan nilai-nilai islami khususnya tentang moralitas. Dan setidaknya ke depan, muatan islam inilah yang perlu ditonjolkan sebagai nilai utama yang terdapat pada kesenian wayang. Sebab, keinginan Walisongo itu sendiri pada dasarnya hendak menjadikan wayang sebagai media untuk memberikan kepuasan biologis dan batiniah. Pembelajaran mengenai etika dan budi pekerti yang tidak hanya bersifat normatif akan tetapi juga aplikatif, edukatif dan tidak indoktrinatif. Menyuguhkan pengajaran yang baik, sederhana, dan mudah dicerna penonton[57].

Ketika manusia mendapatkan kebenaran sejati, maka secara otomatis ia akan mempunyai nilai-nilai keluhuran di dalam dirinya. Sebab fungsi dari ‘kebenaran sejati’ adalah mampu untuk mengontrol setiap perilaku manusia. Secara umum, manusia yang telah mendapatkan kebenaran sejati, ia akan:

1. Selalu bertingkah laku terpuji.

2. mampu menahan setiap gejolak hawa nafsu

Ketika menonton pagelaran wayang kulit, dalam diri penonton seharusnya juga terjadi proses berfikir secara rasional, kemudian dilanjutkan dengan proses pembersihan dan penyucian jiwa. Dengan kata lain, setelah menonton pagelaran wayang kulit, penonton diharapkan bisa bertambah kuat keimanannya dan bertambah baik moralnya. Pembinaan yang seperti inilah yang sekarang ini sudah jarang ditemui dalam setiap pentas pagelaran wayang kulit. Tetapi setidaknya, sentuhan-sentuhan suci seperti ini belum hilang semuanya, hanya saja perlu diadakan penguatan dan pemantapan.

C. Wayang: Sebagai Media Pendidikan

Media seringkali diartikan sebagai semua bentuk perantara untuk menyebar, membawa, atau menyampaikan sesuatu pesan (message) dan gagasan kepada penerima. Karena itu media pendidikan dapat diartikan sebagai semua bentuk perantara yang digunakan untuk menyebarkan atau menyampaikan pendidikan kepada penerima[58].

Teknologi modern telah merubah segalanya. Jarak yang jauh mampu ditempuh hanya dalam hitungan menit. Komunikasi merambat lintas negara sehingga orang nan jauh di mato dapat kita hubungi dengan baik. Tidak hanya di perkotaan, teknologi telah mampu menembus pedesaan dan perkampungan. Ini semua merupakan anugerah yang diberikan Allah SWT kepada kita dan kewajiban kita adalah memanfaatkannya ke dalam hal-hal positif. Semua fenomena yang terjadi ini sering disebut dengan globalisasi.

Banyak akibat yang ditimbulkan dari adanya globalisasi khususnya yang banyak menjadi sorotan adalah penemuan teknologi audio visual (tv, internet, dll). Sebuah hasil penelitian menyebutkan bahwa di antara dampak dari adanya teknologi audio visual adalah mampu mempengaruhi pola pikir seseorang. Selain itu juga ada hubungan antara menikmati audio visual dengan sikap agresif, anti social, bahkan menurut seorang pakar dari barat bernama Silverman Wathins mampu menimbulkan kecenderungan atas prevensi seksual. Mewabahnya perzinaan, pemerkosaan, masturbasi, dan sebagainya dinilai timbul dari adanya teknologi audio visual juga.

Dari sini ada beberapa permasalahan muncul, yaitu permasalahan yang berkaitan dengan keberadaan pendidikan islam di Indonesia. Pertama, Apa yang harus kita lakukan dalam upaya mengantisipasi sedini mungkin gejala distorsi moral akibat media audio visual? Kedua, Bagaimana upaya yang harus dilakukan untuk mengangkat citra islam melalui pendidikan islam? Seperti kita ketahui bersama, saat ini umat islam adalah mayoritas dalam hal jumlah akan tetapi mereka adalah minoritas dalam hal pengaruh (memegang kekuasaan). Di mana di sisi lain, negara barat merupakan satu-satunya pemegang kunci kekuasaan, sains, dan teknologi. Sehingga sering terjadi seorang muslim yang belum kuat imannya harus merelakan diri menjadi pembela fanatik barat dan membuang nilai-nilai moral islam yang berada dalam dirinya. Inilah permasalahan yang harus dibedah dan dicarikan solusinya saat ini.

Wayang, sebagai sebuah kesenian yang menyuguhkan hiburan dan tuntunan, sedikit banyak akan menjawab persoalan ini. Sebab dipungkir atau tidak, sejarah telah berkata bahwa wayang pernah menjadi media pendidikan jitu yang dipakai oleh Walisongo untuk menyebarkan dakwah islamiyah ke tanah jawa. Sehingga setidaknya kita bisa berkaca ataupun bercermin dari metode dakwah Walisongo melalui media kesenian wayang kulit ini, sebagai bentuk sumbangsih bagi perbaikan pendidikan Indonesia yang telah diadaptasikan dengan zaman.

Secara etimologi, term pendidikan berasal dari kata “didik” yang diberi awalan “pe” dan “an”. Term pendidikan itu sendiri mempunyai definisi beragam. Ada yang mengartikan pendidikan sebagai proses pengubahan sikap dan tingkah laku seseorang atau sekelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, perbuatan mendidik.[59] Ada yang mendefinisikan pendidikan sebagai usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik memiliki peran di masa datang.[60]

Menurut Dr. Sutrisno, M. Ag., pendidikan yang baik adalah pendidikan yang menghidupkan. Maksudnya adalah pendidikan yang dapat mengatasi masalah-masalah yang dihadapi oleh umat manusia. Karena itu tujuan dari pendidikan itu sendiri adalah untuk mengembangkan manusia sedemikian rupa sehingga semua pengetahuan yang diperoleh manusia akan menjadi organ pada keseluruhan pribadi yang kritis, analisis, dan kreatif, yang memungkinkan manusia untuk memanfaatkan sumber-sumber alam untuk kebaikan umat manusia dan untuk menciptakan keadilan, kemajuan, dan keteraturan dunia.[61]

Memang tidak dipungkiri bahwa wayang merupakan produk import dari bangsa India. Namun bukan berarti masyarakat jawa menerima begitu saja kebudayaan ini, mereka tidak hanya duduk sebagai penonton, tetapi kemudian mereka juga berusaha untuk mengambil alih peran sebagai pelaku dengan menyusupkan nilai-nilai lokal pada setiap lakon. Dan nilai-nilai itulah yang harus digali oleh masyarakat luas sebagai bentuk pendidikan yang baik tetapi juga unik.

Wayang juga sarat dengan kandungan nilai yang sakral. Nilai yang ada itu sangatlah banyak, tetapi kesemuanya tidak pernah lepas dari nilai-nilai pendidikan. Dengan kata lain, kesenian wayang disamping sebagai media hiburan ia juga merupakan media utama masyarakat jawa kuna dalam memperoleh pendidikan. Pendidikan yang diajarkannya adalah corak pendidikan yang menekankan pada pembinaan mental spiritual, dan budi pekerti luhur. Sebab ini berguna untuk menciptakan hubungan harmonis antara jagad gumelar (makrokosmos) dan jagad gumulung (mikrokosmos)[62].

Pendidikan yang ditekankan dalam kesenian wayang adalah pendidikan seumur hidup. Dimulai ketika manusia lahir ke dunia. Ia sudah harus bisa memahami bahwa dirinya merupakan khalifah fil ardhi dengan misi khusus untuk memelihara dan mengatur bumi seisinya. Dalam mengarungi kehidupan ini, manusia juga diingatkan bahwa mereka dihadapkan kepada sebuah kehidupan yang tercipta oleh adanya kekuasaan Yang Maha Besar (Tuhan), sehingga selain mengajarkan penghormatan kepada dirinya (sesama manusia), wayang juga mengajarkan kepada manusia tentang peghormatan kepada sesama makhluk hidup dan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Wayang juga bisa dijadikan sebagai media pendidikan watak. Dalam setiap lakon wayang, selalu terdapat bagaimana tata cara menghormati guru, menghormati orang yang lebih tua, dan menghormati orang yang lebih muda. Seorang guru misalnya, harus memberikan nasehat baik kepada murid-muridnya, tidak sombong, tidak sewenang-wenang. Abdi (Punakawan) harus selalu menghormat, unggah-ungguh ketika diajak bicara dengan bendara (tuan), mendampingi sang tuan kemana saja, baik dalam susah maupun senang. Tetapi Abdi juga harus berani menasehati dan mengingatkan ketika tuannya melakukan kesalahan.

Adanya hubungan yang harmonis seperti inilah yang nantinya akan membentuk nilai-nilai keluhuran sejati. Dan dengan adanya nilai-nilai keluhuran ini, manusia diharapkan bisa menjadi makhluk sadar. Sadar dalam arti menyadari sekaligus memahami akan hakekat kodratnya, yaitu: sebagai makhluk pribadi, sebagai makhluk sosial, dan sebagai makhluk Tuhan[63].

Menurut Hazim Amir, dalam pewayangan terdapat duapuluh nilai etis. Di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Nilai keadilan.

Dalam lakon wayang terdapat pendidikan mengenai keadilan. Misalnya Arjuna yang beristri banyak mampu membahagiakan semua istrinya, tidak pilih kasih, dan selalu adil kepada mereka.

Contoh lainnya yaitu Kresna sebagai pangayoming pandawa tidak pernah membedakan antara si kaya dengan si miskin, penguasa dengan rakyat jelata. Semua ia samakan hak dan kewajibannya. Dan ketika mereka berbuat salah maka mereka harus dihukum sesuai dengan kesalahannya. Karena itu Kresna dijuluki sebagai seorang pemimpin adil, atau dalam ajaran jawa disebut ratu adil.

Ratu adil menurut masyarakat jawa memiliki fungsi sebagai pembaharu dan penyelenggara tertib kosmik.[64]Ia juga merupakan sosok yang mampu mengelola, menyelaraskan, serta mempersatukan keberagaman golongan, kepentingan, dan tingkatan sosial masyarakat sehingga kebijakannya akan memuaskan semua lapisan, sehingga dapat dikatakan wadya panggawa sujud sadaya, tur padha rena prentabe (semua pihak taat serta merasa puas terhadap kebijaksanaannya). Dalam filsafat jawa juga disebutkan bahwa ratu adil memiliki gelar Natanagara yakni orang yang mampu menata negara sehingga makmur, nyaman, tentram, dan adil.[65]

Bila dikaitkan dengan ajaran islam, keadilan merupakan sesuatu yang sangat penting dan harus dijunjung tinggi serta diterapkan dalam setiap kehidupan.

Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”(an-Nisa: 58).

2. Nilai kedermawanan.

Dalam pewayangan, sosok Dewi Durgandini adalah sosok orang dermawan. Ia selalu membantu orang yang membutuhkan walaupun secara materi ia sendiri kekurangan. Menurutnya bahwa siapa yang senang menolong orang lain maka perbuatan itu tidak akan hilang tanpa bekas.

Serat panitisastra, sebagai sebuah serat yang sarat akan ajaran-ajaran moral jawa juga menegaskan akan pentingnya nilai kedermawanan ini.

Sakathahipun para manungsa ingkang sami sugih arta lan kencana punika prayogi asring tetulungan dhumateng tiyang ingkang kawlas asih, kareksaning arta punika ingkang minangka betengipun amung dedana, sinten, ingkang kumet dhateng tiyang ingkang kaluwen lan kasisahan, seastu badhe angsal bebenduning dewa, tiyang keket dhateng arta punika upami griya mboten mawi pager.[66]

Terjemahannya:”Sebanyak-banyaknya manusia yang kaya uang dan emas sebaiknya sering menolong kepada orang yang perlu dibelas kasihani, terjangnya uang itu yang menjadi bentengnya hanya suka membantu, siapapun yang kikir terhadap orang yang kelaparan dan kesusahan, sungguh akan memperoleh amarah dewa, orang yang pelit terhadap uang itu laksana rumah tanpa pagar.”[67]

Dalam islam juga terdapat nilai kedermawanan sepeerti ini. Firman Allah:

Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.”(Ali Imra; 92).

“Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”(Ali Imran: 180).

3. Nilai kebijaksanaan.

Dalam pewayangan, seorang ksatria selalu berusaha untuk menjadi orang bijaksana. Sebagai titisan dewa, Kresna merupakan sosok yang sangat bijaksana sehingga banyak orang yang ingin meniru kepribadian dan kehidupannya.

Sosok Arjuna dalam pewayanganpun juga pantas bila disebut manusia bijaksana. Sikapnya yang mencerminkan sikap seorang ksatria dapat dirumuskan dengan sebuah ungkapan anteng meneng sugeng jeneng. Maksudnya dalam ketenangan ia bisa bertindak, dalam diamnya ia memberikan hasil, dan dalam setiap tindakannya ia membuat orang merasakan kepuasan dhahir bathin. Arjuna adalah sosok ksatria yang tampan jasmani rohaninya. Dalam istilah di agama Budha Arjuna disebut sang Tapa (yang hidupnya bersahaja dan sederhana).[68] Dalam agama islam ia laksana Yusuf yang mampu memikat seluruh wanita Mesir. Akan tetapi ketampanan Yusuf tidak membuatnya lupa diri.

Karena itu ada yang mengatakan bahwa membuat wayang Arjuna sangatlah. Memang bila dilihat sepintas sepertinya sangat sederhana dan mudah, akan tetapi untuk membuatnya diperlukan teknik, kejelian, dan kesabaran yang tinggi agar tercipta sosok Arjuna yang santun dan sederhana.

4. Nilai kesopanan.

Dalam setiap pertunjukan wayang, selalu ditemui penggunaan bahasa jawa yang berbeda sesuai dengan tingkatan-tingkatan penggunaannya dalam masyarakat. Misalnya bahasa jawa istana, dipergunakan oleh raja dengan keluarganya serta para abdi dalem. Bahasa krama dipergunakan oleh bawahan terhadap atasannya kepada sesama teman yang belum akrab, dan juga anak kepada orang tua. Seorang Punakawan juga harus memakai bahasa jawa yang santun ketika berbicara dengan bendara (tuannya). Sedangkan bendara menggunakan bahasa ngoko ketika berbicara dengan Punakawan. Ini menunjukkan bahwa menurut masyarakat jawa, tingkatan dalam berbahasa dipakai sebagai saran pendidikan moral, sopan santun, dan kehalusan budi. Kesalahan pemakaian tingkatan bahasa tersebut akan dinilai sebagai orang yang tidak tahu adat sopan santun, bahkan dinilai kurang ajar.[69]

Dalam ajaran islam, penggunaan bahasa santun kepada orang yang lebih tua merupakan suatu tuntutan bahkan kewajiban. Di katakan dalam Al Quran bahwa seorang anak tidak boleh mengatakan ‘ah’ kepada orang tuanya karena itu tidak sopan dan bahkan dinilai sebagai sikap kurang ajar. Firman Allah:

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.”(al-Israa: 23).

Dalam ayat lainnya, juga mengajarkan tentang pentingnya penggunaan bahasa secara baik dan santun. Firman Allah:

“Dan jika kamu berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Tuhanmu yang kamu harapkan, maka katakanlah kepada mereka ucapan yang pantas.”(al-Israa:28).[70]

“Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.”(al-Furqaan: 63).

5. Nilai demokrasi.

Pertunjukan wayang juga mengandung nilai-nilai demokrasi di mana seorang raja bermusyawarah dengan menteri-menterinya untuk memecahkan suatu masalah. Walaupun raja merupakan pemimpin tertinggi, akan tetapi raja tidak merasa memiliki hak untuk memutuskan suatu perkara. Akan tetapi suara mayoritaslah yang dijadikan pegangan dan dasar untuk melangkah.

Nilai seperti ini juga dapat dijumpai dalam ajaran islam. Islam mengajarkan umatnya untuk selalu bermusyawarah terutama ketika menghadapi masalah yang pelik. Firman Allah:

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.”(Ali Imran: 159).

“Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka.”(asy-Syuura: 38).

6. Nilai keberanian, semangat, dan tekat sejati.

Dalam pewayangan nama Karna atau Basukarna sudah tidak asing lagi. Dalam beberapa hal sikapnya sering dikaitkan dengan istilah Laku Becik Tinutupan ing Ala. Tentunya ini menjadi sebuah tanda tanya besar, mengapa? Bila kita melihat kembali biografi dan perjalanan hidupnya mulai dari lahir sampai konflik yang terjadi antara Pandawa dan Kurawa dan klimaksnya pada perang Bharatayuda, kita akan mendapatkan jawabannya.

Diceritakan bahwa suatu hari Dewi Kunthi hendak mencoba menggunakan aji Adityaherdaya atau aji Punta Wekasing Rasa Tunggal Sabda Tanpa Lawanan.[71]Ajian ini mempunyai daya bisa mendatangkan para Dewa yang mampu memberikan anak kepadanya tanpa berhubungan badan. Ia bersemedi kemudian memohon kepada Dewa agar berkenan mendatangkan Bathara Surya. Karena ajian ini berfungsi untuk mendapatkan seorang anak maka ketika Bathara Surya datang segera saja Kunthi mengandung seorang jabang bayi. Karuan Kunthi histeris. Ia bingung setengah mati karena tak tahu apa yang harus diperbuatnya.

Begitulah, tidak lama kemudian Kunthi benar-benar melahirkan seorang anak yang kemudian dinamai Suryatmaja. Karena malu punya anak tanpa ayah yang jelas, akhirnya Kunthi terpaksa melarung bayi itu ke sungai Gangga. Kemudian Suryatmaja yang masih bayi tersebut ditemukan dan diambil anak oleh seorang kusir kereta Negeri Ngastina bernama Radeya. Jadi bila dilihat dari sejarahnya, Karna atau Suryatmaja merupakan kakak tertua dari Pandawa.

Ketika telah dewasa, Suryatmaja atau Karna ditawari oleh prabu duryudana untuk bergabung membela negeri Ngestina. Iapun dengan senang hati menerima tawaran tersebut. Bahkan ia bersumpah bahwa selama hidupnya ia akan selalu membela negeri Ngastina.

Tidak lama kemudian Karnapun diangkat menjadi ratu di kerajaan Ngawangga yang masih berada di bahwa pengaruh Ngastina. Iapun diberi julukan Adipati Karna atau Adipati Basukarna. Ia terkenal sakti mandraguna sebab ia merupakan anak Bathara Surya. Ia mempunyai Kotang Antakusuma dan senjata Kunta Baskara yang merupakan pemberian Bathara Indra. Daya yang dihasilkan dari Kotang Antakusuma adalah tidak mempan oleh senjata apapun. Sedangkan senjata Kuntanya memiliki kekuatan jika dipanahkan ke gunung, maka seketika gunung tersebut akan meledak, bila dipanahkan ke bumi maka bumi akan hancur, dan sebagainya. Tetapi kelemahannya senjata tadi hanya bisa dipakai sekali saja.

Ketika perang Bharatayuda meletus, Karna bingung hendak membela mana, Pandawa atau Kurawa. Tetapi setelah mendengar nasehat dari Kresna iapun mantap dan bertekat untuk membela Kurawa walaupun ia tahu bahwa Kurawa berada di pihak yang salah. Sebab ia telah berjanji dan merasa berhutang budi kepada Duryudana. Sebagai seorang ksatria haruslah menepati janjinya bila tidak menepati janji maka tidak pantas bila disebut sebagai ksatria.

Karna kemudian bertarung melawan Arjuna. Dalam pewayangan perang Karna vs Arjuna terdapat di lakon Karna Tandhing. Dalam lakon tersebut diceritakan bahwa karna mengendarai kereta kuda dengan Prabu Salya sebagai kusirnya. Di pihak Arjunapun demikian, dengan Kresna sebagai kusirnya. Tak lama kemudian perang hebatpun dimulai. Baik Karna maupun Arjuna mempunyai kekuatan yang hebat sehingga sulit untuk menentukan mana yang menang dan mana yang kalah. Tetapi akhirnya Arjunalah yang memenangkan pertandingan. Ia berhasil memanah leher Karna dengan panah Pasopati. Karna gugur di medan laga sebagai seorang ksatria utama.

Kisah kebulatan tekat dan semangat dari Basukarna ini kemudian ditulis dan diabadikan dalam kitab Tripama karangan K.G.P.A.A. Mangkunegara IV. Dalam bentuk tembang Dhandhanggula;

Yogya malih kinarya palupi

Suryaputra Narpati Ngawangga

Lan Pandawa tur kadange

Len yayah tunggil ibu

Suwita mring sri kurupati

Aneng nagri Ngastina

Kinarya gul-gul

Manggala golonganing prang

Bhratayuda ingadeken senapati

Ngalaga ing Korawa

Minungsuhaken kadange pribadi

Aprang tandhing lan sang Dananjaya

Sri karna suka manahe

Dene sira pikantuk

Marga denya arsa meles-sih

Ira sang Duryudana

Marmata kalangkung

Denya ngetog kasudiran

Aprang rame Karna mati jinemparing

Sumbaga wirotama

Dari perjalanan hidup seorang Basukarna ini terlihat jelas akan adanya nilai keberanian, semangat, dan tekat sejati. Keberanian Karna tercermin ketika ia bersedia bertanding melawan Arjuna yang merupakan adiknya. Semangatnya terlihat jelas ketika ia bahu membahu memperluas daerah kekuasaan Ngastina. Sedangkan tekad sejatinya tercermin dalam sumpah setianya untuk mengabdi di Ngastina selama-lamanya.

Perlu digaris bawahi bahwa keputusan Basukarna untuk membela Ngastina atau Kurawa ini bukan karena dilandasi oleh keinginannya untuk membasmi kebenaran, namun sebaliknya ia ingin menegakkan kebenaran dengan caranya sendiri dan tanpa menghilangkan atau mencemari status ksatriaannya..

D. Wayang, Islam, dan Jawa dalam Wacana

Sebagai pandangan dan sikap hidup, sama juga dengan suku-suku bangsa yang ada di Indonesia, kebudayaan Jawapun bersentuhan dengan kebudayaan-kebudayaan lainnya. Persentuhan itu melahirkan akulturasi budaya. Karenanya, akulturasi budaya haruslah dipandang sebagai keniscayaan sejarah peradaban bangsa-bangsa di belahan bumi mana pun. Yang terpenting, bagaimana kita memahami budaya Jawa yang mana pula bukan budaya Jawa, kemudian menghayati serta mengejawantahkan nilai-nilai filosofis yang dikandungya sehingga membawa pengaruh positif dalam kehidupan.[72]

Semenjak menginjakkan kakinya ke tanah jawa, islam sudah mulai menyadari bahwa masyarakat jawa dan kesenian wayang merupakan layaknya ‘sepasang kekasih’ yang saling mendukung eksistensinya satu sama lain, sehingga mustahil untuk dipisahkan. Menyadari akan adanya hal seperti ini, islam di jawa dengan Walisongonya mempunyai inisiatif untuk menjadikan kesenian wayang sebagai media dakwah.

Walisongo, terutama Sunan Kalijaga, memodifikasi bentuk dan cerita wayang agar sesuai dengan ajaran islam. Sebab menurut mereka, sebelumnya kesenian wayang sarat dengan bentuk-bentuk kemusyrikan. Misalnya saja terdapat cerita-cerita tentang dewa-dewa, arwah-arwah, pemujaan terhadap roh-roh nenek moyang, dsb. Semuanya dirubah secara pelan-pelan namun pasti menjadi bentuk dan cerita yang bernuansa islami. Misalnya saja Sunan Kalijaga menggubah beberapa lakon wayang dan diantaranya yang terkenal adalah lakon Jimat Kalimasada, Dewa Ruci, dan Petruk dadi ratu.[73] Usaha lainnya yaitu mengubah sistem hirarki kedewaan yang menempatkan dewa-dewa itu sebagai pelaksana perintah Tuhan saja dan bukan sebagai Tuhan.[74]

Walisongo sebagai ulama-ulama sentral di jawa, selain sebagai seorang guru, mursyid, kyai, pembimbing rohani, juga terkenal sebagai para budayawan yang mempunyai pandangan luas. Mereka memahami bahwa untuk mengubah pendirian masyarakat jawa terhadap kepercayaan Hindu Budha, harus dilakukan dengan cara yang baik. Cara yang baik di sini maksudnya adalah cara yang disukai masyarakat jawa. Cara yang tidak mengusik secara paksa eksistensi budaya mereka. Akan tetapi sedikit demi sedikit membuka dialog batin, mengadakan akulturasi dan asimilasi, serta pendekatan-pendekatan secara santun. Sistem politik yang selalu dipakai Walisongo adalah sistem politik ‘ojo nabrak tembok’ (tidak menentang arus).

Menurut Teguh, M.Ag dalam Moral Islam dalam Lakon Bima Suci, dakwah sunan Bonang dan sebagian besar Walisongo adalah dakwah kultural.[75] Semboyan yang mereka usung adalah “tut wuri hangiseni” yang berarti dalam berdakwah, mereka selalu memanfaatkan kultur jawa. Peluang-peluang yang ada mereka pergunakan dengan sebaik-baiknya sehingga terciptalah perpaduan antara jawa dengan islam. Seperti misalnya Sunan Bonang yang memanfaatkan gending jawa, kebiasaan ataupun kesenangan orang jawa, suluk atau tembang tamsil, wayang, dan sebagainya. Dengan kata lain secara konseptual metode dakwah sunan Bonang sendiri dan juga walisongo lainnya biasa disebut dengan istilah ”Mau’idzatul hasanah wa mujahadah billati hiya ahsan.” Metode ini biasa digunakan untuk tokoh-tokoh khusus, misalnya raja, bangsawan, orang kaya, tuan tanah, maupun tokoh-tokoh masyarakat setempat. Dasar metode yang dipakai mereka adalah:

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (an-Nahl: 125).

Bila kita mau memahami, sebetulnya sejak dahulu, masyarakat jawa merupakan masyarakat yang gampangan. Mereka merupakan tipe masyarakat yang sangat terbuka, sangat toleran, dan menghargai budaya asing yang mencoba ‘mengetuk pintu’. Ini terlihat jelas pada motto kebangsaan bhinneka tunggal ika yang dikutip dari kitab Sutasoma buah karya Empu Tantular sekitar abad 13 masehi.[76]Dan ini pula menjadi alasan utama mudahnya agama islam menyebar dan mendominasi kepercayaan masyarakat jawa.

Adanya prinsip bhineka tunggal ika dalam tubuh masyarakat jawa telah membawa mereka kepada sikap selalu waspada. Istilah aja tinggal kawaspadan, merupakan istilah yang lahir karena adanya semangat terhadap hal ini. Mengingatkan kepada sesama bahwa dalam pluralitas selalu saja terdapat hal-hal yang bisa menjerumuskan diri ke dalam lembah kesengsaraan. Oleh karena itu kebhinekaan mereka berdiri teguh di atas semboyan aja dumeh. Maksudnya aja dumeh kuwasa lalu menginjak-injak yang lemah, aja dumeh suggih kemudian lupa terhadap sang miskin, aja dumeh bener lalu mencela dan mengolok-olok yang salah, dan sebagainya.

Hasil pemahaman walisongo lainnya tentang masyarakat jawa yaitu bahwa masyarakat jawa pada dasarnya merupakan masyarakat yang kental dan terbiasa dengan tradisi-tradisi mistik Hindu-Budha. Karena itu, Walisongo mengembangkan pengaruh sufisme dan hal itu terbukti hingga kini, di mana pemikiran islam tradisional di Indonesia tidak bisa lepas dengan warna sufinya.[77]

Dalam kehidupan sehari-hari misalnya, sering terdapat upacara slametan, ziarah ke makam leluhur, bersih desa, nyadran, tingkepan, dan sebagainya, yang kesemuanya itu merupakan hasil asimilasi Islam-Jawa.

Memakai bahasa dari Prof. Dr. Abdurrahman Mas`ud, Ph. D., bahwa selama ini islam di Jawa dinilai sebagai syncretic atau ‘impure islam’ alias islam campuran yang terkontaminasi. [78]Ini akibat dari adanya akulturasi yang berlebihan yang dilakukan oleh Walisongo sehingga sampai saat ini sangat sulit untuk menciptakan islam murni yang tidak bercampur dengan kejawen.[79] Selain itu sulitnya untuk mempublikasikan islam secara murni juga dikarenakan masyarakat jawa memahami agama menggunakan kerangka atau alat kebudayaan yang dimilikinya. Perbedaan kerangka dan alat yang digunakan itulah yang membawa implikasi perbedaan pemahaman dan praktek keagamaan.[80]

Dalam sejumlah pertunjukkan wayang, kita bisa melihat adanya pembenahan dan perubahan-perubahan dalam setiap alur ceritanya.[81] Misalnya mengenai kisah tentang misteri serat Jamus Kalimasada. Di mana menurut cerita Walisongo, Kalimasada merupakan serat yang berisi mantara yang sangat ampuh untuk melawan kebatilan. Tetapi semua orang tidak ada yang tahu mengenai isi serat ini. Dan di akhir cerita disebutkan bahwa isi dari serat ini adalah dua kalimat syahadat.”Tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah.”Sehingga secara tidak langsung mereka telah mengajarkan kepada masyarakat jawa, akan cara ataupun syarat utama untuk masuk islam. Dan menariknya lagi bila kita simak lebih mendalam, masyarakat jawa dengan penuh keluguan ikut menerima dan membaca syahadatain, sebab menurut pemahaman mereka bahwa dengan membaca syahadatain maka mereka akan memperoleh kesaktian yang ampuh, hebat mandraguna.

Sebenarnya tanpa sadar mereka telah memeluk islam dan menyatakan kebenaran risalah Muhammad SAW. Setelah berhasil menuntun masyarakat jawa untuk mengucapkan syahadatain, kemudian Walisongo mengajarkan tentang pantangan bagi orang yang telah membaca mantra tersebut. Yakni bahwa mereka tidak boleh berbuat dosa, harus selalu berakhlakul karimah, mentaati peraturan-peraturan yang telah ditentukan Tuhan, dan mereka juga diwajibkan mengerjakan shalat sebagai sarana untuk menjaga kehebatan atau kemanjuran mantra itu. Dan akhirnya Walisongo sukses mengislamkan masyarakat Jawa dengan perlahan-lahan namun pasti, damai, dan tanpa timbul konflik[82]

Sebetulnya keberhasilan Walisongo ini juga didukung oleh kepercayaan masyarakat jawa kuna bahwa wayang merupakan identitas utama mereka. Sehingga mereka cenderung gemar beridentifikasi dengan tokoh-tokoh wayang tertentu dan bercermin serta bercontoh padanya dalam melakukan perbuatan dalam kehidupan sehari-harinya. Karena itu tidak mengherankan ketika kesenian wayang dialihfungsikan menjadi media pendidikan islami, secara spontan pula masyarakat bercontoh dan bercermin padanya. [83]

BAB III

MENGENAL FIGUR PUNAKAWAN

A. Panakawan: Abdi Sekaligus Teman Sejati

Pagelaran wayang kulit tidak pernah akan sempurna bila tidak dilengkapi dengan kehadiran Panakawan.[84] Kemunculan empat orang abdi Pandawa ini menjadi saat yang ditunggu-tunggu para penonton. Sebab kemunculan mereka selalu diwarnai dengan humor-humor yang dapat membangkitkan semangat penonton. Yang ngantuk menjadi tidak ngantuk, yang tidur menjadi terbangun, bahkan yang masih di rumah spontan keluar menuju tempat pagelaran. Ini mengisyaratkan bahwa Panakawan adalah empat sosok yang telah dikenal masyarakat, dicintai masyarakat, dan dipanuti masyarakat. Guyonan-guyonan yang mereka suguhkan selain memuat ‘energi-energi pencerahan’, juga memuat nilai-nilai pendidikan yang tentunya dikemas dan disuguhkan secara apik dan menarik.

Bila kita perhatikan, wayang Panakawan memiliki bentuk-bentuk khas, aneh, dan cenderung berbeda dengan bentuk wayang lainnya. Misalnya saja Semar yang mempunyai perut gendut, dan berbokong mlenuk, atau petruk yang berhidung panjang seperti Pinokio, berbadan tinggi kerempeng, atau Gareng yang postur tubuhnya kecil, berhidung besar, kakinya pincang, ataupun Bagong yang identik dengan bibirnya yang kata orang jawa ndobleh atau ngowoh. Tetapi di balik keanehan bentuk mereka, sesungguhnya mempunyai makna ataupun arti tersendiri yang bagi orang jawa sangatlah mendalam. Bentuk tubuh mereka mengindikasikan bermacam-macam peran, seperti penghibur, kritisi sosial, badut, bahkan sumber kebenaran dan kebijakan.

Menurut sejarah, wayang Panakawan adalah hasil karya dari Sunan Kalijaga ditengah-tengah kesibukan beliau menyebarkan agama islam melalui akulturasi dan asimilasi. Beliau mempunyai keinginan untuk menjabarkan ataupun menggambarkan kondisi kehidupan masyarakat jawa, masalah-masalah yang mereka hadapi, dan solusi-solusi untuk memecahkan masalah-masalah tersebut. Karena beliau berlatar belakang ulama islam, maka beliau menggunakan ajaran islam sebagai ‘ladang luas’dan referensi utama yang di dalamnya penuh dengan solusi-solusi untuk memecahkan masalah-masalah kehidupan. Dan wayang Panakawan merupakan gambaran tentang kehidupan, kepribadian manusia, dan warna-warni yang menghiasi kehidupan itu sendiri.

Menurut Bedjo Tanudjaja yang merupakan Dosen Universitas Kristen Petra, “Panakawan are typical figures in Indonesian wayang, they have unique character and can do various roles, like: nanny, warrior advisor, entertainer, critism, comedian, utterance about thruth and wisdom. Because they have multifunction and typical figures, Punakawan can be an effective media to communicate a visual message.”

Terjemahannya:

Panakawan adalah tokoh yang khas dalam wayang Indonesia, mereka mempunyai karakter yang unik dan bisa menjalankan berbagai macam peran, seperti pengasuh dan penasehat para ksatria, penghibur, kritikus, pelawak bahkan sebagai penutur kebenaran dan kebajikan. Karena fungsinya yang begitu beragam dan figurnya yang begitu khas, maka Panakawan merupakan media yang efektif untuk menyampaikan suatu pesan secara visual.

Panakawan berasal dari kata puna yang berarti ngerti, dan kawan yang berarti teman. Jadi Panakawan bisa diartikan sebagai teman yang tahu. [85]Bagi keluarga Pandawa, Panakawan adalah abdi sekaligus kyai mereka. Atau bisa dikatakan sebagai batur sekaligus orang tua mereka. Sebab, semenjak kecil mereka telah di momong dan diajari tentang makna dari kehidupan. Sejak kecil, Pandawa digembleng menjadi ksatria-ksatria berbudi bawaleksana, menjadi contoh buat kawula alit (rakyat jelata), dan menjadi manusia yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Ada pula yang mengartikan Panakawan puna berarti cerdik, jelas, pengamat dan kawan berarti sahabat. Panakawan berarti kawan atau teman yang cerdik. Mereka seringkali mampu menyadarkan Pandawa ketika salah jalan. Panakawan juga sering disebut Wulucumbu yang berarti abdi kinasih kesatria berwatak luhur, yaitu Pandawa lima.

Menurut Franz Magnis Suseno dalam ceramahnya pada Lembaga Javanologi Yayasan Panunggalan Yogyakarta menyatakan bahwa Semar dan anak-anaknya sebagai pelindung dan pengantar para Pandawa. Dalam diri mereka timbul suatu paham yang kuat dan mendalam antara masyarakat jawa, bahkan rakyatlah yang merupakan sumber kebenaran dari kekuatan kesuburan dan kebijaksanaan, bukan semata-mata kekuatan itu muncul dari lingkungan keraton.[86]

Sebenarnya, Panakawan itu tidak hanya terdiri dari Semar, Gareng, Petruk, dan Bagog saja. Selain mereka masih ada lagi, yaitu Togog, Bilung, Cangik, Limbuk, Sarawita,Dewi Clekutana, Retna Juwita, Parekan Buta, Cantrik janaloka, dan Kethek Kacangan.[87] Dalam pewayangan, Semar dan anak-anaknya merupakan Panakwan untuk Pandawa, Togok dan Belung merupakan Panakawan untuk Kurawa, dan Cangik dan Limbuk merupakan Panakawan untuk para putri. Sedangkan Panakawan sisanya jarang dimainkan dalam pakeliran.[88]

Ditinjau dari sejarah hidupnya dalam pewayangan, Panakawan Semar dan anak-anaknya hidup dan mengabdi sejak generasi Sakutrem, Sakri, Manumayasa, Palasara hingga Abiasa dan Arjuna. Karena itu dapatlah dikatakan bahwa mereka merupakan saksi hidup ksatria-ksatria berbudi bawaleksana. Mereka juga merupakan saksi bangkit runtuhnya kerajaan-kerajaan di tanah jawa (dalam konteks pewayangan). Mereka juga yang merupakan saksi dari ganasnya kehidupan dari beberapa generasi yang sangat panjang.
Dalam kesehariannya, Pandawa tidak pernah lepas dari Panakawan. Di manapun Pandawa berada di situ Panakawan ada. Ini mengajarkan kepada kita bahwa abdi adalah pembantu dan teman bagi tuannya. Sehingga sang tuan tidak berhak untuk berbuat sewenang-wenang kepadanya. Dengan adanya tokoh Panakawan, pagelaran wayang menjadi lebih hidup, semarak, dan penuh hikmah. Karena di alamnya terdapat dialog dan interaksi antara dhalang (wayang) dengan audiens serta merupakan sentral para dhalang dalam menyampaikan amanat dan pesan moral yang tentunya tidak bisa/sulit untuk disampaikan pada adegan atau lakon lainnya.

Panakawan dengan Pandawa adalah laksana buah dengan pohonnya. Buah walau ia kecil tetapi selalu dilindungi dan dinaungi oleh pohonnya yang rimbun dan kuat. Dan pohon tidak pernah minta pamrih walau telah memelihara sang buah, begitu juga buah tidak pernah lupa untuk mengucapan terima kasih karena telah dipelihara dan dibesarkan oleh sang pohon. Mereka hidup tumbuh berkembang dengan danami, serasi, dan saling melengkapi dan menguntungkan.

Sikap yang mereka miliki ini sangat sesuai dengan sikap yang dimiliki oleh masyarakat jawa. Kita tahu, bahwa masyarakat jawa sangat menjunjung tinggi derajat setiap manusia. Bahkan pada dasarnya, masyarakat jawa telah lama mengenal persamaan derajat antara lelaki dengan wanita, antara abdi dengan tuannya. Dalam hubungan antara istri dengan suami misalnya, dikenal istilah sing bekti marang laki (yang berbakti kepada suami). Bekti atau berbakti di sini bukan karena terpaksa, tetapi lebih karena cinta dan kasih sayang.

Term bekti dalam hubungan Pandawa dengan Panakawanpun tidak bisa diartikan takut atau terpaksa. Akan tetapi karena didasari atas dasar kesadaran dan cinta. Panakawan adalah abdi yang cinta kepada Pandawa karena dalam diri Pandawa terdapat kebaikan-kebaikan. Fitrah manusia adalah cinta kepada kebaikan-kebaikan. Sehingga wajar saja bila Panakawan selalu mendampingi dan mengayomi Pandawa. Hubungan Panakawan dengan Pandawa merupakan cerminan perjalanan hidup seorang hamba yang selalu berusaha untuk mendapatkan kebenaran dan menjauhi wewaler (larangan).

Bentuk usaha seperti ini juga sesuai dengan ajaran islam, di mana setiap hamba diwajibkan untuk selalu berusaha mendapatkan kautaman (keutamaan) dalam hidup dan menjauhi kejelekan-kejelekan atauopun wewaler hidup. Karena itu umat islam diberi tuntunan agar senantiasa membaca ta`awudz dan surah Al Fatihah yang di dalamnya berisi doa ataupun permohonan kepada Allah agar selalu diberi petunjuk berupa jalan yang lurus. Yang dimaksud jalan yang lurus adalah jalan yang tidak menyesatkan dan jalan yang diridhai Allah.

Walau hanya berstatus sebagai abdi, Panakawan tidak segan-segan menegur Pandawa ketika melakukan suatu kesalahan. Bahkan mereka berani mengorbankan nyawa hanya untuk menyadarkan pandawa. Ini tentunya memberikan isyarat buat kita, bahwa sesuatu yang benar haruslah selalu dijaga dan dibela, walau dengan bertaruh nyawa sekalipun. Di lain sisi, Pandawa juga dengan ikhlas hati menerima nasehat yang diberikan Panakawan kepada mereka. Sebab ini sesuai dengan petunjuk kanjeng Rasul. Beliau bersabda,”Lihat dan perhatikan apa yang diucapkannya, dan jangan melihat dan memperhatikan siapa yang mengucapkannya.”

Panakawan adalah pelita ataupun penerang bagi Pandawa. Makna pelita atau penerang di sini sangatlah luas. Di antaranya, Panakawan menjadi pelipur ketika Pandawa mendapatkan cobaan dan ujian dari Tuhan. Punakawan selalu berusaha untuk menyenangkan hati tuannya, menebarkan kedamaian, ketentraman, dan kesejahteraan. Mengajarkan kepada tuannya untuk narima ing pandum, yakni agar selalu menerima apa adanya. Aja dumeh sugih, kemudian berfoya-foya. Mengajarkan arti pentingnya hidup sederhana, dermawan, dan usaha serta tawakal.

B. Panakawan: Semar Badranaya

Dalam setiap pentas pewayangan tokoh Semar selalu hadir memberikan pencerahan kepada para ksatria yang sedang dirundung duka atau kekalahan perang. Semar adalah tokoh wayang yang sosoknya kotroversial dan kehidupannya penuh dengan keunikan. Dalam masyarakat ia dipercaya mewakili mikrokosmos sekaligus makrokosmos budaya jawa. Dalam dunia pewayangan tokoh Semar begitu mempesona, daya tariknya mampu memukau dan menghibur penonton. Ia merupakan wakil antara dunia manusia dengan dunia para Dewa, antara dunia jiwa dengan dunia nyata, dan antara sifat maskulinisme dan feminisme. Semar melambangkan kebenaran dan kearifan. Kebenaran yang bersifat hakiki dan kearifan sesuai dengan fitrah dan alam kemanusiaan.

Telah disepakati bersama bahwa Semar merupakan Pengasuh atau pamomong bagi keluarga Pandawa. Dzahirnya ia adalah seorang abdi, akan tetapi pada hakekatnya ia merupakan guru spiritual, kyai, ulama, yang selalu mengajarkan tentang keutamaan-keutamaan dan kesempurnaan hidup kepada keluarga Pandawa. Sehingga bila diperhatikan, keluarga Pandawa tidak ada yang berani menerima sembah sujudnya (penghormatan) Semar seperti kebanyakan abdi ketika hendak berbicara kepada sang raja, karena pada hakekatnya ia bukanlah abdi akan tetapi dewa yang menitis atau bersemayam dalam tubuh manusia.

Semar itu merupakan putra dari Sang Hyang Tunggal dan Dewi Wiranti atau Rekatawati. Semar merupakan saudara dari Sang Hyang Antaga dan Sang Hyang Manikmaya. Ketika Semar masih berada di kayangan, namanya adalah Bambang Ismaya. Ia punya istri bernama Dewi Kanastri dan memiliki sepuluh putra yaitu: Sang Hyang Bongkokan, Temburu, Kuwera, mahyati, Siwah, Surya, Candra, Yamadipati, Kamajaya, dan Darmanastiti.

Diceritakan dalam pewayangan, bahwa pada suatu hari Dewi Rekatawati (istri Sang Hayang Tunggal) bertelur.[89] Kemudian tiba-tiba telur tersebut terbang menuju Sang Hyang Wenang (Dewa tertinggi atau Tuhan dalam cerita pewayangan). Akhirnya tidak selang beberapa lama, telur tersebut menetas disertai dengan berbagai keajaiban. Diceritakan bahwa kulit telurnya menjadi Tejamantri yang kemudian menjadi Togog, putih telurnya menjadi Bambang Ismaya yang kemudian menjadi Semar, dan kuning telurnya menjadi Manikmaya yang kemudian menjadi Batara Guru.

Tiga anak tersebut tumbuh berkembang menjadi dewa-dewa yang sangat sakti, sehingga suatu hari timbul pertengkaran di antara mereka. Manikmaya kemudian mengajukan sebuah perlombaan untuk menelan gunung kemudian dimuntahkan kembali. Setelah disepakati, segera mereka memulai perlombaan yang tidak masuk akal itu.

Tejomantri yang mendapat urutan paling awal, gagal menelan gunung. Ini dikarenakan belum cukup ilmunya, sehingga dikemudian hari terjadilah perubahan pada mulutnya (sehingga disebut togog). Kemudian Bambang Ismaya, ia berhasil menelan gunung akan tetapi tidak berhasil mengeluarkannya. Ini disebabkan ia tidak mempunyai daya kekuatan untuk mengeluarkan bumi dari dalam perut, walaupun pada dasarnya ia merupakan orang yang berilmu tinggi.Yang terakhir Manikmaya, karena gunungnya telah ditelan Semar dan tidak bisa dikeluarkannya, maka Manikmaya tidak perlu lagi melanjutkan perlombaan itu. Dan berawal dari peristiwa itu, kemudian Manikmaya diangkat menjadi Dewa bergelar Bathara Guru.

Bentuk mata Semar setengah menutup seperti orang bangun tidur. Tetapi sebetulnya Semar itu tidak pernah tidur, sebab Semar memiliki Mustika Manik Astagina yang memiliki daya tidak membuat ngantuk apalagi tidur. Matanya itu mengisyaratkan bahwa Semar sangat menjaga pandangan dari memandang hal-hal yang dapat menghantarkan manusia ke lembah kenistaan dan dosa.

Tangan Semar yang menunjuk, mengisyaratan bahwa Semar merupakan abdi sekaligus guru yang berfungsi menunjukkan jalan kebenaran. Ia merupakan sosok guru yang meyakini bahwa pendidikan merupakan upaya strategis dan mendasar dalam menyiapkan sumber daya manusia dalam pembangunan, baik itu pembangunan fasilitas-fasilitas publik ataupun pembangunan mental spiritual. Semar berusaha untuk menghasilkan para pendidik dan pejuang yang mendasarkan diri atas dasar berjuang tanpa mengharapkan pamrih.

Sedangkan tangan Semar yang satunya malah menggenggam, menutup. Ini mengisyaratkan bahwa Semar selalu berusaha untuk memegang prinsip dan kebenaran yang diyakininya. Tentunya semua itu merujuk kepada wahyu yang diturunkan Allah kepada RasulNya. Tangan Semar yang menggenggam ini juga mengajarkan kepada kita bahwa untuk membela kebenaran itu bukanlah perkara mudah. Tetapi sebaliknya, merupakan perkara sulit, bahkan nyawalah taruhannya.

Dalam kehidupannya, Pandawa dengan status mereka sebagai murid Semar, selalu berusaha untuk merealisasikan isyarat dari tangan Semar yang menggenggam ini. Pandawa berusaha untuk membasmi kebathilan dan puncaknya dibuktikan dalam perang Bharatayuda sebagai sebuah peperangan terbesar dalam sejarah pewayangan yang dijadikan sarana untuk menentukan mana benar dan mana salah. Batasannya, siapa menang maka itulah yang benar sebab sesuai dengan kodratnya bahwa kebenaran pasti akan selalu menang. Dan ternyata pihak Pandawalah yang menjadi sang pemenang. Dan ini cukup untuk membuktikan bahwa mereka merupakan orang-orang yang benar dan selalu berjuang demi menegakkan kebenaran.

Bambang Ismaya kemudian dititahkan turun ke bumi untuk mengabdi kepada Pandawa dan membantu mereka dalam memerangi kejahatan. Ia menitis ke dalam diri Janggan Semarasanta yang merupakan seorang abdi dari pertapan Saptaarga. Kemudian Janggan Semarasanta dijuluki dengan Ki Lurah Semar. Oleh Ki dhalang, peristiwa manunggaling kawula gusti (menyatunya Bambang Ismaya ke dalam diri Janggan Semarasanta) sering diterjemahkan sebagai turunnya Sang Maha Kuasa ke alam manusia dengan cara yang samar dan penuh misteri. Karena itu struktur tubuh Semarpun penuh dengan misteri. Para ahli banyak juga yang telah mencoba untuk menterjemahkan dan menjelaskan simbol-simbol yang terlukis dalam diri Semar.

Dalam alam manusia, diceritakan bahwa Semar tinggal di karangdempel.[90]maksudnya Semar selalu tinggal dan ‘menyirami’ hati setiap manusia yang gersang, gelisah, dan jauh dari Tuhan. Sehingga bisa dikatakan bahwa Semar selalu hadir dan menyantuni orang yang miskin/kekurangan kebutuhan rohani’. Karena itu dalam pewayangan juga dikatakan bahwa ia diperintahkan untuk menguasai alam Sunyaruri, atau alam kosong, dan tidak diperkenankan menguasi manusia di alam dunia. Maksudnya alam kosong adalah alam yang kosong dari cahaya Ilahi yang kemudian Semar diperintahkan untuk mengisi alam kosong itu dengan kebutuhan-kebutuhan rohani yang berguna bagi manusia.

Dari segi etimologi, ada yang berpendapat bahwa Semar berasal dari sar yang berarti sinar ” cahaya “. jadi Semar berarti suatu yang memancarkan cahaya atau dewa cahaya, sehingga ia disebut juga Nurcahya atau Nurrasa sebab ia selalu menerangi setiap jiwa yang sedang gelisah dan membuat jiwa itu tenang dan tentram.

Ada pula yang mengatakan bahwa nama Semar aslinya berasal dari bahasa Arab ismar yang berarti paku.[91] Maksudnya ia adalah sumber kebenaran dan sumber rujukan untuk mendapatkan kebenaran. Ia adalah guru yang berusaha menancapkan ajarannya dalam jiwa dan sikap hidup setiap orang. Misalnya dalam lakon Semar Mbangun Kayangan jelas terlihat bahwa Semar merupakan guru besar yang hendak membersihkan hati Pandawa dari sifat-sifat tercela. Menjadikan pandawa sebagai ksatria bermental baja, kokoh dalam pendirian. Sebagai paku (ismar=paku), semar hendak menancapkan wawasan spiritual islam dalam diri Pandawa. Sehingga pandawa merupakan cerminan dari rukun islam yang lima, yang di dalamnya penuh dengan ajaran tentang kebajikan.

Ada juga yang mengatakan Ismaya berasal dari Maya berarti cahaya hitam, yaitu cahaya untuk menyamarkan sesuatu. Juga disebut Semar karena ia samar, tidak jelas. Mengenai sosok Semar, dikatakan:

Yang ada itu sesungguhnya tidak ada.
Yang sesungguhnya ada, ternyata bukan.
Yang bukan dikira iya.
Yang wanter (bersemangat) hatinya, hilang kewanterane (semangatnya), sebab takut kalau keliru.

Nama lain dari Semar adalah Batara Semar, Ki Lurah Badranaya, Nayantaka, Saronsari, Juru Dyah Puntaprasanta, Janggan Semarasanta, Bogajati, Wong Boga Sampir, Batara Ismaya, Batara Iswara, Batara Samara, Sanghyang Jagad Wungku, Sanghyang Jatiwasesa, Sanghyang Suryakanta.

Menurut Ki Resi Wahono, Ki Semar identik dengan nama Kyai Lurah Nayataka. Naya artinya sinar atau cahaya. Sedangkan taka mempunyai arti pati atau mati. Jadi Nayataka mempunyai arti sinarnya pati atau Dhat luhur yang sudah terluput dari pengaruh badan jasmani terbebas dari segala keinginan duniawi. Jika ditinjau dari nama, Nayataka artinya seorang yang luhur derajatnya dan martabatnya.

Semar juga bergelar Hyang Maya. Kata maya di sini diartikan sebagai tidak berwujud tetap atau selalu berganti-ganti sifat, tidak tentu jenis kelaminnya laki-laki atau perempuan. Maka dapat ditarik kesimpulan, bahwa Semar bukanlah manusia wajar melainkan nama yang memperlambangkan unsur yang selalu mengikuti dan melindungi seseorang atau perlambang sebagai kawan. Pengertian yang lebih dalam adalah lambang suksma, roh atau jiwa yang berada di dalam diri kita semua. Secara filosofis mengandung arti hubungan antara keluarga Pandawa dengan Panakawan. Karena itu, kehadirannya sebagai pengasuh merupakan sosial kontrol, memberi koreksi, reaksi, dan kritik terhadap para ksatria Pandawa memperlambangkan hidupnya demokrasi.
Semar sering pula dipanggil dengan Semar Badranaya. Badranaya berasal dari kata bebadra yang berarti membangun sarana dari dasar dan nayaka yang berarti utusan mangrasul. Sehingga Badranaya memiliki arti Mengemban sifat membangun dan melaksanakan perintah Allah demi kesejahteraan manusia.

Tetapi ada juga yang mengartikan Badranaya dengan arti berbeda. Badra diartikan rembulan sedangkan naya diartikan sebagai perilaku kebijaksanaan. Karena itu Semar Badranaya mengandung makna, di dalam perilaku kebijaksanaan, tersimpan sebuah keberuntungan yang baik sekali, bagai orang kejatuhan rembulan atau mendapatkan wahyu.

Semar merupakan Dewa yang diperintahkan untuk menitis dalam tubuh manusia guna membangun rohani manusia agar mereka selalu ingat kepada Sang Hyang Tunggal atau Tuhan Yang Maha Esa. Karena itu istilah Semar Mbangun Kayangan bukan berarti Semar hendak membangun kayangan tempat bersemayam para Dewa. Melainkan Semar hendak membangun alam kosong atau alam jiwa. Ia hendak membangun hati sekaligus membersihkannya dari sifat-sifat syaithainyah.

Konflik yang terjadi dalam lakon Semar Mbangun Kayangan juga mencerminkan akan penjelasan di balik diutusnya sosok Semar atau Bambang Ismaya ke alam manusia. Dalam lakon tersebut diceritakan bahwa Manikmaya atau Bathara Guru salah dalam menafsirkan Mbangun Kayangan. Ia berpendapat bahwa Semar hendak membangun Kayangan Suralaya yang merupakan daerah kekuasaannya. Karena ia tidak bisa menerimanya, maka Bathara Guru marah dan berusaha untuk membunuh Semar. Maka perang serupun terjadi. Semar yang mempunyai kadigdayan lebih tinggi memenangkan peperangan itu. Kemudian Bathara Guru lari bersembunyi. Setiap ia bersembunyi, Semar selalu saja dapat menemukannya. Akhirnya yang bisa meredam konflik itu hanyalah Sang Hyang Padhawenang. Sang Hyang menasehati agar mereka tidak melanjutkan peperangan tersebut. Dan Ia juga memberitahukan kepada Bathara Guru bahwa sesungguhnya Semar tidak bermaksud untuk membangun Kayangan Suralaya akan tetapi yang hendak dibangun oleh Semar adalah jiwa Pandawa yang oleh Semar diistilahkan dengan Kayangan.

Apa yang dilakukan Semar dalam lakon Semar Mbangun Kayangan bisa dikatakan sebagai “seorang Abdi mereformasi ndaranya (tuannya).” Maksudnya mereformasi dunia fikiran dan gaib Semar dan Pandawa. Artinya pembersihan diri dengan meditasi dan tapabrata yang dilakukan Semar bersama Pandawa sebagai bentuk penghayatan hidup, sehingga memiliki gambaran cerah tatanan dunia yang semestinya (atau menemukan ilmu sangkan paraning dumadi).

Sosok Semar (wong cilek) yang selalu memberikan nasehat kepada bendaranya merupakan simbol dari teriakan rakyat jelata yang selalu gelisah melihat tingkah laku serta kebijakan penguasanya. Tetapi dalam lakon Semar Mbangun Kayangan, Semar dan anak-anaknya seolah menjadi simbol bagi rakyat jelata yang selalu “anonim” dan dianggap tidak mempunyai kehendak, kekuasaan, apalagi kedaulatan penuh. Simbol ini terlihat jelas ketika Petruk sowan ke kerajaan Amarta dan mengutarakan maksud kedatangannya. Setelah mengetahui maksud kedatangan Petruk, Kresna sebagai yang dituakan marah besar. Ia tidak setuju dengan rencana Semar yang ingin Mbangun Kayangan. Dalam pengertiannya, Kayangan yang hendak dibangun Semar adalah Suroloyo yaitu kayangan kekuasaannya Bathara Guru. Hal ini bertentangan dengan kodrat Semar di turunkan ke dunia. Niat Semar membangun kayangan Suroloyo jelas tidak dibenarkan dan patinya akan mendapat protes keras dari para Dewa. Bahkan kemudian Kresna mencela Semar dan akan-anaknya sebagai seorang babu atau gedhibal pitulikur yang nilai derajatnya tidak lebih hanya sebagai keset.

Dalam islam, perintah Allah yang paling penting adalah menetapkan setiap ajaran islam sebagai konsep hidup manusia.[92] Maksudnya, islam sebagai agama harmonis, mengajarkan prinsip-prinsip secara garis besar dan mementingkan terciptanya suatu sistem dan tatanan yang menerjemahkan prinsip-prinsip tersebut dalam kehidupan perorangan maupun kehidupan sosial. Semangat mengenai hal ini tercermin dalam ayat Al Quran yang artinya:

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.”(Ali Imran: 19).

Semar dalam kapasitasnya sebagai Dewa mangejowantah dituntut untuk menentramkan manusia dari segala kegelisahan hidup yang ditimbulkan dari ketidakterpenuhinya kebutuhan-kebutuhan yang bersifat psikis (mental) rohaniah. Sedangkan kebutuhan rohani manusia adalah pendidikan agama, budi pekerti, kepuasan, kasih sayang, dan segala aktivitas rohani yang seimbang.[93]

Memahami hal tersebut, Semar diperintahkan untuk memberikan bimbingan kepada manusia agar menjadi makhluk beragama dan menegakkan agama. Sebab kebahagiaan melalui agama merupakan kebahagiaan hidup di dunia dan di akherat, seperti dilansir dalam Al Quran bahwa manusia selalu berdoa sebagai berikut yang artinya:

“Dan di antara mereka ada orang yang bendoa:”Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.”(al-Baqarah: 201).

Dalam mitologi jawa, Semar dianggap merupakan tokoh dari tanah jawa yang disucikan. Akan tetapi dalam pewayangan, penciptaan Semar, hanyalah simbolisasi dari agama sebagai prinsip hidup setiap umat beragama.[94] Suatu lambang dari pengejawantahan expresi, persepsi dan pengertian tentang Illahi yang menunjukkan pada konsepsi spiritual. Pengertian ini tidak lain hanyalah suatu bukti yang kuat bahwa orang Jawa sejak jaman prasejarah adalah Relegius dan ber keTuhanan yang Maha Esa.

Sebagai ajaran yang mengedepankan cinta kasih dan kebijaksanaan, ajaran sufi memberikan kontribusi sama dengan Semar, khususnya dalam hal pengayoman dan pemberdayaan umat. Ajaran sufi menyerukan manusia agar mau membebaskan diri dari segala nafsu binatang, sifat-sifat tercela, dan penindasan terhadap hak asasi manusia. Begitu pula ajaran-ajaran Semar juga memberikan kontribusi dalam hal membina mental spiritual manusia, membentuk para ksatria agar berbudi bawa leksana, membela wong cilek, dan memberantas mo lima.

Sebagai seorang sufi, Semar mendasarkan tindakannya pada sifat keikhlasan dan ketulusan tanpa ada tendensi untuk mendapat pujian manusia yang sifatnya sesaat. Selain itu, Semar juga menyerukan kepada seluruh umat manusia untuk mengutamakan cinta kasih antar sesama, bukan saling menghina, menyalahkan, menghujat atau menyudutkan orang lain, lebih suka mengoreksi diri sendiri daripada mengoreksi orang lain, juga lebih suka mencari kesalahan sendiri daripada kesalahan orang lain dan mau mengadakan perbaikan.

Dengan kata lain, sosok Semar hendak menegaskan akan pentingnya peran agama dalam kehidupan. Agama berperan menyadarkan manusia dan membawa mereka menuju cahaya (berupa kebenaran). Sosok Semar juga merupakan simbol dari Al Quran sebagai Kalam Ilahi yang sangat penting.yang di dalamnya memiliki beberapa tujuan mendasar:

  1. Membersihkan akal dan menyucikan jiwa dari segala bentuk syirik. Tujuan ini tidak semata-mata sebagai sebuah konsep teologis, tetapi juga sebagai falsafah hidup dan kehidupan umat manusia.
  2. Mengajarkan kemanusiaan yang adil dan beradab.
  3. Menciptakan persatuan dan kesatuan; kesatuan alam semesta, kesatuan kehidupan dunia dan akherat, alam fisik dan metafisik, kesatuan ilmu, iman, rasio, keatuan sosial, politik, dan ekonomi.
  4. Mengajak manusia berpikir dan bekerja sama dalam bidang kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
  5. Membasmi kemiskinan material dan spiritual, kebodohan, penyakit, penderitaan hidup, dan pemerasan manusia atas manusia dalam bidang sosial, ekonomi, politik, dan juga agama.
  6. Memadukan kebenaran dan keadilan dengan rahmat dan kasih sayang, dengan keadilan sosial sebagai landasan pokoknya.
  7. Memberi jalan tengah antara ideologi kapitalisme dan ideologi komunisme. Menciptakan ummatan wasathan yang menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemunkaran.
  8. Menekankan peranan ilmu dan teknologi guna menciptakan satu peradaban yang sejalan dengan jati diri manusia, dengan panduan dan paduan Nur Ilahi.[95]

Dalam rangka merealisasikan tujuan-tujuan ini, maka hadirlah sosok Semar dalam jagad pakeliran. Sentuhan nilai-nilai islami akan sangat terasa ketika sedang membicarakan Semar. Ia mengajarkan berbagai hal dengan sangat santun, tetapi juga humoris. Sehingga ajarannya dapat diterima dengan mudah dan mendarah daging.

Dalam mendidik keluarga Pandawa, Semar lebih terfokus pada pembinaan mental spiritual. Menggembleng mereka agar menjadi ksatria-ksatria berbadan baja dan berjiwa mulia. Semar seringkali memperkenalkan Pendawa akan hiruk pikuk dan kondisi masyarakat bawah (kaum fakir, miskin, dan tertindas). Sehingga dari perkenalan ini diharapkan Pandawa akan terketuk hatinya untuk membantu dan membela mereka.

Dengan kata lain, sesuai dengan konteks islam, Semar hendak memperkenalkan mustadh`afin[96] kepada Pandawa. Semar hendak meneriakkan ayat Allah yang artinya:

“Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa:”Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau!.”(an-Nisa: 75).

Sesuai dengan konteks hubungan Semar dengan Pandawa, pesan universal ayat ini adalah bahwasanya Pandawa tidak boleh lupa diri, sebaliknya mereka harus membela dan menjaga kaum tertindas dari para penindas yaitu Kurawa. Mereka harus memperjuangkan al haq (kebenaran) dan menghancurkan al batil (kebatilan). Mereka harus menjadi tangan kanan Al Quran yang mengemban tugas seperti para utusan Allah yaitu untuk mengantarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya dan menuntun manusia agar bahagia hidup di dunia dan akherat.

Sesuai dengan konteks wayang sebagai media dakwah islam, di dalam diri Semar terdapat semangat untuk menjadikan dan merealisasikan islam sebagai rahmatan lil alamiin. Semar hendak mempublikasikan islam ke mata dan hati seluruh masyarakat jawa dan mendeklarasikan islam sebagai kepercayaan tunggal mereka yang tersebar dengan tanpa paksaan dan tetap menjunjung tinggi semangat Bhineka tunggal ika.

Dalam pewayangan diceritakan bahwa Semar memiliki sebuah mustika bernama Mustika Manik Astagina yang tersimpan di atas kuncungnya. Mustika ini memiliki delapan daya:

  1. tidak pernah lapar
  2. tidak pernah mengantuk
  3. tidak pernah jatuh cinta
  4. tidak pernah bersedih
  5. tidak pernah merasa capek
  6. tidak pernah menderita sakit
  7. tidak pernah kepanasan
  8. tidak pernah kedinginan

Di setiap lakon pewayangan, Semar selalu saja menjadi rebutan orang banyak. Tidak pandang orang baik ataupun jahat, semuanya berambisi untuk memiliki Semar. Tetapi tentu saja tujuan masing-masing orang tersebut berbeda-beda. Orang-orang jahat (Kurawa) berambisi untuk memiliki Semar sebab mereka percaya bahwa dengan mengkonsumsi daging Semar mampu menambah kesaktian dan menjadikan awet muda. Sedangkan orang baik (Pandawa) berusaha untuk mendapatkan Semar agar kehidupan mereka diberkahi. Mereka mendudukan Semar Badranaya sebagai sarana batin untuk sebuah proses. Konsekwensinya bahwa mereka mau membuka hati agar Semar Badranaya bersedia masuk, tinggal, dan menyertai kehidupannya, sehingga dapat berproses bersama meraih Wahyu.

C. Panakawan: Nala Gareng

Gareng merupakan anak angkat Semar. Pada dasarnya ia merupakan anak dari sebangsa Jin bernama Resi Sukskadi dari padepokan Bluluktiba. Nama lain dari Gareng adalah Pancalpamor yang memiliki arti menolak segala bentuk harta benda yang dapat melalaikan diri dalam mengingat Allah, Pegatwaja (gigi yang patah), mempunyai arti bahwa Gareng selalu berusaha menjauhi makanan yang enak-enak, Nala Gareng memiliki arti atine sing garing (hatinya yang kering), maksudnya kering dari sifat tercela.

Dahulu ia bernama Bambang Sukskati. Diceritakan bahwa Babang Sukskati sedang bertapa di sebuah bukit bernama bukit Candala untuk mendapatkan anugerah berupa kesaktian dari Dewa. Setelah merasa mendapatkan kesaktiannya, ia meminta izin kepada ayahnya untuk pergi mengembara sembari menaklukkan raja-raja di tanah jawa. Di tengah usahanya menaklukkan raja-raja, ia bertemu dengan Bambang Panyukilan. Baik Bambang Sukskati maupun Bambang Panyukilan, keduanya sama-sama memiliki kekuatan yang hebat. Maka peperangan serupun terjadi antara mereka berdua. Mereka memiliki kesaktian dan kekuatan yang seimbang sehingga tidak ada yang menang ataupun kalah. Karena takut, orang-orang tidak ada yang berani melerainya, sehingga Sang Hyang Ismaya terpaksa turun tangan untuk melerainya.

Setelah berhasi melerai keduannya, Sang Hyang Ismaya menghukum mereka. Maka berubahlah tubuh mereka menjadi cacat dan jelek. Mata Bambang Sukskati kera (juling), hidungnya bulat, tak berleher, gendut, tangannya bengkok (jawa: tekle/ceko), lengan Gareng berliku-liku, dan kakinya gejik (pincang).

Walau tubuh Gareng penuh cacat, tetapi di balik kecacatannya itu mengandung pralambang (simbol) dan pendidikan berharga. Misalnya:

  1. Matanya yang kera (juling), mengisyaratkan bahwa ia sedang berfikir, dan orang yang sedang berfikir jarang keluar rumah, mudah terkena salesma dan suaranya bindeng (sengau).[97]
  2. Tangan gareng bengkok (jawa: tekle/ceko), mengisyaratkan bahwa ia tidak suka mencuri barang orang lain. Ia juga tidak suka menyiksa dan melukai orang melalui tangannya.
  3. Tangan depan Gareng menunjuk, mengisyaratkan bahwa ia tengah menunjuk ke arah ilmu pengetahuan yang nyata, yang diperoleh melalui banyak liku-liku pikiran. [98]
  4. Lengan Gareng yang berliku-liku, melambangkan dunia penalaran yang berliku-liku, tidak hanya lurus menuju ke satu sasaran tetapi harus mempertimbangkan adanya kemungkinan-kemungkinan lain.[99]
  5. Kakinya yang gejik mengisyaratkan bahwa ia selalu berhati-hati dalam melangkah dan memutuskan suatu perkara.

Gareng menikah dengan Dewi Sariwati, putri Prabu Sarawasesa dengan permaisuri Dewi Saradewati dari negara Salarengka, yang diperolehnya atas bantuan Resi Tritusta dari negara Purwaduksina. Ia kemudian mempunyai putra bernama Nalawati.

Gareng suka bercanda dengan saudara-saudaranya, walaupun suaranya aneh ia tidak pernah merasa lebih rendah, ia juga suka menolong, dan setia kepada tuannya.

Diceritakan, suatu ketika Gareng menjadi Ratu di kerajaan Parang Gumewang dengan berjuluk Pandhu Bergola. Pandhu Bergola sangat sakti mandraguna, semua negara tunduk di bawah kekuasaannya. Di sisi lain, Semar, Petruk, dan Bagong, kebingungan mencari Gareng. Sebab telah beberapa hari ini ia tidak pulang ke rumah. Setelah berkuasa cukup lama, Pandhu Bergola menjadi sombong dan berusaha untuk menaklukkan kerajaan Ngamarta. Semua ksatria Pandawa kalah. Kresnapun kemudian memanggil Ki Lurah Semar, dan Semarpun menyarankan agar Petruk saja yang maju melawannya. Setelah berkelahi dengan Petruk, Pandhu Bergola kalah dan berubah kembali menjadi Gareng. Kemudian keduanya saling berpelukan karena gembira. Gareng kemudian dipanggil oleh Pandawa guna menjelaskan maksud perbuatannya itu. Garengpun menjelaskan bahwa ia melakukan perbuatan itu untuk mendidik dan mengingatkan tuannya agar tidak lengah, sebab orang lengah pada akhirnya akan kalah dan menuai kerugian besar. Garengpun meminta maaf, dan Pandawa memaafkannya bahkan mereka berterimakasih.

D. Panakawan: Petruk Kanthong Bolong

Petruk merupakan anak angkat Semar. Pada dasarnya ia adalah anak dari Bagawan Salantara dari padepokan Kembangsore.

Di antara Panakwan, Petruk terkenal paling pandai sehingga ia disebut juga Doblajaya. Karena kepandaiannya itu, ia juga seringkali membantu Gareng dan Bagong ketika mereka ada masalah. Sesebutan Petruk lainnya yang terkenal adalah Kanthong Bolong (saku yang berlubang). Disebut demikian karena ia terkenal dermawan, suka infak, zakat, dan shadaqah jariyah, sehingga sering dikatakan dheweke dewe ora duwe apa-apa (dirinya sendiri sampai tidak punya apa-apa).

Petruk mempunyai istri bernama Dewi Undanawati, dan mempunyai putra Bambang Lengkung Kusuma yang mempunyai wajah tampan. Petruk bertempat tinggal di Pecuk Pecukilan.

Ada yang mengatakan Petruk itu berasal dari kata patrap yang artinya mampu beradaptasi dalam segala kondisi. Ia juga terkenal pandai bergaul, selalu memperhitungkan segala sesuatu, dan tidak suka membuat orang lain kecewa. Karena itu ia disebut kebodebleng (kerbau tolol)[100] dan dalam goro-goro ia seringkali melantunkan lagu jawa agar tuannya terhibur dan kembali bersemangat.

Ada juga yang mengatakan bahwa Petruk diadaptasi dari kata Fatruk. Kata ini merupakan kata pangkal dari sebuah wejangan Tasawuf yang berbunyi, “Fatruk kulla maa siwallahi.” yang artinya tinggalkan semua apapun yang selain Allah.

Bentuk tubuh Petruk yang unik mempunyai makna tersendiri dan sarat dengan nasehat atau piwulang, khususnya bagi manusia yang tengah meniti terjalnya kehidupan. Misalnya hidungnya yang panjang dan lurus. Mengisyaratkan bahwa manusia harus selalu berjalan pada jalan lurus. Dalam ajaran islam dijelaskan bahwa jalan yang lurus itu adalah jalan orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah, bukan jalan orang-orang yang dimurkaiNya. Allah berfirman yang artinya:

Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.”(al-Fatihah: 6-7).[101]

Maksud dari orang-orang yang telah diberi anugrah berupa nikmat pada ayat di atas adalah para Nabi, Siddiqin, dan Shalihin yang terdiri dari umat yang telah lalu. Mereka adalah orang-orang yang mengimani akan adanya Allah dan adanya rasul-rasul Allah. Selain itu mereka menghiasi diri dengan akhlakul karimah, melakukan perbuatan terpuji, dan meninggalkan perbuatan tercela. Dengan kata lain, hidung Petruk hendak meneriakkan salah satu ayat Allah yang berbunyi,”Fabihudaa humuqtadih,”(maka ikutilah petunjuk mereka).[102]

Menurut Drs. Ir. RMS. Suryo Hudoyo, bahwa shirathal mustaqiem adalah jalan menuju kesempurnaan hidup, yakni jalannya orang yang sudah terbangun jiwanya. Dalam bahasa jawa sering dikenal dengan margining manungsa binangun. Sedangkan orang yang terbangun jiwanya menurut tulisan Dr. Purwadi, M. Hum adalah orang yang mampu mengendalikan empat nafsu dalam dirinya yaitu amarah, sufiyah, lauamah, dan mutmainah.[103]

Bentuk tubuh Petruk yang tinggi dan agak membungkuk mengingatkan kepada seluruh manusia untuk tidak lupa diri ketika diberi anugerah berupa pangkat, jabatan, dan kekayaan. Manusia harus tetap melihat ke bawah dan menghormati sesama manusia tanpa membeda-bedakan kedudukan dan materi yang dimiliki.

Mengenai sifat Petruk secara keseluruhan, ada yang mengatakan, Petruk itu pelayan tapi bukan penjilat, pandai tapi tidak sombong, cerdik tapi tidak licik, bijak tapi tidak plinplan, rendah hati tapi tidak kecil hati, berani tapi tidak ngawur, teguh tapi tidak angkuh, sabar tapi tidak lamban, jantan tapi bukan preman, humoris tapi tidak konyol, rajin tapi tidak over acting, berwibawa tapi tidak angker, sopan tapi tidak takut, tertib tapi tidak kaku, sumarah tapi pantang menyerah, trampil tapi tidak nggrathil.

Dalam lakon Petruk Dadi Ratu diceritakan, Jamus Kalimasada yang merupakan jimat milik Pandawa dicuri oleh Mustakaweni. Dan yang mampu merebutnya kembali adalah Bambang Priyambada (Irawan). Oleh Irawan, jimat tersebut kemudian dititipkan kepada Petruk. Karena tahu kalau Petruk dititipi jimat Kalimasada, Adipati Karna berusaha merebutnya. Maka terjadilah perang seru antara Petruk dengan Adipati Karna. Di tengah-tengah peperangan, Adipati Karna memanah Petruk menggunakan pusaka bernama Kyai Jalak. Petrukpun mati seketika.

Oleh bapaknya, Petruk dihidupkan kembali, kemudian Petruk diperintah untuk membalas dendam dengan mengandalkan kekuatan dari Kalimasada. Walhasil dalam peperangan kedua, Petruk menjadi pemenangnya. Kesaktian Petruk yang begitu hebat membuat seluruh kerajaan tunduk dalam kekuasaanya. Kemudian iapun menjadi raja di kerajaan Ngrancang Kencana bergelar Prabu Wel Geduwel Beh.

Ketika hendak memproklamirkan dirinya sebagai raja, Petruk membuat pesta perayaan dan mengundang Pandawa untuk hadir dalam pesta itu Akan tetapi Pandawa tidak bersedia hadir. Maka kemudian Pandawa diperangi oleh Prabu Wel Geduwel Beh dan dapat dikalahkan.

Kresna sebagai seorang pangayoming Pandawa melimpahkan permasalahan ini kepada Semar. Sebab ia menilai hanya Semarlah yang mampu mengalahkan Prabu Wel Geduwel Beh. Oleh Semar, Gareng dan Bagong disuruh untuk mencuri jimat yang dipakai oleh Prabu Wel Geduwel Beh. Setelah jimat berhasil diambil, Gareng dan Bagong kemudian menantang Prabu Wel Geduwel Beh untuk berkelahi. Karena dipaksa terus menerus maka Prabu Wel Geduwel Beh bersedia melayani tantangan mereka. Akhirnya Prabu Wel Geduwel Beh kalah dan berubah menjadi Petruk.

Setelah tahu bahwa Prabu Wel Geduwel Beh adalah Petruk, Pandawa menjadi marah. Kemudian mereka menanyakan maksud dari perbuatan Petruk tersebut. Petrukpun menjawab bahwa ia hendak memberikan pelajaran kepada Pandawa untuk tidak grusa-grusu (tergea-gesa) dalam bertindak, melainkan harus dengan penuh perhitungan. Sebab dikhawatirkan akan menyesal dikemudian hari. Seperti soal pencurian jamus Kalimasada. Di mana Pandawa tengah asyik membangun Candi Saptaarga dan lupa untuk menjaga Jimat tersebut. Dan akhirnya jimat tersebut dicuri oleh Mustakaweni.

Semua yang dilakukan Petruk pada dasarnya hanya merupakan pepeling (peringatan) kepada manusia untuk tidak mudah percaya, harus selalu tuntas dalam menyelesaikan sebuah karya, dan jangan menitipkan barang berharga yang bukan miliknya. Sedangkan tindakan Petruk menjadi Raja juga merupakan bentuk pengajaran kepada Pandawa untuk tidak sombong, aja dumeh, dan jangan lupa dengan nasib wong cilek. Setelah menjelaskan maksud seluruh tindakannya itu Petruk kemudian meminta maaf. Pandawapun memberikan maaf, bahkan mereka senang karena Petruk telah bersedia memberikan pepeling ataupun nasehat peringatan kepada mereka.

E. Nasehat Kyai Petruk

Dalam pewayangan, Kyai Petruk sering menasehati penonton dengan nasehat berikut:

Kuncung ireng pancal putih

Swarga durung weruh

Neraka durung wanuh
Mung donya sing aku weruh

Uripku aja nganti duwe mungsuh.

Ribang bumi ribang nyawa

Ana beja ana cilaka

Ana urip ana mati.

Precil mijet wohing ranti

Seneng mesti susah

Susah mesti seneng

Aja seneng nek duwe

Aja susah nek ora duwe.

Senenge saklentheng susahe sarendheng

Susah jebule seneng

Seneng jebule susah

Sugih durung karuan seneng

Ora duwe durung karuan susah

Susah seneng ora bisa disawang

Bisane mung dirasakake dhewe.

Kapiran kapirun sapi ora nuntun

Urip aja mung nenuwun

Yen sapimu masuk angin tambanana

Jamune ulekan lombok, bawang

uyah lan kecap

Wetenge wedhakana parutan jahe

Urip kudu nyambut gawe

Pipi ngempong bokong

Iki dhapur sampurnaning wong

Yen ngelak ngombea

Yen ngelih mangana
Yen kesel ngasoa

Yen ngantuk turua.

Pipi padha pipi

Bokong padha bokong

Pipi dudu bokong

Onde-onde jemblem bakwan

Urip iku pindha wong njajan

Kabeh ora bisa dipangan

Miliha sing bisa kepangan

Mula elinga dhandhanggulane jajan:

Pipis kopyor sanggupira lunga ngaji

Le ngaji nyang be jadah

Gedang goreng iku rewange

Kepethuk si alu-alu

Nunggang dangglem nyengkelit lopis

Utusane tuwan jenang

Arso mbedhah ing mendhut

Rame nggennya bandayudha

Silih ungkih tan ana ngalah sawiji

Patinira kecucuran

Ki Daruna Ni Daruni

Wis ya, aku bali menyang Giri

Aku iki Kyai Petruk ratuning Merapi

Lho ratu kok dadi pak tani?

Terjemahnya:

Kepala hitam kaki putih

Surga belum terlihat

Neraka belum tampak

Hanya dunia yang aku lihat

Hidupku jangan sampai punya musuh

Hancur bumi hancur nyawa

Ada untung ada celaka

Ada hidup ada mati

Anak kodok memejet buah ranti

Senang harus susah

Susah harus senang

Jangan senang hanya ketika punya

Jangan susah kalau nggak punya

Senang hanya sebesar biji kapas tetapi susahnya semusim

Susah ternyata senang

Senang ternyata susah

Kaya belum tentu senang

Nggak punya belum tentu susah

Susah senang nggak bias dilihat

Bisanya cuma dirasakan sendiri

Kapiran kapurun sapi ora nuntun

Hidup jangan hanya meminta

Kalau sapimu masuk angin obatilah

Jamunya diulekkan cabe, bawang

Garam dan kecap

Perutnya bedaki parutan jahe

Hidup harus bekerja

Pipi ngempong pantat

Ini wajah sempurnanya manusia

Kalau haus minumlah

Kalau lapar makanlah

Kalau cape istirahatlah

Kalau ngantuk tidurlah

Pipi sama pipi

Pantat sama pantat

Pipi bukan pantat

Onde-onde jemblem bakwan

Hidup itu seperti orang jajan

Semua tidak bisa dimakan

Pililah yang bisa dimakan

Maka ingatlah metaforanya jajan

Pipis kopyor sanggupira pergi ngaji

Ngajinya ke be jadah

Pisang goreng itu pembantu

Ketemu si alu-alu

Naik dangglem nyengkelit lopis

Utusannya tuan jenang

Arso mbedah di mendhut

Ramai nggennya bandayudha
Silih berganti tanpa ada yang mengalah salah Satu

Kematianmu bercucuran

Ki daruna ni daruni

Udah ya, aku pulang ke Giri

Aku ini kyai petruk ratunya merapi

Lho ratu kok jadi pak tani?

Penjelasannya:

  1. Kuncung ireng pancal putih

Swarga durung weruh

Neraka durung wanuh
Mung donya sing aku weruh

Uripku aja nganti duwe mungsuh

(Kepala hitam kaki putih

Surga belum terlihat

Neraka belum tampak

Hanya dunia yang aku lihat

Hidupku jangan sampai punya musuh)

Kyai Petruk mengajarkan kepada kita untuk tidak mencari-cari musuh. Musuh tidak perlu dicari tetapi ketika datang tidak perlu berlari pergi. Menurut Kyai Petruk, Syaitan adalah musuh manusia yang harus diperangi. Hawa nafsu juga musuh yang harus diperangi jangan sampai menerjang. Memerangi nafsu adalah lebih berat ketimbang memerangi Syaitan. Kyai Petruk menasehati manusia untuk memenjarakan lauwamah, amarah, dan sufiyah. Cara memenjarakan dengan sikap tawakal dan iman suci. Sebaliknya kembangkan mutmainah. Maka pasti nantinya akan bahagia dunia akherat.

  1. Ribang bumi ribang nyawa

Ana beja ana cilaka

Ana urip ana mati

(Hancur bumi hancur nyawa

Ada untung ada celaka

Ada hidup ada mati)

Kyai Petruk mengajarkan manusia untuk tidak misuhi (mencela) takdir yang telah digariskan oleh Tuhan. Beliau juga mengajarkan manusia tentang adanya hari kiamat.”Dina akher wus mesthi tekane.”(Hari akhir sudah pasti datangnya). Karena itu manusia harus bersiap siaga dengan mencari bekal akherat agar kelak tidak sengsara. Kyai Petruk menasehati bahwa akherat itu hari yang sulit. Manungsa akeh kang padha njaluk tulung (Manusia banyak yang meminta pertolongan). Akan tetapi tiada pertolongan kecuali pertolongan Tuhan. Karena itu ingat dan pahami baik-baik agar tidak celaka.

Hari kiamat adalah “goro-goro”. Goro-goro ingkang ageng (goro-goro yang besar).”Goro-goro ageng” terjadi begitu cepat. Seorang yang sedang memerah susu dan belum sampai ia meminum susu tersebut, “goro-goro ageng”sudah terjadi. Dua orang laki-laki sedang jual beli kain, belum selesai jual belinya, “goro-goro ageng” telah terjadi. Seorang laki-laki memperbaiki kolamnya, belum selesai ia memperbaiki, “goro-goro ageng” telah terjadi. Begitu sabda Nabi SAW. Kyai Petruk hanya menegaskan dan mengingatkan kembali. Terserah manusia mengimani atau tidak.

Karena “goro-goro ageng” pasti akan terjadi, manusia harus sadar bahwa kehidupan bukanlah segalanya.”Manungso gesang neng donya, sayektine datan lami pindhane mung lungan pasar, temahane bali mulih, marang wismane lami, tan langgeng neng pasar ngriku, marma yogya weruhna, sangkan paraning urip, yen samangkya durung weruh wismanira.”(Manusia hidup di dunia lamanya ibarat pergi ke pasar dan akan segera pulang ke asalnya. Ia tidak akan pernah abadi di pasar itu. Karena itu sebaiknya engkau mengetahui sangkan paraning urip, apabila engkau belum mengetahui tempat asalmu itu).

  1. Precil mijet wohing ranti

Seneng mesti susah

Susah mesti seneng

Aja seneng nek duwe

Aja susah nek ora duwe

(Anak kodok memejet buah ranti

Senang harus susah

Susah harus senang

Jangan senang hanya ketika punya

Jangan susah kalau nggak punya)

Kyai Petruk sedang memberikan wejangan tentang syukur.”Barangsiapa yang tidak mensyukuri nikmat yang telah diberikan Allah, berarti ia telah membuka jalan bagi hilangnya nikmat dari dirinya. Akan tetapi barangsiapa yang mensyukuri nikmat Allah, maka sungguh ia telah memberi ikatan kuat pada kenikmatan itu.”

Kita tidak boleh lupa diri ketika sedang senang. Sebaliknya imbangi kesenangan kita dengan bersyukur agar Allah ridha dan menambah nikmatNya kepada kita. La in syakartum la azidannakum (Jika kalian bersyukur niscaya Aku akan menambah rezekimu).

Bersyukur kepada Allah dapat kita lakukan dengan beberapa cara; bersyukur dengan hati, dengan lisan, dan dengan sikap atau perilaku. Pertama, bersyukur dengan hati, maksudnya mengimani bahwa segala nikmat adalah datanganya dari Allah semata. Kedua, syukur dengan lisan, maksudnya memperbanyak pujian kepada Allah dengan membaca Alhamdulillah. Allah telah berfirman mengenai hal ini:

Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan.”(ad Dhuha: 11).

Adapun bersyukur dalam bentuk sikap dan perilaku menurut Syekh Ahmad Atailah adalah dengan melaksanakan amal ibadah dengan anggota badan, dengan amal saleh, dengan perilaku mulia, dan budi bahasa yang terhormat.[104]Allah berfirman dalam al Quran:

Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang berterima kasih.”(Saba`: 13).

  1. Senenge saklentheng susahe sarendheng

Susah jebule seneng

Seneng jebule susah

Sugih durung karuan seneng

Ora duwe durung karuan susah

Susah seneng ora bisa disawang

Bisane mung dirasakake dhewe

(Senang hanya sebesar biji kapas tetapi susahnya semusim

Susah ternyata senang

Senang ternyata susah

Kaya belum tentu senang

Nggak punya belum tentu susah

Susah senang nggak bias dilihat

Bisanya cuma dirasakan sendiri)

Kyai Petruk berucap,”Banyak orang yang mulutnya tersenyum manis akan tetapi hatinya teriris-iris. Mereka adalah orang-orang yang kaya materi akan tetapi miskin ketentraman. Mereka juga adalah orang-orang yang setiap hari disuguhi konflik, permasalahan, dan percekcokan. Pendeknya mereka adalah orang yang tidak bahagia.”

“Di lain tempat ada orang-orang yang bila kita lihat dari kacamata materi mereka adalah orang-orang melarat, miskin, tak punya. Tetapi mereka menganggap diri mereka sebagai orang kaya, sebab mereka merasa nyaman, tentram, dan bahagia. Pendeknya, mereka hendak mengatakan bahwa mereka adalah orang yang bahagia.”

“Mendefinisikan kebahagiaan bukan urusan kita. Itu urusan para ahli bahasa. Kita sebagai rakyat kecil hanya disuruh untuk menikmati kebahagiaan itu sebagai sebuah bentuk rasa syukur kepada Tuhan. Tetapi kalau boleh berkomentar, sebenarnya susah bahagia tidak bisa didefinisikan. Sebab setiap orang berbeda-beda tergantung bagaimana mereka merasakan.”

Kyai Petruk berkata,”Tuhan telah memberikan kebahagiaan. Terserah apa definisi kebahagiaan itu yang jelas kita diwajibkan bersyukur atas nikmat Tuhan itu.”

“Kita juga seringkali lupa bila kebahagiaan bagaimanapun besarnya hanyalah bersifat sementara. Sebab kebahagiaan hanyalah semacam ketenangan sesaat dari ketidakbahagiaan atau ketidakpuasan. Dan harus dipahami pula bila manusia hidup itu hanya berputar-putar pada hal-hal seperti ini, bahagia-susah-bahagia-susah-dan akhirnya mati.”

  1. Kapiran kapirun sapi ora nuntun

Urip aja mung nenuwun

Yen sapimu masuk angin tambanana

Jamune ulekan lombok, bawang

uyah lan kecap

Wetenge wedhakana parutan jahe

Urip kudu nyambut gawe

(Kapiran kapurun sapi ora nuntun

Hidup jangan hanya meminta

Kalau sapimu masuk angin obatilah

Jamunya diulekkan cabe, bawang

Garam dan kecap

Perutnya bedaki parutan jahe

Hidup harus bekerja)

Kyai Petruk tidak sedang mengajarkan kepada kita bagaimana membuat jamu untuk mengobati sapi masuk angin. Beliau juga tidak sedang mengajarkan kepada kita bagaimana cara meracik jamu. Akan tetapi beliau hendak menerangkan kepada kita tentang hidup dan kehidupan. Manusia hidup haruslah bekerja, berikhtiar. Sebab dengan berikihtiar, nasib akan berubah. Yang tadinya miskin bisa jadi kaya, yang tadinya tidak punya menjadi punya, dan yang tadinya berharta tambah lagi hartanya.”

Kyai Petruk berkata,”Wahai manusia, tidakkah engkau sekalian mengetahui firman Tuhan yang artinya:

Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.”(ar Ra`d: 11).”

Bila kalian telah mengetahui maka ingatlah baik-baik firman mulia ini. Dan sekarang, mulailah bekerja.”

“Hakikat bekerja bukan untuk hidup selamanya. Hakekat kerja adalah untuk mempertahankan hidup yang ibarat mung mampir ngombe. Hakekat kerja adalah untuk mendukung dan mempertahankan keistiqamahan ibadah dan taqwa kita kepada Gusti Pengeran. Karena itu ingatlah baik-baik.”

  1. Pipi ngempong bokong

Iki dhapur sampurnaning wong

Yen ngelak ngombea

Yen ngelih mangana
Yen kesel ngasoa

Yen ngantuk turua.

Pipi padha pipi

Bokong padha bokong

Pipi dudu bokong

(Pipi ngempong pantat

Ini wajah sempurnanya manusia

Kalau haus minumlah

Kalau lapar makanlah

Kalau cape istirahatlah

Kalau ngantuk tidurlah

Pipi sama pipi

Pantat sama pantat

Pipi bukan pantat)

Kyai Petruk tidak sedang berbicara tentang “hal-hal yang porno-porno”. Kyai Petruk tidak sedang berbicara mengenai model bokong manusia, atau tidak pula sedang berbicara mengenai persamaan dan perbedaan bokong dengan pipi manusia. Kyai Petruk juga tidak punya niatan ingin mengadakan adu kekuatan bokong dengan pipi. Tetapi Kyai Petruk sedang berbicara mengenai makan, minum, dan tidur.

Kyai Petruk berkata,”Wahai manusia, makanlah ketika kalian belum merasa lapar dan sudahilah makan sebelum kalian merasa kenyang. Apa yang aku katakan ini adalah berdasarkan atas sabda nabi SAW.”

“Wahai manusia, minumlah kalian ketika haus, tetapi jangan banyak-banyak sebab nanti akan kembung dan ngantuk. Orang bila sudah ngantuk apapun tidak akan masuk. Makanan tidak masuk, minuman tidak masuk, apalagi pelajaran sudah pasti tidak akan masuk

“Wahai manusia, kalau kalian lelah maka tidurlah, istirahatlah, supaya tenaga pulih kembali. Jangan tidur terlalu lama, apalagi tidur diwaktu pagi hari. Kata leluhur itu dapat membuat rizki tersendat dan tidak barakah. Selain itu kalian juga akan dianggap kalah sama burung dan ayam. Tidakkah kalian melihat bila pagi-pagi sekali burung dan ayam telah bangun dan meramaikan jagad? Karena itu ingatlah selalu apa yang aku katakan ini.”

  1. Onde-onde jemblem bakwan

Urip iku pindha wong njajan

Kabeh ora bisa dipangan

Miliha sing bisa kepangan

Mula elinga dhandhanggulane jajan:

(Onde-onde jemblem bakwan

Hidup itu seperti orang jajan

Semua tidak bisa dimakan

Pililah yang bisa dimakan

Maka ingatlah metaforanya jajan:).

Kyai Petruk tidak sedang mengajarkan kepada kita untuk berlaku boros, senang jajan, dan menghambur-hamburkan uang. Kyai Petruk juag tidak sedang memberikan informasi di mana warung yang punya menu makanan paling enak, paling lezat, dan paling lengkap. Tetapi Kyai Petruk sedang mengajarkan kepada kita tentang larangan serakah. Serakah adalah perbuatan Syaitan. Manusia yang serakah tidak pernah merasa puas, penguasa yang serakah akan selalu KKN dan menindas rakyat jelata, pemimpin yang serakah akan membuat rakyatnya sengsara, kalau Dewa yang serakah tidak tahu bagaimana jadinya jagad ini.”

Kyai Petruk melanjutkan nasehatnya,”Makanlah makanan yang kalian miliki dengan cara halal. Makanlah, walau hati kalian tidak menyukainya. Habiskanlah makanan itu, sebab kalian tidak mengetahui di mana letak keberkahan darinya. Dan yang paling penting, mulailah dengan berdoa memohon keberkahan dan keridhaan Tuhan sebagai bentuk rasa syukur dan pengharapan. Jangan pula kalian melupakan fakir miskin dan anak terlantar yang waktu ini banyak mewarnai pinggiran-pinggiran jalan. Mereka memang orang tak punya akan tetapi mereka juga manusia. Manusia harus tahu hak-hak sesama manusia. Manusia butuh sandang, pangan, papan, dan pendidikan. Mereka juga membutuhkan kedermawanan, cinta, dan kasih sayang dari orang-orang dan terutama dari Tuhan. Karena itu ingatlah selalu.”

  1. Pipis kopyor sanggupira lunga ngaji

Le ngaji nyang be jadah

Gedang goreng iku rewange

Kepethuk si alu-alu

Nunggang dangglem nyengkelit lopis

Utusane tuwan jenang

Arso mbedhah ing mendhut

Rame nggennya bandayudha

Silih ungkih tan ana ngalah sawiji

Patinira kecucuran

(Pipis kopyor sanggupira pergi ngaji

Ngajinya ke be jadah

Pisang goreng itu pembantu

Ketemu si alu-alu

Naik dangglem nyengkelit lopis

Utusannya tuan jenang

Arso mbedah di mendhut

Ramai nggennya bandayudha
Silih berganti tanpa ada yang mengalah salah Satu

Kematianmu bercucuran)

Kyai Petruk mengingatkan kepada kita tentang kematian. Kematian itu laksana air yang bercucuran. Setiap hari ada saja yang mati. Kematian adalah diluar kehendak kita. Hanya Tuhan yang Maha mengetahui kapan kita mati. Entah sekarang, besok, atau sepuluh, seratus, seribu, atau sejuta tahun lagi. Kita tidak tahu. Karena itu kata Kyai Petruk, kita disuruh untuk mempersiapkan diri. Salah satu caranya yaitu dengan ngaji atau menuntut ilmu agama kepada ustadz, kyai, dan ulama. Mereka adalah orang-orang yang ngerti.”

“Menuntut ilmu akan berhasil jika kita bersungguh-sungguh. Kyai tidak pernah menuntut ini itu dari santrinya. Kyai tidak pernah meminta upah, harta ataupun materi duniawi. Sebagai seorang santri, cara menghormati kyai bukan dengan memberikan harta atau makanan. Menghormati kyai yaitu dengan mendoakan dan menuruti setiap perintahnya.”

  1. Ki Daruna Ni Daruni

Wis ya, aku bali menyang Giri

Aku iki Kyai Petruk ratuning Merapi

Lho ratu kok dadi pak tani?

(Ki daruna ni daruni

Udah ya, aku pulang ke Giri

Aku ini kyai petruk ratunya merapi

Lho ratu kok jadi pak tani?)

Kyai Petruk pamit mau pulang. Sebelum pulang ia membangga diri dulu. Ia berkata bahwa dirinya adalah seorang Ratu.”Naik pangkat”,Katanya. Tetapi masyarakat pada nggak percaya dan nyeletuk,”Kalau kamu ratu kenapa kok bekerja di sawah?”

Kyai Petrukpun tertawa terpingkal-pingkal kemudian berlalu tanpa mengucap sepenggal katapun. (Menandakan bahwa goro-goro telah usai).

Yang jelas setidaknya nasehat-nasehat Kyai Petruk ini bisa menjadi gambaran buat kita semua bahwa Panakawan merupakan babu tetapi sekaligus menjadi guru. Ini yang dimaksud dari lakon Petruk Dadi Ratu.

F. Panakawan: Bagong

Bagong adalah anak angkat Semar Badranaya yang nomor tiga. Diceritakan ketika itu Gareng dan Petruk merengek meminta dicarikan teman agar suasana lebih hidup dan meriah. Sang Hyang Tunggal yang mendengar rengekan mereka segera memberikan nugraha kepada Semar. Bayangannya Semar diberkati sehingga lahirlah Bagong dari bayangan Semar. Karena itu dalam kandungan filosofisnya, Bagong atau Bawor maknanya sebagai bayangan Semar.

Bagong melambangkan kepolosan, sehingga terkesan seperti orang blo`on.[105]Ia juga lambang karya. Sebagai anak yang dihasilkan dari bayangan Semar, seluruh karya Bagong adalah bayangan karsa yang dilambangkan oleh Semar. [106] Jika mata Semar seperti mata orang ngantuk, mata Bagong terbuka lebar melambangkan bahwa kehidupan ini harus diperhatikan dan dijalani dengan hati-hati. Setiap kenyataan yang ada disikapi dengan bijaksana dan lapang dada. Perut Bagong yang gendut karena banyak makan melambangkan keadaan orang yang serakah. Orang serakah menurut simbol Bagong adalah orang yang mati hatinya, gampang marah, dan selalu membangkang terhadap nasehat setiap orang. Karena itu ada yang mengatakan bahwa Bagong berasal dari bahasa Arab bagho artinya suka membangkang.

Di daerah lain Bagong mempunyai nama yang berbeda-beda. Misalnya di daerah banyumas, Panakawan ini populer dengan sebutan Bawor, di Jawa Barat dikenal dengan sebutan Cepot atau Astrajingga, sedang di Jawa timur lebih dikenal dengan nama Mangundiwangsa.

Dalam versi lain kata Bagong berasal dari Baqa` yang berarti kekal atau langgeng, artinya semua manusia hanya akan hidup kekal setelah di akhirat nantinya. Dunia hanya diibaratkan mampir ngombe (Sekedar Mampir untuk Minum).

Mengenai asal usul dari Panakawan Bagong ini setidaknya terdapat tiga versi. Versi pertama sesuai dengan apa yang telah diceritakan di atas. Versi kedua diceritakan bahwa ketika Gareng dan Petruk diambil menjadi anak angkat Semar, Petruk merasa tidak puas sebab ia diposisikan sebagai adiknya Gareng. Ia merasa bahwa dirinya lebih tua dan lebih tinggi dibandingkan Gareng. Karena ketidakpuasannya ini maka ia meminta Semar untuk mencarikan seorang adik baginya. Karena rengekan Petruk ini kemudian Semar memuja dirinya sendiri dan lahirlah seorang anak laki-laki yang berpostur tubuh mirip dengan Semar. Anak laki-laki tersebut kemudian diberi nama Bagong. Sedangkan versi ke tiga di ceritakan bahwa ketika Semar turun ke dunia ia merasa kesepian. Maka ia meminta seorang teman kepada Dewa. Sang Hyang Tunggal yang mendengar permintaan Semar ini segera memuja bayangan Semar lalu jadilah seorang laki-laki yang mirip dengannya. Kelak ia diberi nama Bagong. Jadi menurut versi yang ketiga, Bagong merupakan Panakwan yang pertama kali diambil anak angkat oleh Semar. Sedangkan menurut dua versi sebelumnya, Bagong merupakan Panakawan terakhir yang diambil sebagai anak angkat Semar.

Senjata yang dimiliki Bagong berupa sebuah bapang atau bendho (bahasa: jawa). Fungsi bapang adalah untuk membelah kayu. Ini merupakan simbol bahwa Bagong merupakan Panakawan yang berfungsi sebagai pembeda. Yakni yang membedakan antara kebenaran dan kebatilan. Sikapnya yang urakan dan seringkali arogan menjadi cirikhas tersendiri yang membedakannya dengan Panakwan lainnya. Semua ini hanyalah simbol semata, dan kita dituntut untuk menggali dan menginterpretasikan simbol yang ada tersebut.

Dalam perjalanan hidupnya sebagai Panakawan dan anak Semar, Bagong senantiasa eling lan waspada (ingat dan waspada). Ia selalu berusaha untuk menegakkan kebenaran dan mbengkas rereluning jagad (memberantas kemelut dalam dunia). Ia adalah sosok yang pandai melucu sehingga sindirannya selalu mengena dan tanpa membuat sakit hati orang yang disindir. Akan tetapi sisi buruk dari Bagong adalah ia seringkali membangkang terhadap setiap perintah Semar. Dan seringkali ia terkena balasan dari perbuatannya itu. Ini melambangkan bahwa kehidupan tidak pernah lepas dari hukum kausalitas (sebab akibat) dan hukum karma.

Dalam filosofi jawa, hukum karma terdeteksi pada istilah ngundhuh wohing panggawe (menerima balasan terhadap apa yang dilakukannya). Maksudnya setiap manusia akan selalu menerima balasan dari setiap apa yang dikerjakannya. Ketika seseorang berbuat kesalahan maka ia akan mendapatkan balasannya. Begitu juga ketika seseorang berbuat kebaikan ia juga akan mendapatkan balasannya. Mengapa demikian? Sebab masyarakat jawa mempercayai bahwa becik ketitik ala ketara ( Kebaikan dan kejahatan akan terlihat buktinya) dan sura dira jayaningrat syuh brasta tekaping ulah damastuti atau yang lebih sederhana sura dira jayaningrat lebur dening pangastuti (kejahatan atau kebatilan akan dihancurkan atau dikalahkan oleh kebaikan). Dalam peribahasa jawa, sosok Bagong dapat dikatakan sebagai orang yang selalu anggutuk elor kena kidul (menyindir orang lain agar orang tersebut merasa tersindir).

BAB III

KANDUNGAN AJARAN SPIRITUAL ISLAM DALAM SOSOK PANAKAWAN

A. Berbakti Kepada Guru.

Rambut Semar yang berbentuk “kuncung” (jarwadasa/pribahasa jawa kuno) maknanya hendak mengatakan: akuning sang kuncung = sebagai kepribadian pelayan. Semar sebagai pelayan mengejawantah melayani umat, tanpa pamrih, untuk melaksanakan ibadah amaliah sesuai dengan sabda Ilahi. Ia abdi tetapi juga sekaligus guru spiritual bagi Pandawa. Sikap Pandawa kepada Semar mencerminkan sikap seorang murid yang selalu hormat kepada gurunya walaupun gurunya itu orang miskin. Dalam filsafat Jawa guru merupakan sosok yang:

“Menunjukkan hidup yang sempurna hingga akhir hayat. Yang memberi petunjuk tentang kebaikan dan dialah yang dapat memberi nasehat sewaktu orang bersusah hati. Orang durhaka kepada guru adalah dosa paling besar, maka berbuat baiklah, mohonlah siang dan malam akan cinta kasihnya. Jangan cinta kasihnya sampai berkurang.”(Pakubuwana IV, 1982:72-73).

Peranan guru yang sedemikian besar dalam membangun akhlak, hendak menegaskan bahwa guru memiliki derajat yang tinggi. Dalam islam, guru spiritual atau ulama, merupakan pewaris nabi. Nabi telah mewariskan kepada mereka ilmu-ilmu yang bermanfaat yang dapat menghantarkan manusia menuju jalan surga. Karena itu Rasulullah SAW memerintahkan umatnya untuk menghormati guru dan orang yang lebih tua. Ajaran tentang penghormatan ini terdapat dalam sabda Beliau SAW yang artinya: “Bukanlah termasuk golonganku orang yang tidak menghormati kepada yang lebih tua dan tidak mau menyayangi kepada yang lebih muda.”

Selain itu islam juga mengajarkan bahwa menghormati guru merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan studi seseorang. Dengan kata lain, seorang murid tidak akan mendapatkan ilmu bermanfaat bila ia tidak ta`dzimil ustadz wa tauqirihi (mengagungkan dan memuliakan guru/ustadz).

Sayyidina Ali bin Abi Thalib KW yang jelas-jelas merupakan babul ilmi selalu mengagungkan orang yang telah mengajarinya ilmu walau hanya satu kalimat. Beliau berkata,”Saya selalu menjadi abdi (hamba) bagi orang yang telah mengajarkan kepada saya walau hanya satu kalimat. Terserah dia, apakah dia hendak menjual saya atau memerdekakan saya maka saya akan selalu ikhlas.”

Selain Panakawan Semar, Panakawan Petruk Kanthong Bolong juga merupakan abdi sekaligus guru yang mumpuni. Falsafahnya yang sangat terkenal adalah Kena cepet ning aja ndhisiki, kena pinter ning aja ngguroni, kena takon ning aja ngrusuhi. Maksudnya, boleh cepat tapi jangan mendahului (sang pimpinan), boleh pintar tapi jangan menggurui (pimpinan), boleh bertanya tapi jangan menyudutkan pimpinan. Dalam lakon Petruk Dadi Ratu misalnya, jelas terlihat kelihaian Petruk dalam mendidik Pandawa, dan ia menerapkan falsafahnya itu dalam lakon tersebut.

B. Narima Ing Pandum (Menerima Apa Adanya)

Panakawan merupakan sosok Abdi yang tidak pernah silau terhadap kehidupan duniawi walaupun mereka bergaul dan hidup mengabdi di Istana. Bahkan kepribadian mereka itu diajarkan kepada tuannya. Pankawan mengajarkan bahwa narima ing pandum tercermin dalam lima sikap:

a. Rela

Panakawan mengajarkan manusia untuk selalu rela dalam mengerjakan suatu pekerjaan. Dengan adanya sikap ini, maka manusia akan selalu ingat akan kewajiban hidupnya serta tidak pernah merasa rugi ketika kehilangan harta bendanya. Orang yang rela adalah orang yang pandai bersyukur dan berserah diri. Dan orang yang berserah diri merupakan cermin orang yang menjadikan Allah sebagai tempat bersandar mereka. Firman Allah:

“Katakanlah:”Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.”(at-Taubah:51).

b. Narima (menerima)

Panakawan merupakan sosok yang narima ing pandum. Mereka tidak pernah mengambil milik orang lain. Mereka juga tidak pernah meminta-minta walaupun mereka sangat membutuhkan harta. Panakawan adalah sosok orang-orang yang miskin harta tetapi mereka merasa kaya jiwa. Mereka tidak pernah menderita akibat kemiskinanya. Mereka juga selalu bersyukur atas apa yang telah dianugerahkan Allah. Sikap hidup mereka ini sangat sesuai dengan ajaran islam, di mana Allah telah berfirman:

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan;”Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”(Ibrahim: 7).

c. Temen (bersungguh-sungguh)

Ada yang mengatakan,”Orang yang bersungguh-sungguh itu akan sukses.”Panakawan sebagai abdi selalu bersungguh-sungguh dalam mengerjakan suatu hal terlebih dalam kaitannya membimbing dan menuntun Pandawa ke jalan lurus. Dalam islam, kemauan keras (himmah sawabiq) termasuk kekuatan yang dapat digunakan untuk memperoleh sesuatu yang dicari dalam kehidupan duniawi. Akan tetapi dalam pelaksanaannya diperlukan kontrol berupa iman yang memenuhi seluruh kalbu. Karena iman inilah yang akan mengatur himmah yang dimiliki seseorang.

Islam mengajarkan pula bahwa manusia itu berada di antara ikhtiar dengan qada qadar Allah. Dengan kata lain, manusia dituntut untuk berlomba mengejar sesuatu akan tetapi dalam usaha pengejarannya itu mereka dituntut pula untuk berdoa dan tawakal. Sebab hanya Allahlah Yang Maha Mengetahui nasib manusia dan menentukan hasilnya. Sehingga apa yang diperoleh manusia setelah ikhtiar dan berdoa itulah taqdir yang sebenarnya.[107]

“Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal.”(Ali Imran:160).

d. Sabar

Panakawan khususnya Semar, selalu mengajarkan manusia untuk mempunyai ati segoro (luas hatinya= penyabar). Sebab denagn penyabar maka orang akan dalam tingkat spiritualnya. Sebaliknya, orang yang pemarah akan dangkal tingkat spiritualnya disebabkan ngelmune ilang bareng bengokane (ilmunya hilang bersama kemarahannya).

Sikap sabar ini tercermin dalam setiap perilaku Panakawan ketika menghadapi sifat keras dari Pandawa khususnya Werkudara. Bahkan demi memegang prinsip ini, Panakwan rela mendapatkan hukuman dari tuannya. Akan tetapi kemudian tuannya sadar dan mengakui bahwa perbuatannya menghukum mereka itu adalah salah.

e. Budi Luhur

Menurut Budiono Hadi Sutrisno, manusia yang luhur adalahmanusia yang ideal. Budi luhur berhubungan dengan perilaku dan sifat-sifat yang dimiliki oleh Tuhan seperti penyayang, pengampun, dan pemurah.[108]

Panakawan adalah manusia-manusia berbudi luhur. Dalam falsafah jawa dikatakan sebagai manusia yang sepi ing pamrih, rame ing gawe, memayu hayuning bawana (menjadi bebas dari kepentingan sendiri, melakukan kewajiban-kewajibannya, memperindah dunia).[109]

C. Ajaran Kepemimpinan Sejati

Menurut Sindhunata, rakyat adalah digdaya tanpa aji. Maksudnya rakyat memiliki kekuatan namun tanpa harga diri dan nilai. Karena itu pemimpin adalah seorang yang mampu meredam dan membalut kedigdayaan mereka dalam tata krama yang suci. Sebab ketika seorang pemimpin tidak mampu untuk membalut kedigdayaan itu maka rakyat akan tiwikrama atau menjadi raksasa buas yang menghancurkan.

Dalam pewayangan, Kresna merupakan sosok ksatria yang santun, merakyat, dermawan, dan berkakhlak mulia. Akan tetapi ketika ia tiwikrama menjadi raksasa yang besarnya menyamai bukit, ia menjadi buas dan tak seorangpun mampu menandingi kekuatannya. Persoalan tiwikrama inilah yang dalam konteks kepemimpinan atau dalam konteks hubungan pemimpin dengan rakyat, sebagai persoalan yang harus disimpan dan tidak boleh sampai meledak. Sebab ketika rakyat telah tiwikrama maka akan sulit dibendung.

Panakawan selain sebagai abdi kraton, juga merupakan guru spiritual Pandawa yang mengajarkan tentang pentingnya kepemimpinan. Misalnya Petruk Kanthong Bolong. Ia mengajarkan bahwa seorang pemimpin haruslah dermawan. Dermawan bukan berarti boros, melainkan murah hati. Pemimpin harus dikenal sebagai orang yang akrab dengan rakyat bukan malah menjaga jarak dengan mereka. Ia juga mengajarkan bahwa pemimpin harus pandai menghibur dan membawa rakyat keluar dari duka dan penderitaan. Dengan kata lain sosok pemimpin menurut Kyai Petruk adalah yang bisa ngemong lan migunani buat rakyat.

Dalam konteks pewayangan, terdapat pula ajaran tentang syarat pemimpin sejati yang terhimpun dalam term hastabrata atau delapan sikap/laku yang diambilkan dari sifat alam, yaitu pemimpin harus mempunyai sikap :

  1. Mahambeg mring kismo (sifat bumi). Maksudnya setia memberi kebutuhan hidup kepada siapa saja.

Panakawan dalam perjalanan karir mereka seringkali mengajak Pandawa ke daerah-daerah terpencil yang di dalamnya hidup masyarakat kelas bawah yang sangat membutuhkan bantuan berupa sandang, pangan, dan pendidikan. Tujuan mengajak Pandawa ke tempat-tempat seperti itu adalah agar Pandawa sadar bahwa tugas mereka tidak hanya mencakup urusan Praja semata, akan tetapi lebih luas lagi yaitu mencakup kepentingan masyarakat kecil yang membutuhkan.

Selain itu juga untuk memberi pengajaran kepada Pandawa agar selalu menebarkan kasih sayang kepada sesama manusia. Pandawa diajarkan pula untuk menolak keras terhadap adanya perbedaan status ekonomi yang seringkali mecederai keadilan.

  1. Mahambeg mring warih (sifat air). Maksudnya selalu turun ke bawah rakyat dan memberikan kesejukan atau rasa ketentraman kepada semua rakyat.

Panakawan hakekatnya merupakan keturunan orang-orang yang mempunyai status tinggi dalam masyarakat. Akan tetapi mereka bersedia menjadi abdi dan hidup dalam kesederhanaan. Ini mengajarkan kepada manusia untuk selalu melihat ke bawah (masyarakat kecil dan menengah).”Bantulah mereka yang membutuhkan. Sadaqahkan sebagian harta untuk membantuk fakir, miskin, anak-anak terlantar, dan hamba sahaya. Sebab di dalam harta kekayaan terdapat hak-hak mereka.”

Panakawan yang paling sering memberikan nasehat seperti ini adalah Petruk Kanthong Bolong. Dijuluki Kanthong Bolong karena ia merupakan sosok orang yang dermawan. Karena terlalu dermawan sampai-sampai ia melupakan kebutuhan hidupnya.

  1. Mahambeg mring samirana (sifat angin). Maksudnya ada dimana saja atau bersikap adil kepada siapa saja.

Konsep adil dalam perspektif Panakawan adalah saling berbagi ketika salah satu dari mereka mempunya rezki entah itu banyak atau sedikit. Misalnya saja pada kasus Semar yang sering memberi tembakau kepada anaknya untuk dibuat lintingan (rokok linting). Bisa juga pada kasus Petruk berbagi enuk (makanan bungkusan) dengan Bagong dan Greng. Keadilan bagi mereka adalah saran untuk mempererat persaudaraan.

  1. Mahambeg mring candra (sifat bulan). Maksudnya memberi penerangan yang sejuk dan indah (kebahagian dan harapan).

Panakawan adalah abdi yang selalu menghibur bendaranya ketika sedang berduka. Hiburan yang disajikan seringkali berupa tembang jawa, humor, dan guyon maton. Terkadang mereka menirukan suara sang bendara atau berlagak pura-pura menjadi bendara. Panakawan Petruk merupakan Panakawan yang paling mahir bernyanyi dan berhumor. Perwajahan Petruk yang selalu murah senyum sudah mengindikasikan kemurahan hati dan ketulusannya.

Kalau Bagong, ia seringkali menghibur bendaranya dengan guyon matonnya. Bahkan tidak jarang ia mbengok-mbengok sambil mencela Semar. Misalnya Bagong berkata,”Mar koweki wes tuwa mbok matio wae.”(Mar, kamu itu sudah tua, mbok mati saja). Semar spontan menjawa,”Bocah edan, bapakne seng bagus koyo ngene kok dikon mati.” (Anak gila, bapak yang masih ganteng seperti ini kok disuuruh mati).Walau terkesan nranyak (tidak sopan) tetapi semua itu tidak sungguh-sungguh alias bercanda. Setiap Panakawan mempunyai ciri khas tersendiri dalam menghibur bendaranya.

Sementara Semar Badranaya seringkali yang kebagian memberi wejangan dan harapan-harapan. Ia menghibur bendara sekaligus membangkitkan semangat juang. Ia adalah sang motivator ulung di antara Panakawan. Dalam konteks etika dan moral, Semar memberikan motivasi kepada bendara berupa motivasi moralis. Motivasi moralis adalah motivasi yang menyangkut nilai moral atau akhlak manusia agar dia mengerjakannya dengan senang hati tanpa harus disuruh. Kemudian motivasi ini didukung dengan janji-janji Tuhan berupa kebahagiaan dunia dan akherat.

  1. Mahambeg mring surya (sifat matahari). Maksudnya memberi sinar hidup keseluruh jagat raya atau sebagai sumber petunjuk hidup.

Panakawan adalah sumber pencerahan bagi Pandawa. Bila Panakawan tidak ada, maka Pandawa akan komplang, negara akan terkena pageblug dan bebendune Jawata. Bila Panakawan tidak hadir, bisa dipastikan Pandawa akan kehilangan wahyu, sebab Semar dan anak-anaknya merupakan perantara datanganya wahyu Dewa. Dengan kata lain wahyu selalu mengikuti kemanapun Panakawan (sebagai pusat kebenaran) berada. Karena itu, walau hanya berstatus sebagai abdi, Panakwan selalu dihormati, disegani, dan dimintai petunjuk oleh Pandawa. Terlebih Panakawan Semar Badranaya. Tidak ada seorangpun dari kluarga Pandawa yang berani nranyak apalagi menentang nasehat atau titahnya.

Diceritakan dalam lakon Semar Mbangun Kayangan, bahwa suatu ketika Arjuna menentang keinginan Semar yang hendak Mbangun kayangan dan berpihak kepada Bathara Guru yang hendak membunuh Semar. Spontan Semar marah. Bathara Gurupun ditantang Semar. Perang serupun terjadi sehingga Sang Hyang Padhawenanglah yang terpaksa melerai. Akhirnya konflik antara Bathara Guru dengan Semar selesai. Di sisi lain Arjuna sibuk berusaha memburu Semar untuk ditantang adu kadigdayan. Akan tetapi di tengah pencariannya ia berubah menjadi macan. Karena merasa telah nranyak dan durhaka kepada Semar ia kemudian segera berlari ke sana kemari mencari Semar sambil menangis meraung tak karuan. Semar yang mendengar tangisan dari macan Arjuna segera berlari menghampiri. Setelah tahu bahwa macan tersebut hakekatnya adalah Arjuna. Semar kemudian berdoa agar Arjuna kembali ke bentuknya yang semula. Kemudian Arjunapun sadar dan meminta maaf kepada Semar.

  1. Mahambeg mring samodra (sifat laut/samudera). Maksudnya luas, tempat membuang apa saja atau sifat kasih sayang, pengertian, dan kesabaran. Panakawan selalu menebarkan kasih sayang kepada sesama. Karena itu mereka mempunyai banyak teman.
  2. Mahambeg mring wukir (sifat gunung). Maksudnya kukuh, teguh, tidak mudah menyerah untuk membela kebenaran maupun rakyatnya.

Panakawan tidak pernah lelah untuk membela kebenaran. Walaupun nyawa taruhannya, mereka akan tetap siap. Ini mengindikasikan bahwa Panakawan sejatinya merupakan ksatria-ksatria berbudi luhur dan bermental baja.

  1. Mahambeg mring dahono (sifat api). Maksudnya mampu membakar semangat dan memberi kehangatan atau mampu memerangi kejahatan dan memberikan ketenteraman / perlindungan buat rakyatnya.

Panakawan bersama dengan Pandawa selalu berjuang membela kebenaran dan memberikan ketentraman bagi masyarakat kecil. Misi utama dari mereka adalah memayu hayuning praja dan memayu hayuning bawana.

Dalam konsep Jawa tentang organisasi negara, seorang pemimpin mempunyai peranan yaitu menjadi eksponen mikrokosmos dari negara.[110]Religi masyarakat Jawa memandang bahwa alam semesta merupakan satu kesatuan yang serasi dan harmonis, tidak lepas satu dengan yang lain dan selalu berhubungan. Alam semesta terdiri dari dua eksponen, yakni mikrokosmos dan makrokosmos, yang dalam kehidupannya terjadi kelabilan. Kelabilan yang terjadi di dalam makrokosmos sebagai akibat yang ditimbulkan oleh makrokosmos, atau sebaliknya. Keteraturan di dalam makrokosmos dan mikrokosmos adalah terkoordinasi dan apabila masing-masing berusaha keras ke arah kesatuan dan keseimbangan, maka hidup akan tentram dan harmonis. Mulder mengatakan bahwa usaha keteraturan dapat dilakukan dengan baik bila semua orang menyesuaikan diri dengan lingkungan yang ada. Orang-orang harus mengetahui tempat dan tugas masing-masing, harus menghormati kedudukan yang lebih tinggi, harus berikap baik dan bertanggungjawab kepada mereka yang berkedudukan lebih rendah (1984: 44).

D. Ajaran Keseimbangan Hidup Sejati

Bila kita mengamati peri kehidupan Panakwan dalam setiap pertunjukan wayang, akan kita temukan bahwa mereka adalah sosok yang benar-benar giat dalam mencari nafkah guna memenuhi kehidupan mereka di dunia. Namun di sisi lain, mereka tidak pernah menjadikan usaha pencarian itu sebagai tujuan hidup, tetapi mereka berprinsip bahwa pencarian itu hanya sekedar sarana untuk mencapai tujuan utama yaitu bekal untuk akherat kelak.

Prinsip Panakawan ini juga sangat sesuai dengan prinsip keseimbangan yang diajarkan islam. Islam mengajarkan umatnya untuk senantiasa memelihara keseimbangan antara amal duniawi dengan amal ukhrawi, antara ibadah dengan muamalah, dan antara iman dengan amal.

Dalam konteks memelihara keseimbangan antara amal duniawi dengan amal ukhrawi, islam mengajarkan bahwa kesejahteraan duniawi merupakan sarana pendukung untuk mencapai kesejahteraan ukhrawi. Ajaran ini dapat diamati dalam firman Allah:

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”(al-Qashash: 77).

Dalam konteks memelihara keseimbangan ibadah dengan muamalah, islam mengajarkan umatnya untuk menjaga keseimbangan hubungan vertikal (manusia dengan Allah) dengan hubungan horisontal (manusia dengan manusia). Bahkan secara tegas al-Quran memandang hina orang yang tidak mampu menjaga keseimbangan ini. Allah berfirman dalam al-Quran:

“Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. Yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas.”(Ali Imran: 112).

Sedangkan dalam konteks keseimbangan antara iman dan amal, islam mengajarkan bahwa tidaklah berguna iman seseorang apabila ia tidak merealisasikannya dalam kehidupannya sehari-hari. Begitu pula sebaliknya, tidaklah berguna amal shaleh seseorang bila ia tidak mengimani akan adanya rukun iman yang enam.

As Subki mengatakan,”Islam itu adalah beramal dengan anggota badan, dan islam tidak dianggap sah kecuali bersama dengan iman. Dan iman adalah membenarkan dalam hati, dan tidak sah kecuali bersama talaffudz (melafalkan) dengan dua kalimah syahadat.”

Dengan kata lain, seseorang yang telah bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah harus mewujudkan persaksiannya itu dengan amal anggota badan (beramal shaleh). Allah berfirman dalam al-Quran:

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki (nikmat) yang mulia.”(al-Anfaal: 2-4).

Secara tersirat, ayat di atas menegaskan bahwa keseimbangan antara iman dan amal harus didasari oleh keikhlasan ataupun ketulusan hati. Selain itu juga harus didahului dengan niat mencari ridha Allah.

E. Ajaran Keselamatan Sejati

Seluruh simbol, nasehat, dan pepeling dari Panakwan pada dasarnya hendak menyeru manusia untuk berjalan di jalan kebenaran agar nantinya mendapatkan keselamatan dunia akherat. Misalnya Semar. Setiap kali dimainkan, ia mengawali ucapannya dengan mengucap:

mbergegeg, ugeg-ugeg, hmel-hmel, sak dulito, langgeng

(diam, bergerak/berusaha, makan, walaupun sedikit, abadi)

Ucapan Semar di atas mengajarkan manusia untuk diam (berfikir sejenak) mengambil langkah bijaksana, kemudian dilanjutkan tindakan nyata untuk memperoleh hasil. Kehidupan dunia jangan diraih sepenuhnya. Cukup sedikit saja yang penting bisa meraih keabadian.

Panakawan ibarat wahyu Tuhan yang menjelma ke dalam bentuk manusia. Wahyu tersebut berbeda dalam hal bentuk akan tetapi selalu sama substansinya. Karena itu setiap orang yang berkawan dengan Panakawan berarti juga bisa dikatakan berkawan dengan kebenaran. Sebaliknya, orang yang menjauhi Panakwan berarti juga menjauhi kebaikan. Menjauhi kebaikan berarti tidak akan mendapatkan keselamatan sejati.

Keselamatan sejati menurut konsep islam adalah seperti yang tercermin dalam ayat berikut:

Dan di antara mereka ada orang yang bendoa:”Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.”(al-Baqarah: 200).

Melalui ayat di atas, islam mengajarkan kepada umatnya tentang keselamatan dunia dan akherat sebagai satu-satunya keselamatan abadi dan sejati. Orang-orang yang mampu meraih dua keselamatan tersebut dinyatakan sebagai muflihuun atau orang-orang yang beruntung.

Dalam Tafsir Al-Maraghi dijelaskan, bahwa untuk mendapatkan keselamatan dalam hidup dapat ditempuh dengan cara meniti sebab musabab yang telah dibuktikan oleh pengalaman akan kemanfaatannya dalam hal berusaha dan mengatur tatanan kehidupan. Pergaulan dengan masyarakat, menghias diri dengan akhlak mulia dan memegang teguh syariat agama serta berpegang kepada sifat-sifat keutamaan yang diakui dalam hidup bermasyarakat. Selain itu juga melalui amal shaleh, berbudi luhur, iman, dan ikhlas.

F. Amar Ma`ruf Nahi Munkar

Misi utama Panakwan adalah beramar ma`ruf nahi munkar. Begitu pula dengan Panakwan kelompok sabrangan (Togog dan Bilung) juga membawa misi amar ma`ruf dan nahi munkar. Perbedaannya Panakwan kelompok sabrangan lebih terfokus kepada nahi munkar. Sebab tugas mereka adalah menemani orang-orang berwatak jahat. Sedangkan Panakwan Semar dan anak-anaknya lebih terfokus kepada amar ma`ruf sebab tugas mereka adalah menemani orang-orang berbudi bawaleksana.

Dalam pewayangan, Panakwan Togog digambarkan berbibir moncong. Ini mengisyaratkan bahwa tugasnya adalah bersuara lantang dan mencegah kejahatan. Meski demikian, ia selalu gagal, sebab petuah-petuahnya tidak pernah digubris dan didengarkan oleh tuannya.

Islam sebagai rahmatan lil alamiin memposisikan amar ma`ruf nahi munkar sebagai bentuk kewajiban dan usaha dakwah islamiyah. Dakwah islamiyah itu sendiri berdiri dan bergerak berdasarkan atas dalil-dalil yang tercantum dalam al-Quran dan as-Sunnah.

Allah berfirman:

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”(an-Nahl: 125).

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.”(Ali Imran: 104).

Rasulullah Saw bersabda,”Bersungguh-sungguhlah kalian dalam menyeru yang makruf, bersungguh-sungguh pulalah kalian dalam mencegah yang munkar. Jika tidak, maka Allah akan memberikan kekuasaan kepada orang-orang buruk di antara kalian, dan doa orang-orang baik di antara kalian (tetapi diam terhadap kemunkaran) tidak akan dikabulkan oleh Allah.” (HR Imam Bazzar).

“Barangsiapa di antara kamu melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya, apabila ia tidak mampu maka dengan lisannya, apabila ia tidak mampu maka dengan hatinya, dan yang demikian itu adalah selemah-lemah iman.”(HR. Muslim).

Menurut Drs. Samsul Munir Amin, M.A. dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Sains al-Quran (UNSIQ), dakwah sebagai sebuah proses tidak hanya merupakan usaha penyampaian saja, tetapi merupakan usaha untuk mengubah way of thingking, way of feeling, way of life manusia sebagai sasaran dakwah ke arah kualitas kehidupan yang lebih baik.[111]

G. Ajaran Kebajikan

Panakawan mengajarkan manusia untuk selalu berbuat kebajikan. Dijelaskan bahwa terdapat empat unsur barometer kebajikan dan kesemuanya itu terdapat dalam pribadi Panakawan. empat unsur tersebut adalah:

1. Unsur keimanan.

Terdapat lima rukun iman dalam ajaran islam; Iman kepada adanya Allah, beriman kepada kitab-kitab Allah, beriman kepada para malaikat Allah, beriman kepada para nabi Allah, beriman kepada hari pembalasan, dan beriman kepada qadha dan qadar.

2. Unsur ibadah.

Melaksanakan ibadah merupakan bukti kepatuhan kepada Allah. Manusia yang taat beribadah merupakan cerminan manusia yang selalu berbuat kebajikan. Hubungan Panakwan dan Pandawa sebenarnya juga mengisyaratkan adanya hubungan vertikal yang sangat erat antara seorang hamba kepada Tuhannya. Keeratan ini tercermin pada keikhlasan mereka dalam beribadah menyembah kepadaNya.

Pandawa adalah simbol dari rukun islam yang lima. Sedangkan Panakawan adalah abdi mereka yang berarti dapat diinterpretasikan bahwa Panakawan merupakan abdi yang selalu taat menjalankan dan mendampingi kelima rukun islam tersebut.

3. Unsur kepedulian sosial.

Kepedulian sosial ini dapat diwujudkan dengan banyak hal. Dalam konteks ajaran moral Panakawan, bukti kepedulian sosial terlihat jelas dari kedermawanan dan keberpihakan mereka kepada wong cilek (rakyat jelata). Dalam islam, harta kekayaan dianggap merupakan amanah Allah yang harus digunakan dengan sebaik-baiknya. Dan bila amanah itu tidak dilaksanakan maka sudah barang tentu mengkhianati Allah. Allah berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi syafa’at. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zalim.”(al-Baqarah: 254).

4. Unsur Akhlaq

Akhlak bisa diartikan sebagai tabiat, watak, budi pekerti, atau moral. Menurut Ibnu Miskawaih, akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.[112]

Panakawan adalah guru spiritual yang berusaha untuk mendidik Pandawa agar mempunyai akhlak mulia. Pendidikan ini selalu terlihat dalam goro-goro dan puncaknya adalah pada lakon Semar Mbangun Kayangan.

Orang yang berakhlak mulia sering dikaitkan dengan orang bermoral. Orang yang memiliki kesadaran moral akan senantiasa jujur. Tindakan orang yang bermoral tidak akan menyimpang dan selalu berpegang pada nilai-nilai luhur. Bahkan dalam pergaulan di masyarakat, perbuatan orang bermoral cenderung akan diterima, disetujui, dan berlaku pada setiap waktu dan tempat. [113]

Dalam masyarakat jawa terkenal istilah wong becik ketitik wong ala ketara (orang yang baik akan terlihat orang jahatpun akan terlihat). Meskipun istilah ini sangat sederhana, namun mempunyai pengaruh cukup besar bagi kehidupan masyarakat jawa. Bagi mereka, orang jahat tidak mempunyai tempat dan ruang bebas. Sebaliknya, dicemooh dan dikucilkan dari sesrawungan (pergaulan).

H. Ajaran Tasawuf

Dari sikap kesederhanaan Panakawan saja kita sudah dapat mengetahui bahwa mereka adalah pengikut ajaran tasawuf yang taat. Indikasi ini semakin diperjelas dengan posisi mereka sebagai guru spiritual Pandawa yang selain mengajarkan moral juga mengajarkan kepedulian sosial, zuhud, sabar, tawakal, cinta, ma`rifah, dan yang paling menonjol adalah ittihad (bersatu dengan tuhan).

Ajaran-ajaran yang disampaikan ini hanya bisa dilaksanakan dengan baik apabila didukung dengan laku prihatin (menahan dari segala hawa nafsu termasuk mengurangi makan, minum, tidur, dan bersenggama) dan mendekatkan diri secara total kepada Allah.

Dalam islam, aspek tasawuf dipercaya dapat membawa manusia untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah. Dan dalam pencapaiannya, manusia harus menempuh maqamat[114], yaitu; al Taubah, al Zuhud, al Shabr, al Faqr, al Wara`, al Tawakkal, al Ridla, al Mahabbah, al Ma`rifah, al Fana, al Baqa, dan Ittihad.

Sejauh penelusuran penulis, maqamat yang jelas terdapat dalam Panakawan adalah al Taubah, al Zuhud, al Shabr, al Faqr, al Wara`, al Tawakkal, dan al Ridha. Karena itu penjelasan mengenai maqamat dalam tulisan ini hanya sebatas al Taubah, al Zuhud, al Shabr, al Faqr, al Wara`, al Tawakkal, dan al Ridha:

a. Al Taubah

Dalam dunia tasawuf, taubat adalah awal tempat pendakian orang-orang yang hendak mendekatkan diri kepada Allah dan maqam pertama bagi orang yang hendak menapak jalan sebagai sufi. Hakikat taubat secara lughawi adalah “kembali”. Kata “taba” berarti kembali, maka taubat maknanya juga kembali. Maksudnya kembali dari sesuatu yang dicela dalam syariat menuju kepada yang dipuji dalam syariat.

Sahal bin Abdullah mengatakan,“Tobat adalah meninggalkan penundaan (tidak mengulur waktu dalam bertobat).”Dengan kata lain Tubat adalah penyesalan. Ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW,“An Nadmu Taubat”(penyesalan adalah taubat). Berdasarkan atas sabda Rasulullah SAW ini maka secara bahasa term taubat dapat diartikan dengan memohon ampun atau menyesali dosa kesalahan dan tidak mempunyai niat untuk mengulanginya kembali. Selain itu juga diimplikasikan dalam bentuk perbuatan sehari-hari yang mencerminkan sikap taubat tersebut. Dasar dari perintah taubat ini adalah firman Allah yang artinya:

Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan:”Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”(at-Tahrim: 8).

Panakawan adalah sosok yang suka bertaubat ketika berbuat dosa dan mengakui kesalahan ketika berbuat salah. Misalnya saja dalam kasus Petruk Dadi Ratu, di mana Petruk berubah menjadi raja yang sombong dan merasa paling hebat karena kesaktian yang dimilikinya. Ia juga berani menantang Pandawa untuk adu kekuatan. Akan tetapi di akhir cerita, Petruk akhirnya mengakui dosa dan kesalahannya itu dan iapun segera minta maaf dan mengakui kesalahannya.

Panakawan juga merupakan orang-orang yang hijrah dari kesesatan menuju kebenaran. Dulu mereka adalah ksatria-ksatria berilmu tinggi dan berwatak sombong. Tetapi akhirnya mereka sadar dan kembali ke jalan yang lurus (kebenaran). Sikap sadar mereka ini sesuai dengan proses taubat itu sendiri yang menuntut kepada kesadaran untuk menatapi secara terus menerus musyahadah (kesaksian dan pengakuan) atas dosa-dosanya yang membuat bertambah kecintaannya untuk bertaubat dan motivasi-motivasinya mampu mendesak untuk lebih menyempurnakan tekad taubatnya dalam bentuk penguatan rasa takut dan harap (khauf dan raja`).

Syaikh Abul Qasim al Qusyairi berkata,“Saya pernah mendengar Ustadz Abu Ali ad Daqaq berkata,”Taubat ada tiga bagian, pertama taubat (kembali), kedua inabah (berulang-ulang kembali), ketiga aubah (pulang). Taubat bersifat permulaan, sedangkan aubah adalah akhir perjalanan. Dan inabah tengah-tengahnya.”

b. Al Zuhud

Konsep zuhud jelas terdapat dalam ajaran Islam. Dalam pandangan Islam, kezuhudan bukanlah sesuatu yang diwajibkan. la merupakan keutamaan dan kesempurnaan. Namun, keutamaan dan kemuliaan bukanlah tujuan kezuhudan. Dalam beberapa keadaan, Islam menganjurkan manusia menjalani kezuhudan demi tercapainya tujuan atau maksud tertentu.

Harun Nasution mengartikan zuhud sebagai keadaan meninggalkan dunia dan hidup kematerian. [115]Achmad Faizur Rasyad mengartikan zuhud sebagai keadaan meninggalkan keserakahan dunia dengan mengalihkan setiap tujuan perbuatan bukan untuk pamrih atau menjaga kehormatan, akan tetapi segala tujuannya adalah demi ridla Allah.[116]

Menurut Abuddin Nata, fungsi zuhud adalah untuk mengendalikan diri dari pengaruh kehidupan dunia. Karena itu orang zuhud lebih mementingkan perkara akhirat yang kekal dan abadi. Dasar dari zuhud terdapat pada ayat berikut:

Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka:”Tahanlah tanganmu (dari berperang), dirikanlah sembahyang dan tunaikanlah zakat!” Setelah diwajibkan kepada mereka berperang, tiba-tiba sebahagian dari mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih sangat dari itu takutnya. Mereka berkata:”Ya Tuhan kami, mengapa Engkau wajibkan berperang kepada kami? Mengapa tidak Engkau tangguhkan (kewajiban berperang) kepada kami sampai kepada beberapa waktu lagi?” Katakanlah:”Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa, dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun.”(an-Nisa: 77).

Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?”(al-An`am:32).

Panakawan adalah sosok manusia-manusia yang tidak terbuai dengan kemewahan duniawi. Walaupun mereka mengabdi dan hidup berdampingan dengan orang-orang kaya, akan tetapi mereka tidak pernah merasa kekurangan dan iri dengki. Mereka juga tidak menggunakan aji mumpung. Sebaliknya mereka tetap teguh berdiri dalam kesederhanaan bersama prinsip lelaku: wani mati sak jroning ngaurip (berani mati dalam hidup) yang dapat diinterpretasikan sebagai orang yang teguh ikhlas bersandar kepada Tuhan secara mutlak, tidak memikirkan harta, tahta, dan wanita. Dalam islam dijelaskan bahwa orang-orang yang berprinsip demikian itu termasuk ke dalam golongan muqarrabuun (orang-orang yang dekat dengan Allah).

Dalam istilah ilmu tasawuf, apa yang dilakukan Panakawan adalah merupakan bentuk itsar yaitu sikap lebih mementingkan orang lain dari diri sendiri yang merupakan sifat manusiawi yang sangat tinggi dan agung.

Kezuhudan Panakawan ini juga dipertegas lagi dengan kisah dari Ali bin Abi Thalib K.W. Mengapa demikian? Sebab sikap kesadaran sosial yang dilakukan Panakawan sesuai dengan sikap kesadaran sosial yang dilakukan oleh Ali bin Abi Thalib K.W. Diceritakan bahwa Imam Ali bin Abi Thalib K.W. merupakan sosok pekerja keras tetapi jarang memakan hasil kerjanya lantaran dibelikan makanan untuk kemudian diberikan kepada orang yang membutuhkan. Beliau juga tidak berpakaian bagus agar bisa memberi pakaian kepada orang lain.

Apa yang dilakukan Panakawan dan Ali bin Abi Thalib K.W. ini mengacu pada firman Allah:

“Dan mereka memberi makan yang mereka sukai kepada orang miskin, anak yatim, dan tawanan perang. Sesungguhnya kami memberi makan semata-mata mengharap ridha Allah, serta tidak mengharapkan balasan dan juga rasa terima kasih.” (al Insan: 8-9).

c. Al Shabr

Sabar berkaitan erat dengan tata pengendalian diri. Orang sabar adalah orang yang mampu mengendalikan rasio otaknya dan seluruh anggota badannya. Orang akan marah bila rasio otaknya sudah tidak berjalan lagi, sehingga “perintah” saraf otaknya keseluruh anggota badan sudah keluar dari kontrol rasionalitas. Ketika seseorang marah, dapat dipastikan dia telah bertindak tidak rasional. Hal itu berarti seorang penyabar akan senantiasa mampu mengendalikan otak untuk selalu berjalan rasional. Karena rasionalitas otak tetap berjalan normal, maka perintah saraf otak ke seluruh anggota tubuh juga tetap dalam bingkai rasionalitas.

Dalam khasanah ilmu tasawuf, sabar dapat diartikan dengan menjauhkan diri dari hal-hal yang bertentangan dengan kehendak Allah, tetapi tenang ketika mendapatkan cobaan, dan menampakkan sikap cukup walaupun sebenarnya berada dalam kefakiran dalam bidang ekonomi.[117]

Menurut perspektif al Quran, orang sabar adalah orang-orang yang dermawan, yang menafkahkan hartanya baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang. Allah berfirman:

“(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”(Ali Imran: 134).

Panakawan adalah sosok orang-orang yang penyabar. Ketika mereka dihukum akibat tingkah laku mereka yang dinilai salah oleh bendara, mereka bersabar dan yakin bahwa suatu saat bendaranya pasti akan sadar.Orang sabar menurut kacamata Panakawan adalah orang yang senantiasa menerima dengan lapang dada terhadap apa yang telah ditakdirkan Allah.

d. Al Faqr

Dalam pandangan tasawuf, al Faqr adalah tidak meminta lebih dari apa yang telah ada pada diri kita.[118] Panakawan sebagai seorang abdi tidak pernah menuntut bayar kepada bendaranya walaupun mereka sendiri sebenarnya sedang membutuhkan. Mereka juga selalu mengutamakan kesederhanaan, suka laku prihatin, menahan lapar dan gejolak nafsu. Untuk memenuhi kehidupan sehari-hari mereka bekerja menjadi buruh tani. Hasil dari kerja mereka itu seringkali dinikmati bersama-sama.

e. Al Wara`

Wara` dalam kacamata Harun Nasution mengandung arti menjauhi hal-hal yang tidak baik dan dalam pengertian sufi adalah meninggalkan segala hal yang syubhat (meragukan).[119]Ini sesuai dengan pendapat Sahal bin Abdullah yang mengartikan wara` sebagai suatu sikap meninggalkan hal-hal yang tidak pasti (Syubhat), yaitu hal-hal yang tidak berfaedah. Sedangkan menurut As Syibli, wara’ merupakan upaya untuk menghindarkan diri dari berbagai hal yang tidak berkaitan dengan Allah SWT.

Dalam biografi ataupun sejarah hidup Panakawan, menunjukan bahwa mereka mengamalkan amalan wara` ini. Panakwan tidak pernah memakan makanan yang masih diragukan kehalalan dan keharamannya (syubhat). Mereka juga rela tinggal di rumah yang kecil dan sempit walaupun pada hakekatnya mereka adalah orang-orang yang mampu. Sikap wiraian mereka itu telah mengantarkan mereka kepada kesejahteraan dan ketentraman hidup. Merekapun menjadi manusia-manusia kinasih di dunia dan akherat.

Dalam ajaran islam, tuntunan untuk menjauhi diri dari yang syubhat terdapat dalam sabda Rasulullah SAW:

“Barangsiapa yang dirinya terbebas dari syubhat, maka sesungguhnya ia telah terbebas dari yang haram.”(HR. Bukhari).

f. Al Tawakkal

Menurut Harun Nasution, tawakkal adalah menyerahkan diri kepada qada dan keputusan Allah. Selamanya dalam keadaan tentram, jika mendapat pemberian berterima kasih, jika mendapat apa-apa bersikap sabar dan menyerah kepada qada dan qadar Tuhan. Tidak memikirkan hari esok, cukup dengan apa yang ada untuk hari ini. Tidak mau makan, jika ada orang lain yang lebih berhajat pada makanan tersebut daripada dirinya. Percaya kepada janji Allah. Menyerah kepada Allah dengan Allah karena Allah.[120]

Panakawan menyerahkan secara total jiwa raga mereka dalam mengabdi kepada Pandawa. Sebab menurut mereka, pengabdian kepada kebenaran akan selalu dibalas dengan kebaikan. Begitu pula sebaliknya. Dalam setiap kondisi mereka selalu berfikiran jernih, tidak saling menyalahkan hasil dan keadaan yang ada. Dalam lakon Wisanggeni Gugat misalnya, Panakawan Bagong tidak pernah berniat membalas dendam kepada Dewa yang telah memasukkannya ke dalam kawah. Tetapi karena didesak oleh Werkudara, Wisanggeni, dan Antasena, terpaksa Bagong ikut andil dalam usaha balas dendam. Kemudian mereka (termasuk Bagong) berubah menjadi seekor gajah bernama Tridaya yang akhirnya berhasil ngobrak-abrik Kayangan.

g. Al Ridla

Ridha atau rela seringkali diartikan sebagai tidak menentang qada dan qadar Allah. Menerima qada dan qadarNya dengan senang hati. Panakawan adalah para abdi yang selalu ridha ataupun rela terhadap apa yang terjadi pada diri mereka. Mereka senantiasa peduli terhadap kebenaran dan ikut menemani bendara berjuang menegakkan kebenaran dan keadilan. Mereka ridha bila harus mengorbankan harta benda, bahkan mereka ridha bila harus mengorbankan nyawa.

Dalam ajaran islam, orang ridha adalah yang sesuai dengan penjelasan pada ayat berikut:

Jikalau mereka sungguh-sungguh ridha dengan apa yang diberikan Allah dan RasulNya kepada mereka, dan berkata:”Cukuplah Allah bagi kami, Allah akan memberikan sebagian dari karunia-Nya dan demikian (pula) Rasul-Nya, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah,”(tentulah yang demikian itu lebih baik bagi mereka).”(at Taubah: 59).



[1] Sebuah karya seni dapat mencapai prestasi ke-Maha karyaan karena:

a. Manusia pelaku (seniman) nya dalam hal: bakat, motivasi dan kondisi mentalnya yang menguntungkan.

b. Suasana yang mendukung, misalnya suasana/iklim yang diciptakan oleh dunia kesenimanannya (apresiasi, kritik, masukan-masukan dari sponsor/dinamisatornya, dll).

c. Bahan-bahan pembuatannya: baik kualitas maupun kuantitasnya

d. Unsur keberuntungan.

e. Sarat dengan muatan religi, spiritualisme, edukasi, moralitas/tata nilai, dan sebagainya.

f. dll.

[2] Drs. Ridin sofwan, M.Pd, dkk, Merumuskan Kembali Interelasi Islam-Jawa (Yogyakarta: Gama Media, 2004), hlm 79.

[3] Lihat, Dr. Purwadi, M. Hum, Seni Pedhalangan Wayang Purwa (Yogyakarta: Panji Pustaka Yogyakarta), hlm 261.

[4] Untuk lebih jelasnya, lihat Woro Aryandini, S., Citra Bima dalam Kebudayaan Jawa (jakarta: UI Press, 2000), hlm 46.

[5] Lihat, Asmoro Achmadi, Filsafat dan Kebudayaan Jawa: Upaya Membangun Keselarasan Islam dan Budaya Jawa (Surakarta: CV. Cendrawasih, 2004), hlm 35.

[6] Ciri umum wayang adalah penokohan dan settingnya berpedoman kepada dua epos besar India yaitu Ramayana dan Mahabarata. Lebih lanjut bisa lihat, Wawan Susetya, Bharatayuda: Ajaran, Simbolisasi, Filosofi, dan Maknanya Bagi Kehidupan Sehari-Hari (Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2007).

[7] Alasan lain wayang merupakan kesenian adiluhung adalah karena kemampuannya mengantisipasi perkembangan zaman.

[8] Lihat, Dr. Purwadi, M. Hum, Seni Pedhalangan Wayang Purwa (Yogyakarta: Panji Pustaka Yogyakarta), hlm 35.

[9] Kemampuan sabetan adalah kemampuan untuk menggerakkan wayang kulit, entah ketika adegan berjoget, perang, atau jejeran biasa.

[10] Ibid., hlm 39.

[11] Lihat, Wawan Susetya, Dari Ilmu Hastha Brata Sampai Sastra Jendra Hayuningrat; Menguak Ilmu Makrifat dan Simbolisasi Perwatakan dalam Khazanah Pewayangan (Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2006), hlm xvi-xviii.

[12] Lihat, Haryanto, Pratiwimba Adiluhung Sejarah dan Perkembangan Wayang (Jakarta: Djambatan, 1992), hlm 158.

[13] Pertunjukan wayang termasuk sebuah pertunjukan yang bersifat dramatik karena menonjolkan dramatisasi, sebuah drama atau tontonan yang para aktornya terdiri dari boneka atau manusia. Dengan demikian, kata wayang berarti sebuah permainan boneka yang memunculkan bayangan atau sebuah pementasan atau pergelaran bayangan. Lebih lanjutnya lihat, Dr. Purwadi, M.Hum, Seni Pedhalangan Wayang Purwa (Yogyakarta, Panji Pustaka, 2007), hlm 3.

[14] Lebih lanjut lihat makalahnya, Darmoko, WAYANG DAN NEGARA; Sebuah Tinjauan Simbolik Ideologi-Politik (Universitas Indonesia). dipresentasikan dalam “Persidangan 50 Tahun Merdeka Hubungan Malaysia dan Indonesia” pada tanggal 17-21 Juli 2007 di Universiti Malaya, Malaysia.

[15] Wayang Kancil yakni salah satu jenis wayang yang tumbuh dan berkembang di Jawa, disajikan dengan menggunakan bahasa Jawa, mengambil kisah dari dongeng Kancil/Pelanduk, boneka-boneka wayang terbuat dari kulit Kerbau, dan diiringi instrumen gamelan.

[16] Wayang Suluh yakni jenis wayang yang tumbuh dan berkembang pada masa pemerintahan Presiden Soekarno, diciptakan dengan maksud sebagai media penerangan rakyat.

[17] Wayang Krucil yakni jenis wayang yang tumbuh dan berkembang di Jawa Timur; untuk di Jawa Tengah bernama wayang Klithik. Wayang ini menyajikan kisah Damarwulan-Menakjingga dan boneka wayang terbuat dari kayu yang pipih.

[18] Wayang Madya yakni jenis wayang yang tumbuh dan berkembang di Jawa Tengah; mengambil kisah pada masa Kadiri. Madya artinya pertengahan, jadi kisah ini setelah kisah purwa/permulaan dan sebelum kisah wasana/ akhir. Dalam tradisi pewayangan dan pedalangan Jawa setelah raja Astina, Parikesit meninggal, berakhirlah masa Purwa dan berganti masa Madya.

[19] Wayang Golek Menak yakni jenis wayang yang tumbuh dan berkembang di Jawa Tengah terutama di Kebumen dan sekitarnya. Kisah yang dipergelarkan dalam pertunjukan wayang ini bersifat ke-Islaman yakni tentang perjalanan tokoh utama Amir Hamzah.

[20] Wayang Sadat yakni jenis wayang yang tumbuh dan berkembang di Jawa Tengah, disajikan dengan maksud untuk menyebarkan agama Islam. Sadat berarti syahadat, suatu kesaksian seseorang untuk masuk agama Islam. Wayang ini mempergelarkan kisah perjuangan para wali dalam berdakwah di Jawa (Sunan Kalijaga, Sunan Bonang, Sunan Muria, Sunan Drajat, Sunan Kudus, Sunan Gunungjati, Sunan Ampel, Sunan Giri, dan Maulana Malik Ibrahim) dan boneka-boneka wayang terbuat dari kulit kerbau.

[21] Wayang Wahyu yakni jenis wayang yang tumbuh dan berkembang di Jawa; dipergelarkan dengan maksud untuk menyebarkan ajaran agama Katholik dan mengambil kisah dari kitab Injil.

[22] Wayang Parwa yakni jenis wayang yang tumbuh dan berkembang di Bali; mempergunakan bahasa Bali dan kisah yang dipergelarkan Mahabharata dan Ramayana; boneka-boneka wayang terbuat dari kulit kerba; menggunakan 4 instrumen gamelan (gender).

[23] Wayang Banjar yakni jenis wayang yang tumbuh dan berkembang di daerah Banjar (Kalimantan Selatan). Kisah yang dipergelarkan yakni purwa/awal zaman terutama Mahabharata; boneka-boneka wayang terbuat dari kulit kerbau.

[24] Wayang Sasak yakni jenis wayang yang tumbuh dan berkembang di daerah Sasak (Lombok, Nusa Tenggara Barat). Kisah yang dipergelarkan yakni tentang perjalanan tokoh utama Amir Hamzah; dan boneka-boneka wayang terbuat dari kulit kerbau.

[25] Asmoro Achmadi, Filsafat Kebudayaan Jawa: Upaya Mebangun Keselarasan Islam dan Budaya Jawa (Surakarta: CV. Cendrawasih, 2004) hlm 59.

[26] Wayang bisa dikatakan sebagai teater total. lakon wayang digelar dalam pentas total, utamanya ketotalan kualitatif yang dinyatakan dalam bentuk lambang-lambang. Ceritera wayang dan semua peralatannya secara efektif mengekpresikan keseluruhan hidup manusia. Penonton disuguhi hiburan yang menarik, juga diajak untuk berfikir dengan kemampuan penalaran, rasa sosial dan filosofis. Karena memang pergelaran wayang itu merupakan suatu gambaran perjalanan kerohanian guna memahami hakekat hidup serta proses mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa.

[27] Drs. Ridin sofwan, M.Pd, dkk, Merumuskan Kembali Interelasi Islam-Jawa (Yogyakarta: Gama Media, 2004), hlm 80.

[28] Lebih lengkapnya baca, Sumantri Sumasaputra, Serat Saking Pakeliran Pedhalangan Ringgit Purwa Filsafat (Yogyakarta: Karya Rencana, 1953), hlm 119.

[29] Lihat, Serat Bimapaksa (1953), hlm 39-40. Atau bisa juga lihat, Heniy Astiyanto, SH, Filsafat Jawa: Menggali Butiran-Butiran Kearifan Lokal (Yogyakarta: Warta Pustaka, 2006), hlm 414 - 415.

[30] Heniy Astiyanto, SH, Filsafat Jawa: Menggali Butiran-Butiran Kearifan Lokal (Yogyakarta: Warta Pustaka, 2006), hlm 327.

[31] Soebardi, The Book of Cebolek (Leiden: The Haque Martinus Nijhoff, 1975), hlm48-52.

[32] Effendi Zarkasi, Nilai Islam dalam Pewayangan (Jakarta: Depag, 1977), hlm 91.

[33] Warih Jatirahayu dan Suwarna Pringgawidagda. Mutyara Rinonce: Budi Pekerti Ing Pewayangan (Jakarta:Ditjen Dikdasmen, 2000), hlm 126.

[34] Ibid., hlm 29.

[35] Ibid., hlm 83.

[36] Ibid., hlm 68.

[37] Baca, Dr. Kanti Walujo, M.si., Dunia Wayang: Nilai Estetika, Sakralitas, dan Ajaran Hidup (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2000), hlm x-xi.

[38] Tim Penyusun Balai bahasa Yogyakarta, Kamus Besar Bahasa Jawa (Yogyakarta: Kanisius, 2001), hlm 844.

[39] Zoetmulder, Kalangwan: Sastra Jawa Kuna (Jakarta: Djambatan, 1985), hlm 262.

[40] Sri Suryawisesa adalah nama lain dari Raden Panji Rawisrengga. Ia adalah putra mahkota kerajaan Jenggala. Ayahnya bernama Sri Lembuami.

[41] Setelah Sri Suryawisesa wafat, anaknya yang bernama Raden Kudalaleyan (Suryaamiluhur) juga ikut menyempurnakan kesenian wayang. Hanya kontribusi yang ia berikan tidak sebanyak seperti apa yang telah diberikan ayahnya. Ia hanya memindahkan gambar-gambar wayang yang semula dari daun lontar menjadi dari kertas. Dan ia tidak merubah bentuk yang sudah ada.

[42] Lihat, Effendi Zarkasi, Nilai Islam dalam Pewayangan (Jakarta: Departemen Agama, 1977), hlm27.

[43] Falsafah inilah yang sebenarnya menumbuhkan nilai-nilai moral untuk seterusnya menjiwai dan mewarnai estetikanya, sehingga wayang bisa menjadi sajian seni yang indah. Seni “adiluhung” maksudnya memiliki mutu seni yang tinggi serta mengandung falsafah yang berharga.

[44] Drs. Ridin sofwan, M.Pd, dkk, Merumuskan Kembali Interelasi Islam-Jawa (Yogyakarta: Gama Media, 2004), hlm 80.

[45] Teguh, M. Ag., Moral Islam dalam Lakon Bima Suci (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007), hlm 98.

[46] Ibid., hlm 99.

[47] Ibid., hlm 99.

[48] Ibid., hlm 99.

[49] Lihat, Ustadz Labib Mz, Ajaran tashawwuf dan Thariqot: Kehidupan Para Sufi (Surabaya: Bintang Usaha jaya), hlm27-28).

[50] Achmad Faizur Rasyad, Mengenal Alam Suci: Menapak Jejak Al-Ghazali (Yogyakarta: Kutub, 2004), hlm 6-7.

[51] Teguh, M. Ag., Moral Islam dalam Lakon Bima Suci (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007), hlm 97.

[52] Menurut Ibn Arabi Wujud (Yang Ada) itu hanya satu. Wujudnya makhluk adalah `ain ujud Khaliq. Pada hakekatnya tidaklah ada pemisah di antara manusia dan Tuhan. Tidak ada pula perbedaan antara makhluk dengan Tuhan, perbedaannya hanya pada sisi rupa dan ragam sedangkan esensi dan hakekatnya sama. Ajaran Ibn Arabi ini terlihat jelas pada salah satu syairnya:

Hamba adalah Tuhan dan Tuhan adalah Hamba

Demi syu`urku siapakah yang mukallaf

Kalau engkau katakan

Hamba, padahal dia Tuhan

Atau engkau kata Tuhan, yang mana yang diperintah?

[53] Heniy Astiyanto, SH, Filsafat Jawa: Menggali Butiran-Butiran Kearifan Lokal (Yogyakarta: Warta Pustaka, 2006), hlm V.

[54] Asmoro Achmadi, Filsafat Kebudayaan Jawa: Upaya Membangun Keselarasan Islam dan Budaya Jawa (Surakarta: CV. Cendrawasih, 2004) hlm 76.

[55]Risalah Fi Tahqiqi At-Tawakkul, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hlm. 87.

[56]Heniy Astiyanto, SH, Filsafat Jawa: Menggali Butiran-Butiran Kearifan Lokal (Yogyakarta: Warta Pustaka, 2006), hlm 347.

[57] Ibid., hlm 347.

[58] Prof. Dr. Azhar Arsyad, Bahasa Arab dan Metode Pengajarannya (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), hlm74.

[59] Pusat Bahasa Dep. P & K, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Cet I (Jakarta: Balai Pustaka, 1978), hlm 263.

[60] Lihat, Dr. Anwar Harjono, SH. Dkk, Pemikiran dan Perjuangan Muhammad Natsir (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1996), hlm 85.

[61] Lihat, Dr. Sutrisno, M. Ag., Pendidikan Islam yang Menghidupkan; Studi Kritis Terhadap Pemikiran Fazlur Rahman (Yogyakarta: Kota Kembang, 2006), hlm 52 dan 55.

[62] Dr. Purwadi, M. Hum, Filsafat Jawa: Refleksi Butir-Butir kebijaksanaan Hidup Untuk Mencapai Kesempurnaan Lahir Batin (Yogyakarta: Cipta Pustaka, 2007), hml v.

[63] Asmoro Achmadi, Filsafat Kebudayaan Jawa: Upaya Mebangun Keselarasan Islam dan Budaya Jawa (Surakarta: CV. Cendrawasih, 2004) hlm 68.

[64] Lihat, Dr. Purwadi, M. Hum, Filsafat Jawa (Yogyakarta: Cipta Pustaka, 2007), hlm 109.

[65] Ibid., hlm111.

[66] Lihat, Serat Panitisastra.

[67] Heniy Astiyanto, SH, Filsafat Jawa: Menggali Butiran-Butiran Kearifan Lokal (Yogyakarta: Warta Pustaka, 2006), hlm 231.

[68] Dalam agama Budha dikenal akan dasa darma narendra yang harus ada pada diri seorang pemimpin:

1. Paricaga (rela berkorban).

2. Ajava (berhati tulus).

3. Dana (gemar berdana dan beramal).

4. Tapa (hidup bersahaja).

5. Susila (memiliki moralitas yang tinggi).

6. Madava (berperilaku ramah tamah).

7. Akhodha (tidak mudah marah dan berdendam).

8. Khanti (mempunyai kesabaran).

9. Avirodhana (tidak suka mencari permusuhan).

10. Avihimsa (tidak bersikap kejam).

Bisa juga dilihat dalam, Dr. Purwadi, M. Hum, Filsafat Jawa (Yogyakarta: Cipta Pustaka, 2007).

[69] Lihat, Dr. Purwadi, Membaca Sasmita Jaman edan Sosiologi Mistik R. NG. Ronggowarsito (Yogyakarta: Persada, 2003), hlm 99-100.

[70] Maksudnya: apabila kamu tidak dapat melaksanakan perintah Allah seperti yang tersebut dalam ayat 26 Surat Al Israa (Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros”), maka katakanlah kepada mereka perkataan yang baik agar mereka tidak kecewa lantaran mereka belum mendapat bantuan dari kamu. Dalam pada itu kamu berusaha untuk mendapat rezki (rahmat) dari Tuhanmu, sehingga kamu dapat memberikan kepada mereka hak-hak mereka.

[71] Aji Adityaherdaya ini merupakan aji-aji yang diperoleh Kunthi dari belajar ilmu kadigdayan kepada Resi Durwasa.

[72] Lihat, dr Robert Valentino Tarigan, SPd, dalam artikelnya berjudul Budaya Jawa Di Tengah Arus Globalisasi.

[73] Lihat, Budiono Hadi Sutrisno, Sejarah Walisongo: Misi Pengislaman di Jawa (Yogyakarta: Media Pustaka, 2007), hlm 181.

[74] Heniy Astiyanto, SH, Filsafat Jawa: Menggali Butiran-Butiran Kearifan Lokal (Yogyakarta: Warta Pustaka, 2006), hlm 354.

[75] Lihat kembali, Teguh, M.Ag.

[76] Lihat, Dr. Purwadi, M. Hum, Filsafat Jawa (Yogyakarta: Cipta Pustaka, 2007), hlm 41-42.

[77] Heniy Astiyanto, SH, Filsafat Jawa: Menggali Butiran-Butiran Kearifan Lokal (Yogyakarta: Warta Pustaka, 2006), hlm 353.

[78] Drs. Ridin sofwan, M.Pd, dkk, Merumuskan Kembali Interelasi Islam-Jawa (Yogyakarta: Gama Media, 2004), hlm xii.

[79] Kejawaan adalah elemen dasar yang membentuk “kosmos” masyarakat jawa. Unsur-unsur kejawaan dibangun lewat percampuran antar pelbagai elemen yang juga datang dari luar. Di sini persoalan yang lain dalam kebudayaan jawa menjadi soal yang rumit, karena amat sukar mengatakan bahwa ada unsur-unsur yang benar-benar bisa diandaikan sebagai asli dalam masyarakat jawa.

[80] Lihat, Drs. Radjasa, M. Si., dkk, Bahan Ajar Islam dan Budaya Lokal (Yogyakarta: UIN SUKA, 2005), hlm 18.

[81] Secara umum, usaha-usaha yang dilakukan Walisongo dan ulama-ulama islam waktu itu untuk memepertahankan dan memperbaharui kesenian wayang adalah sebagai berikut:

1. Sunan Kalijaga mengubah sarana pertunjukan yang awalnya dari kayu kini terdiri dari batang pisang, blencong, kotak wayang, dan gunungan.

2. Raden Patah menambahkan tokoh gajah dan wayang prampogan

3. pada masa sultan Trenggana bentuk wayang semakin dipermanis lagi. Mata, mulut, dan telinga mulai ditatahkan

4. Sunan Bonang menyusun struktur dramatika-nya

5. Sunan Prawata menambahkan tokoh raksasa dan kera dan juga menambahkan beberapa skenario cerita

6. Sunan Kudus ditugaskan untuk mendhalang.

Diceritakan pula, bahwa Sunan Kalijaga adalah seorang dhalang wayang purwa. Ia terkenal sebagai dhalang wayang kulit yang sangat menarik. Bila Sunan Kalijaga pentas di suatu desa, penonton berjubel-jubel memadati halaman. Pentas wayang Sunan Kalijaga adalah dalam rangka mendakwahkan islam. Ia tidak pernah menarik bayaran materi. Sebagai bayarannya ia mengajak kepada seluruh hadirin untuk bersyahadat mengucapkan sumpah pengakuan bahwa tiada Tuhan selain Allah dan mengakui Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah. Untuk lebih lengkapnya lihat, Budiono Hadi Sutrisno, Sejarah Walisongo, Misi Pengislaman di Jawa (Yogyakarta: Grha Pustaka, 2007), hlm 205-206.

[82] Diceritakan pula, bahwa dalam setiap pertunjukan wayang, Walisongo menggunakan masjid sebagai tempat pertunjukan. Di sekelilingnya dibuatkan parit yang berair jernih. Gunanya untuk melatih para penonton untuk wisuh atau mencuci kaki mereka sebelum masuk masjid. Simbolisasi dari wudu yang disampaikan secara baik.

[83] Untuk lebih jelasnya silahkan lihat, Drs. Marbangun Hardjowirogo, Manusia Jawa (Jakarta: Yayasan Idayu, 1993).

[84] Dalam pewayangan, kehadiran Panakawan yaitu pada saat goro-goro. Goro-goro menurut falsafah pewayangan merupakan saat-saat di mana orang-orang membuka tabir kesalahan. Sehingga yang salah terlihat kesalahannya dan yang benar terlihat kebenarannya.

[85] Maksudnya mengerti keadaan tuannya. Sehingga mereka dapat menjadi teman sejati, yaitu teman yang selalu mendampingi tuannya ketika senang ataupun susah. Dalam filsafat jawa dikatakan bahwa Panakawan adalah: pamomong sing dadi kancane para satriya, sing ngerti marang bot kerepotaning bendara, tansah atur panglipur yen bendara lagi sedhih, atur wewarah yen lagi susah. Panakawan iku minangka sasmita watak kang bisa momong, momot, momor, mursid, lan murakabi. Momong tegese bisa ngemong marang sapa wae. Momot bisa ngemot wadining wong liya. Momor tegese ora gampang ugungan yen dialem, ora gampang runtik yen dicacat. Mursid tegese pinter. Murakabi tegese uripe bisa migunani tumrap wong liya. Bisa dilihat dalam, Warih Jatirahayu dan Suwarna Pringgawidagda, Mutyara Rinonce Budi pekerti Ing Pewayangan (Ditjen Dikdasmen, 2000).

[86] Drs. Ridin sofwan, M.Pd, dkk, Merumuskan Kembali Interelasi Islam-Jawa (Yogyakarta: Gama Media, 2004), hlm 85.

[87] Lihat, Dr. Purwadi, M. Hum, Seni Pedhalangan Wayang Purwa (Yogyakarta: Panji Pustaka Yogyakarta), hlm 256-257.

[88] Dengan kata lain, Semar dan anak-anaknya menyertai kebenaran sedangkan Togok dan Belung menyertai kejahatan.

[89] Dewi Rekatawati sebenarnya merupakan anak dari kepiting raksasa bernama Rekata, maka ia bertelur.

[90] Karang= gersang, dempel= keteguhan jiwa.

[91] Teguh, M. Ag., Moral Islam dalam Lakon Bima Suci (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007), hlm 70.

[92] Lihat, Drs. M. Yatimin Abdullah, M.A., Studi Islam Kontemporer (Jakarta: AMZAH, 2006), hlm 108.

[93] Ibid., hlm 39.

[94] Teguh, M. Ag., Moral Islam dalam Lakon Bima Suci (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007), hlm 71.

[95] M. Quraish Shihab, Wawasan Al Quran…, hlm. 12-13. Lihat juga Muhammad Rasyid Ridha, al-Wahy al-Muhammadi, Kairo: Maktabah al Qahirah, 1960/1380 H, hlm 126-128.

[96] Secara leksikal berarti orang-orang yang dianggap lemah dan rendah oleh orang kuat sehingga orang-orang kuat ini menindas dan berbuat sewenang-wenang terhadap mereka. Baca, Abad Badruzaman, Teologi kaum Tertindas, Kajian Tematik Ayat-Ayat Mustadh`afin dengan Pendekatan Keindonesiaan (Yogyakarta: Pustaka Pelajar), hlm 6.

[97] Teguh, M. Ag., Moral Islam dalam Lakon Bima Suci (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007), hlm 41.

[98] Ibid., hlm 42.

[99] Ibid., hlm 41.

[100] Kerbau yang tolol atau dungu biasanya membuat orang tertawa terpingkal-pingkal. Karena itu Petruk juga merupakan Panakawan yang pandai melucu (humoris).

[101] Ihdina (tunjukilah kami), dari kata hidayaat: memberi petunjuk ke suatu jalan yang benar. Yang dimaksud dengan ayat ini bukan sekedar memberi hidayah saja, tetapi juga memberi taufik. Dan yang dimaksud dengan mereka yang dimurkai dan mereka yang sesat ialah semua golongan yang menyimpang dari ajaran Islam.

Hidayah Allah itu ada bermacam-macam bentuknya. Di antaranya:

1. Hidayah dalam bentuk ilham.

2. Hidayah kepada panca indra.

3. Hidayah kepada akal.

4. Hidayah berupa agama dan syariat.

[102] Lebih jelasnya lihat, Ahmad Musthafa Al-Maraghi, Tafsir Al Maraghi Juz I (Mesir: Mustafa Al-Babi Al-Halabi, 1394H/1974 M).

[103]Amarah adalah nafsu yang mendorong ke arah kejahatan dan membawa ke lembah kesengsaraan. Sufiyah adalah nafsu keinginan, sengsem. Lauamah adalah nafsu yang pada dasarnya dapat mendorong ke arah kebaikan dan membawa ke syurga, tetapi suatu saat karena lalai ia terjerumus kepada kejahatan dan perbuatan dosa. Mutmainah adalah nafsu yang mendorong pemiliknya memiliki ketenangan dan selalu mengarah kepada kebaikan dan membawa ke syurga.

[104] Lihat, Syekh Ahmad Atailah, Mutu Manikam dari Kitab al Hikam (Surabaya: Mutiara Ilmu, 1995), hlm 134.

[105] Lihat, Wawan Susetya, Dari Ilmu Hastha Brata Sampai Sastra jendra Hayuningrat: Menguak Ilmu Makrifat dan Simbolisasi Perwatakan dalam Khazanah Pewayangan (Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2006), hlm 27.

[106] Teguh, M. Ag., Moral Islam dalam Lakon Bima Suci (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007), hlm 43.

[107] Lihat, Syekh Ahmad Atailah, Mutu Manikam dari Kitab Al Hikam (Surabaya: Mutiara Ilmu, 1995), hlm 14.

[108] Lihat, Budiono Hadi Sutrisno, Sejarah Walisongo; Misi Pengislaman di Jawa (Yogyakarta: Grha Pustaka, 2007), hlm180-181.

[109] Lihat, Drs. Djoko Dwiyanto, M. Hum., Serat Pustaka Rojo Purwa (Yogyakarta: Pura Pustaka, 2006), hlm 337.

[110] Lihat, Soemarsaid Moertono, Negara dan Usaha Bina-Negara di Jawa Masa Lampau (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1985), hlm 32.

[111] Lihat, Drs. Samsul Munir Amin, M.A., Rekonstruksi Pemikiran Dakwah Islam (Jakarta: AMZAH, 2008), hlm 8.

[112] Lihat, Ibnu Miskawaih, Tahzib al-Akhlaq wa Tathhir al-A`raq (Mesir: al-Mathba`ah al-Mishriyah, 1934), cet I, hlm 40.

[113] Lebih lengkapnya lihat, Prof. Dr. H. Abuddin Nata, M. A., Akhlak Tasawuf (Jakarta: PT Rajagrafindo Persada: 2006).

[114] Maqamat adalah Jalan panjang yang harus ditempuh oleh seorang sufi untuk berada dekat dengan Allah. Ibid., hlm 193.

[115] Lihat, Harun Nasution, Falsafah dan Mistisisme dalam Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 1983), cet III, hlm 64.

[116] Achmad Faizur Rasyad, Mengenal Alam Suci: Menapak Jejak Al-Ghazali (Yogyakarta: Kutub, 2004), hlm 6-7.

[117] Lihat, al- Qusyairi al Naisabury, al Risalah al Qusyairiyah fi ilm al Tasawwuf (Mesir: Dar al Khair, t.t.), hlm 184.

[118] Lihat, Harun Nasution, Falsafah dan Mistisisme dalam Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 1983), hlm 67.

[119] Ibid., hlm 67.

[120] Ibid., hlm 68.